Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
NASA bersiap menguji teknologi komunikasi berbasis laser dalam misi Artemis II, sebuah langkah untuk mendukung agenda ambisius eksplorasi Bulan dan rencana kehadiran manusia jangka panjang di permukaan satelit alami Bumi tersebut. Teknologi bernama Orion Artemis II Optical Communication System (O2O) ini akan diuji dalam penerbangan berawak.
Selama ini, komunikasi wahana antariksa dengan Bumi mengandalkan sinyal radio. Meski sinyal tersebut bergerak dengan kecepatan cahaya, keterbatasan bandwidth membuat pengiriman data berukuran besar, seperti saat mengirim gambar dan video, sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu, komunikasi antara Bumi dan Bulan juga mengalami jeda waktu pulang-pergi sekitar tiga detik.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, O2O menggunakan laser cahaya inframerah untuk mengirimkan suara, data misi, serta gambar dan video beresolusi tinggi kembali ke Bumi. Dalam misi Artemis II yang berlangsung sekitar 10 hari, NASA akan mengoperasikan sistem komunikasi radio konvensional secara bersamaan dengan teknologi laser ini. Artemis II menjadi kali kedelapan NASA melakukan eksperimen komunikasi laser di luar angkasa.
Profesor teknik elektro dan komputer dari University of Southern California, Alan Willner, menilai O2O berpotensi memperkecil jarak komunikasi antara astronot di luar angkasa dan tim di Bumi. Menurutnya, Artemis II menjadi langkah besar dalam menghadirkan kemampuan komunikasi berkecepatan tinggi yang mampu mengikuti kebutuhan data misi modern.
Sementara itu, Markus Allgaier, dosen asosiasi fisika dan astrofisika di University of North Dakota, mengatakan komunikasi laser bukanlah teknologi baru. Namun, uji coba dalam penerbangan berawak ini menjadi kesempatan langka untuk melihat teknologi tersebut berfungsi langsung dalam misi nyata. Ia menyebut, meski telah dikembangkan lebih dari satu dekade, tidak semua demonstrasi teknologi akhirnya benar-benar diterbangkan dalam sebuah misi.
NASA berharap O2O memungkinkan pengiriman data dari luar angkasa dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan hasil uji coba lain, sistem komunikasi laser terbukti mampu mengirim data lebih dari 100 kali lipat dibanding jaringan radio sebanding, bahkan dari jarak jutaan mil dari Bumi. Hal ini membuka peluang hadirnya siaran langsung berkualitas tinggi dari misi luar angkasa.
Dalam penerbangan Artemis II, teknologi ini berpotensi menghadirkan gambar dan video dengan kualitas lebih baik dari wahana Orion, meski berada ratusan ribu mil dari Bumi. Namun, NASA mencatat tetap akan terjadi gangguan komunikasi sekitar 41 menit saat Orion melintas di sisi Bulan yang membelakangi Bumi. Ke depan, NASA mempertimbangkan penggunaan satelit relai yang mengorbit Bulan untuk menghilangkan jeda komunikasi tersebut.
Meski demikian, teknologi O2O tidak akan digunakan dalam misi Artemis III yang direncanakan berlangsung tahun depan. NASA menyatakan, meski komunikasi laser belum diterapkan pada Artemis III, sistem O2O berpotensi membuka jalan bagi pengembangan teknologi serupa untuk misi ke Bulan dan Mars di masa mendatang.
Allgaier menilai komunikasi laser akan menjadi elemen penting bagi misi luar angkasa jarak jauh, mengingat keterlambatan komunikasi di jarak ekstrem menjadi tantangan besar. Ia menambahkan, peningkatan jumlah data sains dan komunikasi awak akan membuat publik di Bumi dapat mengikuti misi antariksa dengan lebih dekat dibanding sebelumnya.
Tak hanya bermanfaat untuk eksplorasi luar angkasa, teknologi ini juga diyakini akan berdampak di Bumi. Willner dan Allgaier menyebut, jika komunikasi laser diterapkan pada satelit cuaca, komunikasi, dan penginderaan jauh, teknologi ini berpotensi meningkatkan akurasi prakiraan cuaca hingga menghadirkan kecepatan data yang lebih tinggi untuk perangkat komunikasi sehari-hari. (ABCNews/Z-2)
NASA terpaksa menarik mundur roket SLS misi Artemis II dari landasan luncur akibat gangguan aliran helium. Peluncuran ke bulan kini dijadwalkan paling cepat April.
Harapan melihat manusia kembali ke Bulan bulan depan terancam tertunda. NASA temukan gangguan aliran helium pada roket Artemis II.
Misi Artemis II ke Bulan kembali terhambat kebocoran hidrogen cair. Ini alasan teknis dan politik di balik penggunaan bahan bakar paling "rewel" di dunia antariksa.
NASA ungkap tantangan teknis di balik terbatasnya jadwal peluncuran Artemis 2. Simak mengapa misi berawak pertama ke Bulan dalam 50 tahun ini sangat bergantung pada mekanika orbital dan cuaca.
Melalui program Send Your Name to Space with Artemis II, siapa pun kini bisa mengirimkan nama mereka untuk mengorbit Bulan secara simbolis pada misi berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Penetapan tanggal ini menyusul penundaan sebelumnya akibat kendala teknis saat sesi latihan peluncuran (wet dress rehearsal), termasuk kebocoran bahan bakar hidrogen
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved