Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Dua fisikawan dari University of Southern Mississippi mengajukan gagasan mengejutkan: alam semesta mungkin tidak hanya mengembang, tetapi juga berdenting seperti gelas kristal. Menurut penelitian mereka, ekspansi alam semesta tidak berlangsung mulus, melainkan mengalami siklus percepatan dan perlambatan hingga tujuh kali selama 13,8 miliar tahun terakhir.
Penemuan ini berasal dari kajian Lawrence Mead dan Harry Ringermacher, yang dipublikasikan dalam Astronomical Journal edisi April 2015. Keduanya menemukan bahwa alam semesta mungkin berosilasi dan bergetar secara halus dalam pola yang semakin melemah dari waktu ke waktu, mirip dengan suara dentingan kristal yang perlahan menghilang.
Sejak teori Big Bang pertama kali diusulkan, para ilmuwan sepakat bahwa alam semesta bermula dari satu ledakan besar dan terus mengembang. Namun gravitasi dari bintang, galaksi, gas, serta materi gelap (dark matter) berusaha menarik semuanya kembali, memperlambat ekspansi tersebut.
Lalu pada 1998, dua tim astronom menemukan hal yang mengguncang dunia sains: alam semesta ternyata tidak melambat, melainkan justru semakin cepat mengembang. Temuan ini menjadi dasar konsep energi gelap, kekuatan misterius yang mendorong percepatan ekspansi, dan menghadiahi Saul Perlmutter, Adam Riess, serta Brian Schmidt dengan Hadiah Nobel Fisika 2011.
Mead dan Ringermacher menemukan bahwa perubahan dari fase melambat ke mempercepat yang diperkirakan terjadi sekali sekitar 6-7 miliar tahun lalu ternyata berulang beberapa kali sepanjang sejarah kosmik.
Dalam penelitian mereka, kedua fisikawan ini membuat cara baru untuk memetakan hubungan antara skala alam semesta dan usia kosmiknya. Dengan pendekatan ini, mereka menemukan pola osilasi yang sebelumnya luput dari pandangan.
“Ruang itu sendiri tampaknya telah mempercepat dan memperlambat ekspansinya sebanyak tujuh kali sejak awal penciptaan,” ujar Ringermacher.
Mereka menekankan bahwa getaran ini bukan gelombang gravitasi yang merambat di ruang angkasa, melainkan gelombang dari alam semesta itu sendiri, seluruh ruang yang berosilasi dalam ritme kosmiknya.
Menurut Mead, amplitudo “dentingan” ini kini sangat kecil, karena getarannya perlahan meredup seiring waktu. “Seperti gelas kristal yang dipukul, ia berdenting keras di awal lalu perlahan menghilang,” katanya.
Meski temuan ini menarik, Mead dan Ringermacher mengakui bahwa hipotesis mereka masih perlu diverifikasi lewat analisis independen, terutama menggunakan data supernova yang lebih baru dan lebih presisi.
Jika terbukti benar, teori ini bisa mengubah cara pandang kita tentang alam semesta sebagai ruang yang tidak hanya mengembang, tetapi juga sistem kosmik yang pernah bergetar dan kini mulai tenang.
Namun hingga saat itu tiba, “dentingan” alam semesta ini masih menjadi misteri yang menarik imajinasi para ilmuwan di seluruh dunia. (Astronomy Now/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved