Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan kini semakin dekat dalam mengungkap sejarah awal Bulan setelah berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaannya. Melalui penelitian terbaru, para peneliti memastikan bahwa laju pembentukan kawah akibat tumbukan di seluruh permukaan Bulan berlangsung secara seragam, baik di sisi dekat maupun sisi jauh Bulan.
Temuan ini menjadi pijakan penting dalam memahami proses awal pembentukan dan evolusi Bulan. Selama puluhan tahun, penentuan usia permukaan Bulan bergantung pada metode penghitungan kawah tumbukan, dengan asumsi bahwa semakin padat jumlah kawah, semakin tua usia permukaan tersebut. Namun, metode ini sebelumnya hanya didukung oleh sampel yang berasal dari sisi dekat Bulan.
Keterbatasan tersebut memicu perdebatan panjang di kalangan ilmuwan, terutama terkait sejarah awal tumbukan di Bulan. Salah satu hipotesis yang kerap dibahas adalah _Late Heavy Bombardment_, yakni dugaan adanya periode singkat dengan lonjakan tumbukan asteroid dan komet dalam jumlah besar pada masa awal tata surya.
Terobosan penting terjadi pada Juni 2024 ketika misi Chang’e-6 milik China berhasil membawa pulang 1.935 gram sampel dari sisi jauh Bulan, tepatnya dari Cekungan Apollo yang berada di kawasan Cekungan Kutub Selatan–Aitken. Wilayah ini dikenal sebagai struktur tumbukan terbesar dan tertua di Bulan.
Analisis terhadap sampel tersebut mengungkap dua jenis batuan utama. Pertama, batuan basal berusia sekitar 2,807 miliar tahun yang tergolong relatif muda. Kedua, batuan norit purba yang terbentuk sekitar 4,25 miliar tahun lalu. Batuan norit ini diyakini berasal dari magma yang mengkristal setelah tumbukan dahsyat yang membentuk Cekungan Kutub Selatan–Aitken.
Dengan menggabungkan data kepadatan kawah dari wilayah pendaratan Chang’e-6 serta kawasan sekitarnya dengan seluruh data sampel historis dari misi Apollo, Luna, dan Chang’e-5, para peneliti kemudian menyusun model kronologi tumbukan Bulan yang baru dan lebih komprehensif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan kawah di sisi jauh Bulan sepenuhnya sejalan dengan model yang sebelumnya disusun berdasarkan data sisi dekat. Hal ini mengonfirmasi bahwa fluks tumbukan bersifat homogen di seluruh permukaan Bulan.
Kesimpulan tersebut menandai kemajuan besar dalam pemahaman sejarah awal Bulan. Model kronologi yang telah diperbarui ini tidak hanya memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai masa-masa awal Bulan, tetapi juga menjadi acuan penting bagi penentuan usia permukaan benda-benda planet lain di tata surya.
Penelitian ini sekaligus menegaskan nilai ilmiah strategis dari sampel yang dibawa misi Chang’e-6, yang untuk pertama kalinya memungkinkan ilmuwan menyusun kronologi Bulan secara global dan terpadu. (Ant/P-3)
Peneliti Tiongkok melalui misi Chang’e 6 mengungkap mengapa sisi jauh Bulan berbeda dengan sisi dekat. Temuan isotop kalium berikan bukti hantaman purba.
Ilmuwan Tiongkok temukan fragmen meteorit langka pada sampel Bulan dari misi Chang’e-6. Temuan ini bisa ungkap asal-usul air dan materi di Tata Surya.
Debu tersebut diambil dari Cekungan Apollo yang berada di dalam Cekungan Kutub Selatan-Aitken, salah satu wilayah tertua dan terbesar di permukaan Bulan.
Sampel Bulan dari misi Chang’e 6 Tiongkok mengungkap sisi jauh Bulan memiliki interior lebih dingin hingga 100°C dibanding sisi dekat.
Penelitian terbaru terhadap sampel dari sisi jauh bulan yang dikumpulkan misi Chang’e 6 mengungkapkan bagian dalam sisi jauh bulan mengandung lebih sedikit air.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved