Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
WAHANA antariksa Voyager milik NASA kembali mencatatkan sejarah dalam eksplorasi luar angkasa. Hampir lima dekade sejak diluncurkan pada 1977, Voyager 1 dan Voyager 2 berhasil mengungkap keberadaan wilayah ekstrem di tepi Tata Surya yang kerap dijuluki sebagai “dinding api” atau dinding luar angkasa.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari laman IFL Science, wilayah tersebut berada di heliopause, yakni batas antara pengaruh Matahari dan ruang antarbintang. Di kawasan ini, kedua wahana Voyager mencatat suhu mencapai 30.000 hingga 50.000 kelvin, setara dengan sekitar 54.000 sampai 90.000 derajat Fahrenheit.
Heliopause merupakan titik pertemuan antara angin surya sebuahbaliran partikel bermuatan yang terus dipancarkan dengan medium antarbintang. Angin surya membentuk gelembung raksasa yang disebut heliosfer, yang menyelimuti Matahari dan seluruh planet di Tata Surya. Ketika tekanan angin surya dan angin antarbintang berada dalam kondisi seimbang, terbentuklah heliopause sebagai batas alami sistem surya.
NASA menjelaskan saat heliosfer melaju menembus ruang antarbintang, terbentuk gelombang kejut di bagian depannya, mirip seperti gelombang air yang muncul ketika kapal membelah lautan. Di sinilah Voyager menemukan lingkungan dengan partikel-partikel sangat energik, meski kepadatannya sangat rendah.
Voyager 1 menjadi wahana pertama yang melintasi heliopause pada 25 Agustus 2012, disusul Voyager 2 pada 2018. Menariknya, kedua wahana itu menembus batas tersebut pada jarak yang berbeda dari Matahari. Hal ini memperkuat dugaan para ilmuwan bahwa heliopause bukanlah batas tetap, melainkan dapat bergerak mengikuti aktivitas Matahari, layaknya paru-paru yang mengembang dan mengempis.
Meski sering disebut sebagai “dinding”, heliopause bukanlah penghalang padat. Sebutan “dinding api” muncul karena suhu ekstrem yang terdeteksi di wilayah tersebut. Namun, Voyager mampu melewatinya tanpa kerusakan berarti karena peluang tumbukan antarpartikel di area itu sangat kecil, sehingga panas tidak dapat berpindah secara signifikan ke wahana.
Hingga kini, Voyager 1 dan Voyager 2 masih terus mengirimkan data dari luar heliosfer. Keduanya menjadi satu-satunya wahana yang berhasil menembus batas Tata Surya dan memberikan gambaran langsung pertama tentang lingkungan di luar pengaruh Matahari.
Salah satu temuan mengejutkan datang dari instrumen medan magnet Voyager 2. Pengukuran tersebut mengonfirmasi hasil Voyager 1 bahwa medan magnet di luar heliopause ternyata sejajar dengan medan magnet di dalam heliosfer. Temuan ini menjawab keraguan ilmuwan sebelumnya, yang sempat menganggap keselarasan tersebut bisa jadi hanya kebetulan. (IFL Science./Z-2)
Melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Ilmuwan temukan cara melacak jalur jatuh sampah antariksa menggunakan sensor seismik monitor gempa. Metode ini diklaim lebih akurat dibanding radar tradisional.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved