Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, para astronom terjebak dalam perdebatan sengit mengenai seberapa cepat alam semesta kita mengembang. Namun, dua penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics menawarkan sudut pandang baru yang mengejutkan, alam semesta lokal kita mungkin mengembang lebih lambat dari yang kita duga selama ini.
Temuan ini berpotensi menyelesaikan salah satu masalah paling membingungkan dalam kosmologi modern yang dikenal sebagai "Hubble Tension" atau Tegangan Hubble.
Inti masalahnya terletak pada angka yang disebut Konstanta Hubble, laju kecepatan ekspansi alam semesta. Selama ini, ada perbedaan hasil yang mencolok antara dua metode pengukuran utama:
Ketidakkonsistenan ini membuat para ilmuwan pusing. Jika kedua metode itu akurat tetapi hasilnya berbeda, berarti ada sesuatu yang salah atau hilang dalam pemahaman kita tentang fisika alam semesta.
Alih-alih menggunakan supernova atau cahaya purba, tim peneliti mencoba metode ketiga. Mereka menganalisis pergerakan dua kelompok galaksi tetangga: kelompok Centaurus A dan kelompok M81.
Galaksi-galaksi dalam kelompok ini berada dalam kondisi "tarik-menarik". Di satu sisi, mereka terikat oleh gravitasi satu sama lain; di sisi lain, mereka saling menjauh akibat aliran kosmik, yaitu peregangan ruang angkasa itu sendiri.
Hasilnya mengejutkan. Pengukuran pada kelompok galaksi ini menunjukkan angka Konstanta Hubble sebesar 64 km/s/Mpc. Angka ini jauh lebih rendah daripada estimasi sebelumnya dan justru lebih mendekati prediksi model standar yang didasarkan pada data CMB.
Selain soal kecepatan ekspansi, studi ini juga menyenggol teori "Materi Gelap". Simulasi kosmik biasanya memprediksi kelompok galaksi harus tertanam dalam "halo" materi gelap yang sangat besar untuk menjaga keutuhannya.
Namun, penelitian ini menemukan massa dari galaksi-galaksi paling terang dalam kelompok tersebut sudah cukup untuk menjelaskan dinamika pergerakan yang ada. Ini mengisyaratkan kita mungkin membutuhkan lebih sedikit materi gelap daripada yang diperkirakan sebelumnya untuk menjelaskan cara kerja alam semesta.
Meski temuan ini sangat menarik, para peneliti mengakui bahwa jalan masih panjang. Metode ini baru diterapkan pada dua kelompok galaksi lokal.
"Tegangan Hubble kemungkinan besar masih akan menjadi 'sakit kepala' bagi para astronom untuk sementara waktu," ungkap tim peneliti dalam laporannya.
Langkah selanjutnya adalah menerapkan teknik ini ke wilayah ruang angkasa yang lebih luas. Data baru dari 4-meter Multi-Object Spectroscopic Telescope (4MOST) di masa depan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih pasti apakah teori "ekpansi lambat" ini adalah kunci untuk memecahkan misteri terbesar kosmos kita. (Space/Z-2)
Penelitian terbaru menunjukkan penggabungan lubang hitam tidak cukup untuk menjelaskan Hubble tension.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved