Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
MISI ambisius NASA untuk mengirim manusia kembali ke orbit Bulan melalui misi Artemis 2 terancam tertunda dari jadwal semula pada Maret 2026. Hal ini terjadi setelah NASA mendeteksi masalah teknis pada roket Space Launch System (SLS) yang saat ini sudah berada di Pad 39B, Kennedy Space Center, Florida.
Gangguan teknis tersebut berupa interupsi aliran helium pada bagian atas (upper stage) roket, yang terpantau pada Sabtu pagi (21/2). Administrator NASA, Jared Isaacman, menyatakan bahwa kondisi ini kemungkinan besar mengharuskan roket ditarik kembali (rollback) dari landasan pacu ke gedung perakitan Vehicle Assembly Building (VAB).
"Hal ini hampir dapat dipastikan akan berdampak pada jendela peluncuran bulan Maret," ujar Isaacman melalui unggahan di platform X pada Sabtu.
NASA sebelumnya menargetkan jendela peluncuran singkat pada 6 hingga 9 Maret, dengan peluang terakhir pada 11 Maret. Jika roket harus ditarik kembali ke VAB, NASA dipastikan akan melewatkan seluruh jadwal tersebut.
Dalam rilis resminya, pihak NASA menjelaskan penarikan roket dilakukan demi mempercepat proses perbaikan. "Rollback berarti NASA tidak akan meluncurkan Artemis II pada jendela Maret. Namun, persiapan cepat ini memungkinkan NASA untuk menjaga potensi jendela peluncuran April, tergantung pada hasil temuan data dan upaya perbaikan," tulis pejabat NASA dalam blog resminya.
Jika gagal di bulan Maret, NASA harus menunggu setidaknya tiga minggu untuk jendela peluncuran berikutnya yang jatuh pada 1 April, 3-6 April, dan 30 April.
Kabar ini cukup mengejutkan mengingat NASA baru saja mengumumkan keberhasilan uji coba pengisian bahan bakar atau wet dress rehearsal (WDR) kedua yang berakhir pada Kamis (19/2). Pada uji coba tersebut, kedua tahap roket SLS berhasil diisi bahan bakar tanpa kendala kebocoran hidrogen cair (LH2), masalah yang sebelumnya sering menghambat misi Artemis I pada 2022.
Fungsi aliran helium sendiri sangat vital bagi operasional roket SLS. Gas ini bertugas memberikan tekanan pada tangki propelan hidrogen cair dan oksigen cair, serta menjaga kondisi lingkungan yang tepat agar mesin roket dapat beroperasi dengan sempurna. Gangguan aliran ini justru tidak terlihat selama uji coba WDR berlangsung.
Saat ini, tim teknis sedang bersiap untuk melepas kembali platform akses darurat yang baru saja dipasang di menara peluncuran guna mempermudah proses penarikan roket ke VAB. NASA berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin demi menjaga keselamatan empat astronot, tiga dari NASA dan satu dari Kanada, yang akan menjalani perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan.
Artemis 2 diproyeksikan menjadi misi berawak pertama yang meninggalkan orbit rendah Bumi sejak berakhirnya era Apollo lebih dari lima dekade silam. (Space/Z-2)
Misi Artemis II ke Bulan kembali terhambat kebocoran hidrogen cair. Ini alasan teknis dan politik di balik penggunaan bahan bakar paling "rewel" di dunia antariksa.
NASA ungkap tantangan teknis di balik terbatasnya jadwal peluncuran Artemis 2. Simak mengapa misi berawak pertama ke Bulan dalam 50 tahun ini sangat bergantung pada mekanika orbital dan cuaca.
Melalui program Send Your Name to Space with Artemis II, siapa pun kini bisa mengirimkan nama mereka untuk mengorbit Bulan secara simbolis pada misi berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Penetapan tanggal ini menyusul penundaan sebelumnya akibat kendala teknis saat sesi latihan peluncuran (wet dress rehearsal), termasuk kebocoran bahan bakar hidrogen
Uji pengisian bahan bakar roket SLS Artemis II terpaksa dihentikan akibat kebocoran hidrogen yang serupa dengan misi sebelumnya.
Uji pengisian bahan bakar roket SLS Artemis II terpaksa dihentikan akibat kebocoran hidrogen yang serupa dengan misi sebelumnya.
NASA menyelesaikan uji krusial pengisian bahan bakar roket SLS Artemis II meski sempat terkendala kebocoran. Peluncuran ke Bulan tetap ditargetkan 8 Februari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved