Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Antariksa Amerika Serikat, NASA, memasuki fase penting dalam sejarah eksplorasi luar angkasa pada 2026. Tahun ini menjadi tonggak baru dengan sejumlah misi krusial yang disiapkan untuk memperluas pengetahuan manusia tentang Bulan, alam semesta, serta kondisi kosmik di dekat dan jauh dari Bumi.
Misi yang paling mendapatkan sorotan adalah Artemis II, yang dijadwalkan meluncur tidak lebih awal dari 6 Februari 2026. Artemis II akan menjadi penerbangan berawak pertama dalam program Artemis dan membawa empat astronot, termasuk tiga dari NASA dan satu dari Canadian Space Agency, ke orbit di sekitar Bulan. Misi selama sekitar 10 hari ini akan menguji sistem kehidupan, navigasi, komunikasi, dan prosedur dalam lingkungan luar angkasa yang jauh dari Bumi, sekaligus menjadi langkah penting sebelum misi pendaratan di Bulan berikutnya.
Selain itu, NASA juga sukses meluncurkan Pandora, sebuah teleskop kecil yang dirancang untuk mempelajari atmosfer exoplanet (planet di luar tata surya) dengan presisi tinggi. Pandora diluncurkan pada 11 Januari 2026 bersama dengan beberapa CubeSat lainnya, dan akan melakukan pengamatan terhadap transits exoplanet untuk memahami struktur atmosfer mereka.
Dalam jajaran misi ilmiah lainnya, NASA merencanakan peluncuran Aspera, sebuah misi kecil di bawah program Astrophysics Pioneers, yang akan diluncurkan pada 15 Agustus 2026 untuk memetakan gas panas di medium antar galaksi menggunakan deteksi emisi ultraviolet ekstrem, memberikan wawasan baru tentang evolusi galaksi.
Keempatnya merupakan bagian dari strategi NASA yang lebih luas untuk menggabungkan eksplorasi berawak dan pengamatan ilmiah mendalam. Di samping itu, proyek teleskop besar seperti Nancy Grace Roman Space Telescope terus digarap menuju peluncuran di akhir 2026 atau awal 2027. Teleskop ini diharapkan menawarkan kemampuan pengamatan jauh lebih luas daripada Hubble dan berkontribusi pada penelitian kosmologi, termasuk dark energy dan pencarian exoplanet, serta potensi penggunaan dalam jaringan pertahanan planet untuk melacak objek dekat Bumi.
Perpaduan antara misi berawak seperti Artemis II dengan program ilmiah yang canggih menunjukkan arah baru NASA di era eksplorasi modern: tidak hanya kembali ke Bulan, tetapi juga memperluas pemahaman terhadap struktur alam semesta dan kehidupan di luar sistem tata surya. Keberhasilan misi-misi ini akan memberikan data dan teknologi yang akan menjadi fondasi bagi misi masa depan, termasuk upaya jangka panjang menuju eksplorasi Mars. (NASA/Z-2)
Setelah penantian lebih dari setengah abad, era baru penjelajahan ruang angkasa jauh resmi dimulai. Pada Rabu malam, 1 April 2026 waktu setempat, misi Artemis II berhasil meluncur.
NASA resmi meluncurkan misi Artemis II menggunakan roket SLS. Empat astronaut memulai perjalanan bersejarah mengitari Bulan untuk pertama kali sejak era Apollo.
PADA Rabu (1/4) pukul 18.24 EDT nanti akan menjadi penanda misi eksplorasi manusia ke Bulan dalam peluncuran penerbangan Misi Artemis II NASA.
Kebakaran tragis dalam kapsul Apollo 1 menewaskan tiga astronaut NASA dalam hitungan detik. Simak kronologi lengkap dan penyebab di balik insiden ini.
NASA telah membentuk Planetary Defense Coordination Office sejak 2016 untuk memantau objek-objek dekat Bumi (near-Earth objects/NEO).
Menurut laporan NASA, cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai bumi.
NASA resmi meluncurkan misi Artemis II menggunakan roket SLS. Empat astronaut memulai perjalanan bersejarah mengitari Bulan untuk pertama kali sejak era Apollo.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
NASA akan menguji teknologi komunikasi berbasis laser dalam misi berawak Artemis II untuk mempercepat pengiriman suara, data, serta gambar dan video dari Bulan ke Bumi.
ESA membangun fasilitas simulasi LUNA di Jerman untuk melatih astronaut dan menguji pendarat Argonaut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved