Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

AI ASTERIS: Terobosan Peneliti Tiongkok Temukan Galaksi Pasca-Big Bang

Abi Rama
25/2/2026 00:37
AI ASTERIS: Terobosan Peneliti Tiongkok Temukan Galaksi Pasca-Big Bang
Ilustrasi, kecerdasan buatan (AI).(Dok. Freepik)

DUNIA astronomi kembali diguncang oleh terobosan teknologi terbaru dari Tiongkok. Tim peneliti lintas disiplin dari Universitas Tsinghua berhasil mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) revolusioner bernama Astronomical Spatiotemporal Enhancement and Reconstruction for Image Synthesis (ASTERIS). Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi galaksi yang terbentuk hanya 200 juta tahun setelah peristiwa Big Bang.

Lompatan Besar dalam Pencitraan Luar Angkasa

Melalui publikasi terbaru di jurnal ilmiah Science, model ASTERIS terbukti mampu mengekstraksi sinyal astronomi yang sangat lemah dari kedalaman lebih dari 13 miliar tahun cahaya. Dengan menggabungkan optik komputasional dan algoritma AI canggih, sistem ini mampu menghasilkan citra ruang angkasa terdalam yang pernah dibuat.

Associate professor Departemen Astronomi Tsinghua, Cai Zheng, menyatakan bahwa peningkatan kemampuan ini membuka peluang baru yang belum pernah ada sebelumnya dalam studi evolusi awal alam semesta.

Mempertajam Jangkauan James Webb Space Telescope (JWST)

Penerapan teknik self-supervised spatiotemporal denoising dari ASTERIS pada data teleskop luar angkasa James Webb telah memberikan hasil yang signifikan. AI ini memperluas cakupan pengamatan mulai dari cahaya tampak (500 nanometer) hingga inframerah menengah (5 mikrometer).

Berikut adalah beberapa poin keunggulan teknis ASTERIS dalam pengamatan luar angkasa:

  • Peningkatan Magnitudo: Meningkatkan kedalaman deteksi sebesar 1,0 magnitudo.
  • Sensitivitas Cahaya: Mampu mendeteksi objek yang 2,5 kali lebih redup dibandingkan metode konvensional.
  • Efisiensi Data: Berhasil mengidentifikasi lebih dari 160 kandidat galaksi dari periode Cosmic Dawn (200-500 juta tahun pasca-Big Bang).
  • Output Maksimal: Menghasilkan temuan tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan metode biasa pada area observasi yang sama.

Mengatasi Tantangan Derau Kosmik dengan Rekonstruksi 3D

Mengamati objek yang sangat jauh sering kali terkendala oleh derau kosmik dan radiasi termal teleskop yang menutupi sinyal asli. Berbeda dengan teknik tradisional yang mengandalkan penumpukan eksposur (stacking) dan menganggap derau bersifat seragam, ASTERIS menggunakan pendekatan yang lebih dinamis.

Model ini memandang derau sebagai fenomena yang bervariasi secara waktu dan ruang, kemudian merekonstruksi citra ruang angkasa sebagai volume spasiotemporal tiga dimensi (3D). Melalui mekanisme penyaringan adaptif fotometrik, ASTERIS dapat mengidentifikasi fluktuasi derau halus dan membedakannya dari sinyal lemah bintang atau galaksi jauh.

Profesor Departemen Otomasi Tsinghua, Dai Qionghai, menyebutkan bahwa objek-objek redup yang sebelumnya tertutup gangguan cahaya kini dapat direkonstruksi dengan tingkat akurasi tinggi.

Potensi Platform Universal untuk Masa Depan Astronomi

Keunggulan utama lainnya dari ASTERIS adalah sifatnya yang kompatibel dengan berbagai platform observasi. AI ini mampu mengolah data teleskop ruang angkasa dalam jumlah besar secara efisien, menjadikannya kandidat kuat sebagai platform peningkatan data ruang angkasa universal.

Ke depan, teknologi ini diperkirakan akan diterapkan pada teleskop generasi berikutnya untuk membantu menjawab pertanyaan ilmiah utama, mulai dari misteri energi gelap (dark energy), materi gelap (dark matter), asal-usul kosmik, hingga penelitian mendalam mengenai eksoplanet.

Peninjau studi dalam jurnal Science juga memberikan apresiasi tinggi, menilai penelitian ini sangat relevan dan berpotensi memberikan dampak besar secara global di bidang astronomi dan astrofisika. (AntH-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya