Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA astronomi bersiap menyambut fenomena langka yang dijuluki sebagai "Komet Paskah". Komet C/2026 A1 (MAPS), yang baru ditemukan pada awal tahun ini, diprediksi akan melintas sangat dekat dengan matahari pada awal April 2026. Jika berhasil bertahan dari suhu ekstrem korona matahari, komet ini berpotensi menjadi salah satu objek langit paling terang yang pernah disaksikan manusia dalam sejarah modern.
Komet C/2026 A1 pertama kali terdeteksi pada 13 Januari 2026 melalui observatorium AMACS1 di San Pedro de Atacama, Chile. Penemuan ini merupakan hasil kerja keras empat astronom Prancis yang tergabung dalam program Monitoring of Asteroids and Periodic Systems (MAPS).
Saat ditemukan, komet Paskah ini masih sangat redup di magnitudo 18. Namun, memasuki pertengahan Maret 2026, kecerahannya melonjak drastis hingga 600 kali lipat menjadi magnitudo 11. Hal ini memungkinkan para astronom amatir untuk mulai mendeteksi keberadaannya menggunakan teleskop.
Komet MAPS diklasifikasikan sebagai keluarga Kreutz sungrazer, yaitu kelompok komet yang memiliki orbit sangat dekat dengan matahari. Pada 4 April 2026 pukul 21.00 WIB, komet ini akan mencapai titik perihelion pada jarak hanya 159.300 km dari fotosfer matahari.
Pada momen tersebut, komet akan melaju dengan kecepatan fantastis, lebih dari 1,6 juta kilometer per jam, menembus korona matahari yang bersuhu 1,1 juta derajat Celsius. Terdapat risiko besar komet ini akan hancur atau menguap sepenuhnya. Namun, jika inti komet cukup solid untuk bertahan, ia akan menyuguhkan pemandangan ekor gas yang sangat spektakuler.
Beberapa perkiraan menyebutkan kecerahan komet ini bisa mencapai magnitudo -5, yang setara dengan planet Venus. Dalam skenario paling ekstrem, kecerahannya bisa menyentuh magnitudo -15, yang membuatnya lebih terang daripada bulan purnama dan berpotensi terlihat di siang bolong.
Astronom Jepang, Seiichi Yoshida, melalui analisisnya di laman Visual Comets in the Future, mengonfirmasi bahwa komet ini memiliki potensi besar untuk menjadi objek yang sangat terang saat mencapai perihelion.
Para ahli memperingatkan bahaya mengamati komet ini secara langsung saat berada sangat dekat dengan matahari. Menatap matahari tanpa pelindung dapat membakar retina mata dan menyebabkan kerusakan permanen tanpa rasa sakit.
Berikut adalah cara aman untuk menyaksikannya:
Wilayah yang paling diuntungkan untuk pengamatan ini adalah penduduk di lintang rendah dan belahan Bumi selatan, termasuk Australia, Amerika Selatan, sebagian Afrika, dan Asia, khususnya Indonesia.
Berdasarkan analisis orbit, astronom Zdenek Sekanina dari NASA/JPL menduga komet ini merupakan fragmen dari komet raksasa kuno yang pecah berabad-abad lalu. Komet ini diyakini memiliki keterkaitan sejarah dengan komet besar yang terlihat pada tahun 363 Masehi.
Saat ini, komet menunjukkan koma berwarna hijau yang menandakan emisi karbon diatomik (C2). Nasib akhirnya sebagai "Komet Abad Ini" baru akan terjawab saat ia selesai melakukan "mandi api" di dekat matahari awal bulan depan. (EarthSky, Space/H-3)
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Sebuah komet baru yang melesat menuju Matahari disebut berpotensi menjadi “Komet Besar” pada April mendatang. Komet itu bernama C/2026 A1 (MAPS).
Sebuah komet baru yang melesat menuju Matahari disebut berpotensi menjadi “Komet Besar” pada April mendatang. Komet itu bernama C/2026 A1 (MAPS).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved