Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGGUNAKAN Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para astronom menemukan bukti awal keberadaan “bintang monster” mirip dinosaurus yang diyakini hidup tak lama setelah Dentuman Besar (Big Bang). Bintang-bintang purba ini diperkirakan memiliki massa ekstrem, mencapai hingga 10.000 kali massa Matahari, menjadikannya salah satu objek paling masif yang pernah ada di alam semesta.
Seperti halnya dinosaurus di Bumi, bintang-bintang raksasa ini kini sudah punah. Namun, alam semesta masih menyimpan “fosil kosmik” peninggalan mereka, berupa lubang hitam. Konfirmasi bintang-bintang bermassa sangat besar ini pernah ada di alam semesta awal diyakini dapat membantu menjelaskan bagaimana lubang hitam supermasif mampu tumbuh hingga bermassa jutaan kali Matahari, bahkan ketika usia alam semesta belum mencapai satu miliar tahun.
Bukti awal tersebut diperoleh ketika tim astronom meneliti komposisi kimia sebuah galaksi bernama GS 3073. Galaksi ini berada sekitar 12,7 miliar tahun cahaya dari Bumi dan terlihat sebagaimana keadaannya sekitar 1,1 miliar tahun setelah Big Bang. Petunjuk kunci yang ditemukan adalah ketidakseimbangan rasio nitrogen dan oksigen yang tidak dapat dijelaskan oleh jenis bintang mana pun yang telah dikenal sebelumnya.
“Penemuan terbaru kami membantu memecahkan misteri kosmik selama 20 tahun. Dengan GS 3073, kami memiliki bukti observasional pertama bahwa bintang monster ini benar-benar pernah ada,” kata anggota tim Daniel Whalen dari University of Portsmouth, Inggris. Ia menambahkan, “Raksasa kosmik ini bersinar terang dalam waktu singkat sebelum runtuh menjadi lubang hitam masif, meninggalkan jejak kimia yang masih dapat kita deteksi miliaran tahun kemudian. Sedikit seperti dinosaurus di Bumi, mereka sangat besar dan primitif. Dan mereka hidup singkat, hanya sekitar seperempat juta tahun, sekejap mata dalam skala kosmik.”
Analisis menunjukkan galaksi GS 3073 memiliki rasio nitrogen terhadap oksigen sebesar 0,46, jauh lebih tinggi dari yang bisa dihasilkan oleh bintang biasa atau ledakan supernova yang telah diketahui. “Kelimpahan kimia bertindak seperti sidik jari kosmik, dan pola di GS 3073 tidak seperti apa pun yang dapat dihasilkan bintang biasa,” ujar Devesh Nandal dari Center for Astrophysics Harvard & Smithsonian. “Nitrogen ekstrem ini hanya cocok dengan satu sumber yang kami kenal, bintang purba bermassa ribuan kali Matahari.”
Berdasarkan pemodelan, bintang-bintang raksasa ini menghasilkan nitrogen dalam jumlah besar melalui proses fusi khusus, sebelum akhirnya runtuh langsung menjadi lubang hitam tanpa ledakan supernova. Mekanisme ini memungkinkan terbentuknya lubang hitam bermassa sangat besar sejak awal, memberi “awal yang sangat menguntungkan” bagi pertumbuhan lubang hitam supermasif.
Penelitian ini juga mencatat adanya lubang hitam supermasif aktif di pusat GS 3073, yang diduga merupakan hasil penggabungan lubang hitam dari bintang-bintang monster tersebut. Ke depan, tim peneliti akan mencari galaksi purba lain yang kaya nitrogen untuk memperkuat bukti keberadaan bintang-bintang raksasa ini. Hasil riset ini dipublikasikan pada November di The Astrophysical Journal Letters. (Space/Z-2)
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Para astronom menjelaskan bahwa gerhana Matahari bukanlah peristiwa acak, melainkan fenomena yang dapat diprediksi secara ilmiah melalui perhitungan orbit Bulan dan Bumi.
Gerhana Matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Fenomena ring of fire ini hanya terlihat sempurna di Antartika dan tidak dapat diamati dari Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved