Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA bertahun-tahun, para astronom memegang satu asumsi kuat, semakin kecil ukuran galaksi, maka jumlahnya akan semakin melimpah di alam semesta. Namun, temuan terbaru dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) justru menunjukkan hal sebaliknya, sebuah anomali yang memaksa ilmuwan menulis ulang sejarah pertumbuhan kosmos.
Penelitian yang dipimpin oleh Xuheng Ma dari University of Wisconsin mengungkapkan populasi galaksi kecil dan redup pada masa awal alam semesta ternyata tidak sebanyak yang diprediksi. Fenomena ini memberikan gambaran baru mengenai transisi besar yang dialami alam semesta setelah masa "kegelapan kosmik".
Untuk menemukan galaksi-galaksi kerdil yang sulit dideteksi, tim peneliti memanfaatkan fenomena alam yang luar biasa, gugus galaksi raksasa Abell 2744. Objek masif ini memiliki gravitasi yang sangat kuat hingga mampu melengkungkan ruang-waktu di sekitarnya.
Efek ini dikenal sebagai lensa gravitasi, yang berfungsi layaknya teleskop alami. Gravitasi Abell 2744 membelokkan dan memperbesar cahaya dari galaksi-galaksi yang berada jauh di belakangnya, membuatnya cukup terang untuk ditangkap instrumen canggih JWST melalui program UNCOVER.
Fokus penelitian ini adalah periode Epoch of Reionization, sekitar 12 - 13 miliar tahun lalu. Pada masa itu, bintang-bintang pertama mulai memancarkan cahaya ultraviolet yang mengubah sup gas hidrogen netral menjadi plasma terionisasi yang panas. Selama ini, galaksi-galaksi terkecil dianggap sebagai "mesin utama" yang menyediakan radiasi untuk menyibak kabut kosmik tersebut.
Biasanya, para peneliti menggunakan alat yang disebut fungsi luminositas untuk menghitung rasio galaksi terang dan redup. Dalam banyak studi, grafik tersebut selalu menunjukkan tren naik: galaksi redup selalu jauh lebih banyak jumlahnya.
Namun, data dari tim Xuheng Ma menunjukkan tren yang berbeda. Alih-alih terus meningkat, jumlah galaksi kecil ini justru mencapai puncaknya lalu mulai menurun drastis. Tren ini disebut sebagai faint-end suppression.
"Artinya, di bawah tingkat kecerahan tertentu, populasi galaksi mulai menipis. Tidak sebanyak yang diprediksi oleh teori-teori lama," tulis laporan tersebut.
Mengapa galaksi-galaksi mungil ini seolah "padam"? Peneliti menduga ini adalah kasus "perundungan" di skala kosmik.
Radiasi intens dari bintang-bintang besar pertama di alam semesta kemungkinan besar memanaskan gas di sekitarnya secara ekstrem. Galaksi dengan massa kecil tidak memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk mempertahankan gas panas tersebut. Akibatnya, mereka tidak bisa "makan" atau menyerap gas untuk membentuk bintang baru. Tanpa bintang, mereka tetap gelap dan menjadi galaksi "hantu".
Temuan ini menyisakan sebuah teka-teki besar. Jika galaksi ultra-redup ini jumlahnya terbatas, maka mereka tidak mungkin menjadi aktor utama di balik proses ionisasi alam semesta. Para ilmuwan mungkin harus beralih mempelajari galaksi yang sedikit lebih besar dan mapan untuk menjelaskan bagaimana alam semesta menjadi transparan seperti sekarang.
Meskipun hasil ini sangat bergantung pada keakuratan model pemetaan materi gelap di gugus Abell 2744, data saat ini menunjukkan penurunan jumlah galaksi kecil adalah nyata. Untuk saat ini, alam semesta awal terlihat sedikit lebih sepi, namun jauh lebih menarik untuk terus digali informasinya. (Space/Z-2)
Astronom temukan kemungkinan bahwa beberapa objek luar surya yang selama ini dianggap planet sebenarnya adalah lubang hitam purba sisa Big Bang.
Nebula Helix, juga disebut "Mata Tuhan" atau "Mata Sauron," adalah salah satu nebula planetarium terdekat, paling berwarna, dan paling banyak dipelajari di luar angkasa.
Pandora, teleskop luar angkasa terbaru NASA, resmi memasuki fase operasional usai diluncurkan pada Januari 2026.
Teleskop James Webb menampilkan detail baru Nebula Helix, memperlihatkan struktur gas, debu, dan akhir kehidupan bintang dengan resolusi inframerah tinggi.
Teleskop James Webb menangkap cahaya supernova tertua yang pernah terdeteksi, berasal dari 13 miliar tahun lalu.
Pengamatan terbaru teleskop James Webb ungkap permukaan bulan-bulan kecil Uranus yang lebih merah, lebih gelap, dan miskin air dibandingkan satelit besarnya, serta menemukan satu bulan baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved