Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Mengapa NASA Setia pada Bahan Bakar Hidrogen Meski Sering Bocor dan Tunda Misi?

Thalatie K Yani
19/2/2026 07:12
Mengapa NASA Setia pada Bahan Bakar Hidrogen Meski Sering Bocor dan Tunda Misi?
Misi Artemis II ke Bulan kembali terhambat kebocoran hidrogen cair. Ini alasan teknis dan politik di balik penggunaan bahan bakar paling "rewel" di dunia antariksa.(NASA)

JIKA segalanya berjalan sesuai rencana, minggu ini seharusnya menjadi momen bersejarah kembalinya empat astronaut dari perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan. Namun, realitanya para insinyur NASA masih berkutat di landasan peluncuran, berhadapan dengan masalah klasik yang terus berulang, kebocoran bahan bakar hidrogen cair.

Dalam uji coba wet dress rehearsal misi Artemis II awal Februari lalu, kebocoran hidrogen cair super-dingin memaksa NASA menghentikan aliran bahan bakar berkali-kali. Masalah ini seolah menjadi déjà vu dari misi Artemis I pada 2022 dan era Space Shuttle (1981-2011) yang juga sering dihantui kendala serupa.

Kecil, Kuat, namun Sulit Dijinakkan

Mengapa NASA tetap menggunakan hidrogen meski reputasinya buruk karena sering memicu penundaan? Jawabannya terletak pada efisiensi. Hidrogen adalah elemen paling ringan di alam semesta, namun memiliki "pukulan" yang luar biasa kuat saat digunakan sebagai tenaga pendorong.

Dalam dunia roket, terdapat ukuran bernama Specific Impulse (Isp). Semacam indikator efisiensi bahan bakar. Hidrogen memiliki nilai Isp tertinggi dibandingkan opsi lain.

"Densitas rendah sangat baik untuk performa. Jadi ada semacam pertukaran nilai (trade-off) di sana," kata Adam Swanger, peneliti kriogenik di Kennedy Space Center NASA.

Namun, sifat ringan ini pula yang membuatnya sulit dibendung. Molekul hidrogen yang sangat kecil cenderung merembes keluar dari celah terkecil sekalipun pada segel roket.

Warisan Politik di Balik SLS

Selain faktor teknis, ada alasan politik yang jarang diketahui publik. Roket Space Launch System (SLS) yang digunakan dalam program Artemis diwajibkan  undang-undang di AS untuk menggunakan perangkat keras dan tenaga kerja dari era Space Shuttle.

"Pada akhirnya itu adalah keputusan kongres melalui undang-undang, NASA harus menggunakan perangkat keras, tenaga kerja, dan kontraktor Shuttle untuk membangun SLS," jelas Casey Dreier, Kepala Kebijakan Ruang Angkasa di Planetary Society.

Keputusan untuk menggunakan kembali teknologi lama alih-alih merancang roket baru dari nol membawa konsekuensi biaya operasional yang tinggi dan roket yang cenderung "rewel".

Kendala Material dan Suhu Ekstrem

Hidrogen cair harus dijaga pada suhu fantastis minus 423 derajat Fahrenheit (sekitar -252 derajat Celsius). Perubahan suhu ekstrem ini membuat material logam dan segel pada roket memuai dan menyusut, yang seringkali merusak kerapatan sambungan.

Meski frustrasi dengan berbagai penundaan, NASA menekankan bahwa mereka memahami prosedur keamanan dengan sangat baik. Walaupun kebocoran sering terjadi, badan antariksa ini belum pernah mengalami kecelakaan fatal akibat bahan bakar ini pada program SLS.

Hingga saat ini, para insinyur terus melakukan penyempurnaan, termasuk mengganti segel pada jalur bahan bakar. Bagi NASA, hidrogen mungkin adalah "mitra" yang sulit diatur, namun untuk saat ini, ia tetap merupakan pilihan terbaik untuk membawa manusia kembali ke Bulan. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya