Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, para astronom mencari alasan mengapa kita belum juga mendengar sinyal dari peradaban luar angkasa. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam International Journal of Astrobiology menawarkan jawaban yang mengejutkan, jawabannya bukan pada kecerdasan biologis, melainkan pada ketersediaan batubara.
Lincoln Taiz, ahli biologi tumbuhan dari University of California, Santa Cruz (UCSC), berargumen deposit batubara yang besar dan mudah diakses adalah prasyarat mutlak bagi peradaban di exoplanet untuk berkembang menjadi masyarakat industri yang mampu memancarkan sinyal ke luar angkasa.
Penelitian ini membingkai ulang "keheningan kosmos" sebagai hasil geologis. Di Bumi, batubara jauh lebih mudah diakses daripada cadangan minyak dan gas yang berada jauh di kedalaman tanah. Tanpa batubara yang berada di lapisan dangkal, sebuah peradaban mungkin tidak akan pernah mencapai ambang energi yang dibutuhkan untuk membangun teknologi komunikasi ruang angkasa.
"Batubara sangat krusial karena, berdasarkan geologi seperti di Bumi, ia lebih mudah diakses daripada cadangan minyak dan gas yang jauh lebih dalam," tulis Taiz dalam studinya.
Tanpa bahan bakar padat yang padat energi ini, sebuah peradaban cerdas mungkin akan terjebak dalam keterbatasan energi terbarukan (seperti kayu atau tanaman) yang hanya menangkap kurang dari 0,5% cahaya matahari, sehingga tidak mampu menggerakkan mesin industri berskala besar.
Terbentuknya batubara di sebuah planet memerlukan serangkaian keberuntungan geologis yang langka. Pertama, planet tersebut harus memiliki atmosfer kaya oksigen yang memungkinkan tumbuhnya tanaman besar (hutan). Kedua, planet memerlukan aktivitas tektonik lempeng dan siklus iklim yang stabil selama jutaan tahun untuk mengubur materi tanaman di lahan basah hingga menjadi batubara.
Beberapa bintang di alam semesta mungkin memancarkan panjang gelombang cahaya yang salah, sehingga fotosintesis tidak berjalan maksimal. Akibatnya, hutan tidak pernah tumbuh, dan batubara tidak pernah terbentuk, meskipun planet tersebut memiliki air cair.
Kendala terbesar lainnya adalah waktu. Batubara berkualitas tinggi memerlukan jutaan tahun untuk "matang". Ada kemungkinan sebuah spesies cerdas muncul dan punah sebelum cadangan batubara di planet mereka siap untuk ditambang.
Ilmuwan mengusulkan agar faktor ketersediaan bahan bakar fosil ini dimasukkan ke dalam Persamaan Drake—rumus untuk memperkirakan jumlah peradaban di galaksi Bima Sakti.
"Kami mengusulkan bahwa keberadaan deposit batubara yang besar dan mudah diakses... juga diperlukan untuk menggerakkan tahap awal industrialisasi di exoplanet yang mirip Bumi," tambah Taiz.
Kini, dalam pencarian "saudara" di luar angkasa, para peneliti tidak hanya perlu mencari air dan oksigen, tetapi juga menimbang sejarah geologi planet tersebut. Tanpa batubara, peradaban alien mungkin tetap ada, namun mereka akan selamanya terisolasi di dunia rumah mereka tanpa pernah bisa menyapa kita. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved