Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
EMPAT dekade setelah Voyager 2 melintasi Uranus pada 24 Januari 1986, analisis baru atas data misi tersebut mengungkap temuan penting. Wahana itu kemungkinan menangkap Uranus pada saat terjadi fenomena langka, ketika sabuk radiasi planet tersebut dipenuhi elektron berenergi tinggi akibat interaksi angin matahari.
Penelitian terbaru menyimpulkan saat Voyager 2 tiba, Uranus mungkin sedang dilalui co-rotating interaction region (CIR), yakni gelombang kejut elektromagnetik yang terbentuk ketika aliran angin matahari yang cepat menghantam aliran angin matahari yang lebih lambat. Di Bumi, fenomena serupa kerap memicu badai geomagnetik dan aurora.
Angin matahari merentang jauh hingga melewati Uranus, membentuk heliosfer. Gelembung magnetik yang melingkupi tata surya. Dugaan CIR tengah melintas Uranus pada waktu bersamaan menjadi potongan puzzle yang sebelumnya hilang dalam pemahaman magnetosfer planet es tersebut.
Voyager 2, satu-satunya wahana yang pernah mengunjungi Uranus, saat itu menemukan magnetosfer yang tak biasa. Medan magnet Uranus miring 59 derajat terhadap sumbu rotasinya, sementara sumbu rotasi itu sendiri miring 98 derajat terhadap bidang ekliptika. Magnetosfernya juga tidak berada tepat di tengah, menyebabkan perbedaan kekuatan medan antara belahan utara dan selatan.
Meski seharusnya menyimpan plasma, magnetosfer Uranus justru tampak terkompresi, seolah plasma di dalamnya “terperas” keluar. Namun Voyager 2 mendeteksi jumlah elektron yang sangat tinggi di sabuk radiasi Uranus, kini membingungkan ilmuwan.
Pada 1986, para peneliti berpendapat peristiwa angin matahari seperti CIR akan menyebarkan elektron ke atmosfer Uranus. Namun studi jangka panjang terhadap interaksi CIR dengan Bumi memberikan gambaran berbeda.
“Ilmu pengetahuan telah berkembang jauh sejak terbang lintas Voyager 2,” ujar Robert Allen dari Southwest Research Institute, penulis utama penelitian. Ia menjelaskan timnya membandingkan data Uranus dengan pengamatan Bumi selama beberapa dekade terakhir.
Sarah Vines, juga dari Southwest Research Institute, menambahkan tahun 2019 Bumi mengalami CIR yang mempercepat elektron sabuk radiasi secara besar-besaran. “Jika mekanisme serupa terjadi pada sistem Uranus, itu dapat menjelaskan tambahan energi yang dilihat Voyager 2,” ujarnya.
Tanpa misi lanjutan ke Uranus, para ilmuwan memaksimalkan data lama Voyager 2 menggunakan teknik terbaru. Tahun lalu, penelitian lain juga menyimpulkan magnetosfer Uranus saat itu memang terkompresi oleh angin matahari.
Selama hampir 40 tahun, para ilmuwan mengira magnetosfer aneh Uranus adalah kondisi normalnya. Penelitian baru ini mengungkap kemungkinan Voyager 2 hanya menangkap momen yang tidak biasa. “Ini adalah satu alasan lagi mengapa kita perlu mengirim misi khusus ke Uranus,” kata Allen.
Temuan ini juga berdampak pada pemahaman magnetosfer Neptunus. Ketika Voyager 2 mengunjungi planet tersebut tiga setengah tahun setelah melintasi Uranus, ia juga menemukan magnetosfer yang miring dan bergeser dari pusat. Analisis terbaru data Voyager 2 ini dipublikasikan pada 21 November dalam Geophysical Research Letters. (Space/Z-2)
Penelitian baru mengungkapkan bahwa kita sebenarnya hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi di dalam planet-planet ini, sehingga para peneliti mengusulkan agar Uranus dan Neptunus
Penelitian terbaru menantang pandangan lama tentang Uranus dan Neptunus sebagai “raksasa es”.
Studi terbaru mengungkap Ariel, salah satu bulan Uranus, kemungkinan pernah memiliki lautan bawah permukaan sedalam 170 km.
Uranus dikenal sebagai “planet miring” karena sumbunya yang ekstrem. Simak fakta menarik tentang planet ini.
Astronom menggunakan Teleskop Antariksa James Webb milik NASA, menemukan bulan mungil yang mengorbit Uranus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved