Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA segalanya berjalan sesuai rencana, minggu ini seharusnya menjadi momen bersejarah kembalinya empat astronaut dari perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan. Namun, realitanya para insinyur NASA masih berkutat di landasan peluncuran, berhadapan dengan masalah klasik yang terus berulang, kebocoran bahan bakar hidrogen cair.
Dalam uji coba wet dress rehearsal misi Artemis II awal Februari lalu, kebocoran hidrogen cair super-dingin memaksa NASA menghentikan aliran bahan bakar berkali-kali. Masalah ini seolah menjadi déjà vu dari misi Artemis I pada 2022 dan era Space Shuttle (1981-2011) yang juga sering dihantui kendala serupa.
Mengapa NASA tetap menggunakan hidrogen meski reputasinya buruk karena sering memicu penundaan? Jawabannya terletak pada efisiensi. Hidrogen adalah elemen paling ringan di alam semesta, namun memiliki "pukulan" yang luar biasa kuat saat digunakan sebagai tenaga pendorong.
Dalam dunia roket, terdapat ukuran bernama Specific Impulse (Isp). Semacam indikator efisiensi bahan bakar. Hidrogen memiliki nilai Isp tertinggi dibandingkan opsi lain.
"Densitas rendah sangat baik untuk performa. Jadi ada semacam pertukaran nilai (trade-off) di sana," kata Adam Swanger, peneliti kriogenik di Kennedy Space Center NASA.
Namun, sifat ringan ini pula yang membuatnya sulit dibendung. Molekul hidrogen yang sangat kecil cenderung merembes keluar dari celah terkecil sekalipun pada segel roket.
Selain faktor teknis, ada alasan politik yang jarang diketahui publik. Roket Space Launch System (SLS) yang digunakan dalam program Artemis diwajibkan undang-undang di AS untuk menggunakan perangkat keras dan tenaga kerja dari era Space Shuttle.
"Pada akhirnya itu adalah keputusan kongres melalui undang-undang, NASA harus menggunakan perangkat keras, tenaga kerja, dan kontraktor Shuttle untuk membangun SLS," jelas Casey Dreier, Kepala Kebijakan Ruang Angkasa di Planetary Society.
Keputusan untuk menggunakan kembali teknologi lama alih-alih merancang roket baru dari nol membawa konsekuensi biaya operasional yang tinggi dan roket yang cenderung "rewel".
Hidrogen cair harus dijaga pada suhu fantastis minus 423 derajat Fahrenheit (sekitar -252 derajat Celsius). Perubahan suhu ekstrem ini membuat material logam dan segel pada roket memuai dan menyusut, yang seringkali merusak kerapatan sambungan.
Meski frustrasi dengan berbagai penundaan, NASA menekankan bahwa mereka memahami prosedur keamanan dengan sangat baik. Walaupun kebocoran sering terjadi, badan antariksa ini belum pernah mengalami kecelakaan fatal akibat bahan bakar ini pada program SLS.
Hingga saat ini, para insinyur terus melakukan penyempurnaan, termasuk mengganti segel pada jalur bahan bakar. Bagi NASA, hidrogen mungkin adalah "mitra" yang sulit diatur, namun untuk saat ini, ia tetap merupakan pilihan terbaik untuk membawa manusia kembali ke Bulan. (CNN/Z-2)
NASA kembali meluncurkan flight kit pada Rabu (1/4).
Setelah penantian lebih dari setengah abad, era baru penjelajahan ruang angkasa jauh resmi dimulai. Pada Rabu malam, 1 April 2026 waktu setempat, misi Artemis II berhasil meluncur.
NASA resmi meluncurkan misi Artemis II menggunakan roket SLS. Empat astronaut memulai perjalanan bersejarah mengitari Bulan untuk pertama kali sejak era Apollo.
Berbeda dengan misi Apollo program yang hanya melibatkan pria, kru Artemis II mencerminkan keberagaman, termasuk perempuan, individu kulit berwarna, dan astronot non-AS.
Empat astronaut misi Artemis II NASA telah tiba di Florida. Bersiap meluncur 1 April mendatang, ini menjadi misi berawak pertama ke Bulan sejak era Apollo 17 tahun 1972.
NASA terpaksa menarik mundur roket SLS misi Artemis II dari landasan luncur akibat gangguan aliran helium. Peluncuran ke bulan kini dijadwalkan paling cepat April.
NASA terpaksa menarik mundur roket SLS misi Artemis II dari landasan luncur akibat gangguan aliran helium. Peluncuran ke bulan kini dijadwalkan paling cepat April.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved