Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
TELESKOP Luar Angkasa James Webb (JWST) kembali mencetak sejarah dengan memetakan atmosfer atas Uranus secara mendalam untuk pertama kalinya. Observasi ini mengungkap fitur-fitur baru yang mengejutkan mengenai medan magnet planet es raksasa tersebut serta fenomena auroranya yang bercahaya.
JWST mengamati rotasi Uranus selama 15 jam untuk mempelajari bagaimana energi didistribusikan di lapisan atas atmosfer. Penelitian ini sangat krusial mengingat Uranus memiliki karakteristik medan magnet paling aneh di tata surya kita.
Berbeda dengan Bumi, kutub magnet Uranus miring sebesar 60 derajat terhadap kutub geografisnya. Kemiringan ekstrem ini menghasilkan aurora yang membentang jauh melampaui wilayah kutub, menciptakan pemandangan yang tidak ditemukan di planet lain.
Berdasarkan studi yang diterbitkan pada 19 Februari di jurnal Geophysical Research Letters, JWST berhasil mengukur suhu dan kepadatan ion hingga ketinggian 5.000 kilometer di atas puncak awan Uranus.
Temuan menunjukkan suhu dan kepadatan ion tidak mencapai puncaknya pada ketinggian yang sama. Ion ditemukan paling hangat pada ketinggian antara 4.000 dan 5.000 km, namun mencapai kepadatan tertinggi pada ketinggian sekitar 1.000 km. Ketimpangan ini disebabkan "geometri kompleks" dari medan magnet planet tersebut.
"Magnetosfer Uranus adalah salah satu yang paling aneh di tata surya," kata penulis utama studi, Paola Tiranti, mahasiswa doktoral di Universitas Northumbria, Inggris, dalam pernyataan resminya. "Webb kini telah menunjukkan kepada kita seberapa dalam efek tersebut menjangkau atmosfer."
Data JWST juga menampilkan dua pita terang aurora di dekat kutub magnet Uranus. Di antara kedua sabuk aurora tersebut, ditemukan adanya "penipisan" kepadatan ion dan emisi aurora. Para ilmuwan menduga efek ini dihasilkan transisi di antara garis-garis medan magnet planet, pola yang serupa dengan yang pernah diamati di atmosfer atas Jupiter.
Selain pemetaan tiga dimensi, JWST mengonfirmasi temuan mengejutkan atmosfer atas Uranus telah mengalami pendinginan secara konsisten sejak awal 1990-an. Suhu rata-rata atmosfer Uranus tercatat sekitar 153 derajat Celsius, lebih rendah dibandingkan pengukuran dari pesawat ruang angkasa sebelumnya maupun teleskop berbasis darat.
"Dengan mengungkap struktur vertikal Uranus secara detail, Webb membantu kita memahami keseimbangan energi dari planet raksasa es," tambah Tiranti. "Ini adalah langkah krusial untuk mengkarakterisasi planet raksasa di luar tata surya kita." (Live Science/Z-2)
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Temukan perbandingan usia Neptunus, Saturnus, dan Uranus. Benarkah raksasa gas terbentuk lebih dulu daripada raksasa es? Simak fakta astronomi terbaru.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Penelitian baru mengungkapkan bahwa kita sebenarnya hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi di dalam planet-planet ini, sehingga para peneliti mengusulkan agar Uranus dan Neptunus
Penelitian berbasis data satelit Gaia mengungkap Matahari kemungkinan bermigrasi dari bagian dalam Galaksi Bima Sakti.
Astronom lewat teleskop James Webb temukan planet baru L 98-59 d. Planet lava ini berbau telur busuk dan membuka kategori baru dalam ilmu astronomi.
Peneliti menemukan bukti baru ekspansi alam semesta mungkin lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Apakah ini jawaban atas perdebatan panjang para astronom?
Komet Paskah C/2026 A1 (MAPS) diprediksi muncul April 2026. Simak jadwal perihelion, tingkat kecerahan, dan cara aman melihat komet yang lebih terang dari Venus.
Bintang yang dimaksud adalah Gaia20ehk, sebuah bintang deret utama yang stabil seperti Matahari dan terletak sekitar 11.000 tahun cahaya jauhnya.
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kolaborasi misi observatorium astronomi di bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved