Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan kemungkinan besar telah memecahkan misteri lama seputar sabuk radiasi Uranus yang luar biasa kuat. Analisis terbaru terhadap data lawas milik wahana antariksa Voyager 2 menunjukkan peristiwa cuaca luar angkasa sementara mungkin telah membuat sabuk radiasi elektron planet tersebut jauh lebih intens daripada biasanya saat Voyager 2 melintas pada tahun 1986.
Sabuk radiasi terbentuk dari interaksi antara angin surya, aliran kontinu proton dan elektron dari Matahari, dengan medan magnet sebuah planet. Untuk planet yang memiliki medan magnet global seperti Bumi dan Uranus, partikel bermuatan yang energik ini terjebak di dalam magnetosfer.
Pada Januari 1986, Voyager 2 terbang melewati Uranus dan mengukur kekuatan sabuk radiasinya. Hasilnya mengejutkan. Meskipun sabuk radiasi ion sedikit lebih lemah dari yang diperkirakan, sabuk radiasi elektron justru jauh lebih intens, mendekati batas maksimal yang bisa ditampung oleh Uranus.
"Sains telah berkembang pesat sejak terbang lintas Voyager 2," ujar Robert Allen, fisikawan luar angkasa di Southwest Research Institute (SwRI). "Kami memutuskan untuk mengambil pendekatan komparatif dengan melihat data Voyager 2 dan membandingkannya dengan pengamatan Bumi yang telah kami lakukan selama beberapa dekade terakhir."
Dalam studi yang diterbitkan pada November 2025 di jurnal Geophysical Research Letters, tim peneliti menemukan kemiripan antara data Voyager 2 dengan data orbit Bumi selama peristiwa cuaca luar angkasa tahun 2019.
Intensitas yang tidak biasa pada Uranus kemungkinan disebabkan fenomena yang disebut "co-rotating interaction region" (wilayah interaksi yang berputar bersama). Fenomena ini terjadi ketika angin surya berkecepatan tinggi menyalip aliran angin surya yang lebih lambat, sehingga mempercepat elektron dan menambah energi pada sabuk radiasi.
"Pada 2019, Bumi mengalami salah satu peristiwa ini, yang menyebabkan percepatan elektron sabuk radiasi dalam jumlah besar," kata rekan penulis studi Sarah Vines, seorang fisikawan ruang angkasa di SwRI. "Jika mekanisme serupa berinteraksi dengan sistem Uranus, itu akan menjelaskan mengapa Voyager 2 melihat semua energi tambahan yang tak terduga ini."
Dorongan untuk Misi Baru Temuan ini memicu pertanyaan baru tentang stabilitas magnetosfer Uranus, terutama mengingat sumbu rotasi planet yang sangat miring. Para peneliti berpendapat bahwa hanya wahana antariksa yang mengorbit Uranuslah yang dapat menjawab teka-teki tersebut secara mendalam.
"Ini hanyalah satu alasan lagi untuk mengirim misi yang menargetkan Uranus," pungkas Allen. Ia menambahkan bahwa temuan ini juga memiliki implikasi penting bagi pemahaman sistem serupa, seperti pada planet Neptunus. (Live Science/Z-2)
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Analisis baru data Voyager 2 menangkap Uranus pada momen langka ketika sabuk radiasi planet itu dipenuhi elektron berenergi tinggi akibat interaksi angin matahari.
Miranda, bulan Uranus, diduga menyimpan samudra cair di bawah permukaan esnya.
Uranus dikenal sebagai “planet miring” karena sumbunya yang ekstrem. Simak fakta menarik tentang planet ini.
Bulan baru ini berukuran sangat kecil, lebarnya diperkirakan hanya sekitar enam mil. Dengan penemuan ini, jumlah bulan alami Uranus kini bertambah menjadi 29.
Analisis baru data Voyager 2 menangkap Uranus pada momen langka ketika sabuk radiasi planet itu dipenuhi elektron berenergi tinggi akibat interaksi angin matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved