Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA bertahun-tahun, para astronom telah mengatalogkan ribuan dunia yang mengorbit bintang jauh dengan asumsi sederhana. Jika suatu objek memiliki massa sebesar planet dan memberikan tarikan gravitasi pada bintang induknya, maka objek tersebut adalah planet. Namun, sebuah penelitian terbaru yang diunggah di server pracetak arXiv menawarkan alternatif yang lebih eksotis.
Beberapa "eksoplanet" yang telah kita deteksi mungkin sebenarnya bukanlah planet sama sekali, melainkan lubang hitam purba (primordial black holes).
Berbeda dengan lubang hitam biasa yang lahir dari kematian bintang masif, lubang hitam purba adalah objek hipotesis sisa peristiwa Big Bang. Objek ini terbentuk saat alam semesta yang baru lahir masih berupa "sup" energi bertekanan tinggi. Meski memiliki massa sebesar Bumi atau Jupiter, lubang hitam "mini" ini mungkin hanya berukuran sebesar buah jeruk bali.
Masalah utama dalam perburuan planet luar surya adalah metode deteksi kita saat ini sangat mahir mengukur massa, tetapi kurang akurat dalam menentukan ukuran fisik. Para astronom sering menggunakan metode radial velocity. Teknik mengamati bintang yang "bergoyang" akibat tarikan gravitasi objek yang mengorbitnya.
Di sinilah letak kesulitannya. Sebuah planet bermassa Neptunus dan sebuah lubang hitam bermassa Neptunus akan menghasilkan efek "goyangan" yang persis sama pada bintang induknya.
Untuk membedakan keduanya, tim peneliti mencari eksoplanet yang terdeteksi melalui metode goyangan bintang, tetapi tidak pernah terlihat melintasi wajah bintangnya (metode transit). Dalam metode transit, planet yang melintas akan memblokir sebagian cahaya bintang dan menunjukkan ukuran fisiknya. Jika sebuah objek menarik bintang tetapi tidak pernah memblokir cahaya, ada dua kemungkinan: orbitnya miring, atau objek tersebut memang terlalu kecil untuk dilihat, seperti lubang hitam.
Para peneliti mengidentifikasi beberapa kandidat menarik, di antaranya Kepler-21 Ac, HD 219134 f, dan Wolf 1061 d. Objek-objek ini cukup berat untuk membuat bintang mereka bergoyang, namun tetap tidak terlihat oleh teleskop kita.
Penulis studi ini mengakui bahwa kandidat-kandidat tersebut saat ini hanyalah kemungkinan representatif, bukan bukti pasti. Sebagian besar kemungkinan akan tetap terbukti sebagai planet biasa dengan orbit yang tidak sejajar.
Dekade berikutnya akan menjadi krusial dengan diluncurkannya misi seperti Nancy Grace Roman Space Telescope. Teleskop milik NASA ini dirancang untuk melakukan survei luas terhadap eksoplanet.
Ilmuwan berharap dapat menangkap momen sebuah objek menguap melalui Radiasi Hawking, proses teoretis di mana lubang hitam perlahan membocorkan energi hingga menghilang. Jika itu ditemukan, kita mungkin akan menyadari bahwa alam semesta jauh lebih padat dengan lubang hitam kuno daripada yang pernah kita bayangkan. (Live Science/Z-2)
NASA memasuki fase penting pada 2026 dengan misi krusial seperti Artemis II, Pandora, dan Aspera untuk menjelajah Bulan, exoplanet, serta memahami alam semesta lebih dalam.
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Astronom mengungkap 51 sistem bintang muda dengan cincin debu menakjubkan melalui teleskop ESO. Temuan ini memberi gambaran penting tentang proses awal pembentukan planet.
Teleskop James Web menangkap fenomena langka. Planet raksasa WASP-107b kehilangan atmosfernya, memicu awan helium raksasa yang bergerak mendahului orbitnya.
Teleskop NASA TESS menemukan tiga planet seukuran Bumi di sistem bintang ganda TOI-2267.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved