Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Ilmuwan Hitung Ulang Kapan Alam Semesta Berakhir: Ternyata Terjadi Lebih Cepat dari Dugaan

Muhammad Ghifari A
11/2/2026 22:06
Ilmuwan Hitung Ulang Kapan Alam Semesta Berakhir: Ternyata Terjadi Lebih Cepat dari Dugaan
Bintang katai putih, mengalami peluruhan lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.(Dok. Future)

SEIRING berjalannya kisah kosmos kita, bintang-bintang perlahan akan padam, planet-planet akan membeku, dan lubang hitam akan melahap cahaya itu sendiri. Pada akhirnya, dalam rentang waktu yang sangat panjang yang tak akan pernah disaksikan umat manusia, alam semesta akan memudar ke dalam kegelapan total alias akhir alam semesta.

Namun, jika Anda pernah bertanya-tanya kapan tepatnya semua ini akan berakhir, penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan. Ternyata, akhir kosmik ini mungkin akan tiba jauh lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.

Menghitung Sisa Umur Kosmos

Meskipun disebut "lebih cepat", Anda tidak perlu khawatir dalam waktu dekat. Istilah "lebih cepat" dalam skala kosmik ini merujuk pada angka 10 pangkat 78 tahun dari sekarang. Itu adalah angka 1 diikuti oleh 78 angka nol, sebuah durasi yang hampir mustahil dibayangkan oleh akal manusia.

Namun, dalam skala astrofisika, perkiraan ini merupakan kemajuan dramatis dari prediksi sebelumnya yaitu 10 pangkat 1.100 tahun, yang dibuat oleh Falcke dan timnya pada tahun 2023.

"Akhir dari alam semesta akan datang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan, tetapi untungnya masih membutuhkan waktu yang sangat lama," kata Heino Falcke, seorang astrofisikawan teoretis di Universitas Radboud di Belanda, yang memimpin studi baru ini.

Mekanisme Radiasi Hawking dan Penguapan Objek Langit

Perhitungan baru tim ini berfokus pada prediksi kapan objek-objek langit yang paling abadi di alam semesta, seperti sisa-sisa bercahaya dari bintang-bintang yang telah mati (katai putih dan bintang neutron), akhirnya akan memudar sepenuhnya.

Peluruhan bertahap ini didorong oleh radiasi Hawking, sebuah konsep yang diusulkan oleh fisikawan legendaris Stephen Hawking pada tahun 1970-an. Teori ini menunjukkan bahwa proses aneh terjadi di dekat cakrawala peristiwa—titik tanpa kembali di sekitar lubang hitam.

Biasanya, pasangan partikel virtual terus-menerus diciptakan oleh fluktuasi kuantum. Pasangan ini muncul dan menghilang dengan cepat karena saling memusnahkan. Namun, di dekat cakrawala peristiwa lubang hitam, medan gravitasi yang sangat kuat mencegah pemusnahan tersebut.

Sebaliknya, pasangan tersebut terpisah: satu partikel yang membawa energi negatif jatuh ke dalam lubang hitam (mengurangi massanya), sementara yang lain lolos ke ruang angkasa sebagai radiasi. Dalam jangka waktu yang sangat panjang, proses ini menyebabkan lubang hitam perlahan menguap dan akhirnya menghilang.

Mengapa Kiamat Kosmik Terjadi Lebih Cepat?

Falcke dan timnya memperluas gagasan ini melampaui lubang hitam ke objek kompak lainnya dengan medan gravitasi yang kuat. Mereka menemukan bahwa "waktu penguapan" objek lain yang memancarkan radiasi Hawking tidak hanya bergantung pada cakrawala peristiwa, tetapi didorong oleh kelengkungan ruang-waktu itu sendiri.

Temuan baru tim tersebut, yang dijelaskan dalam makalah di Journal of Cosmology and Astroparticle Physics, menawarkan perkiraan baru tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan bintang katai putih untuk lenyap. Hasilnya mengejutkan:

  • Bintang Neutron & Lubang Hitam: Meluruh dalam skala waktu sekitar 10 pangkat 67 tahun.
  • Bintang Katai Putih: Diprediksi akan lenyap sepenuhnya dalam waktu 10 pangkat 78 tahun.
  • Efek Penyerapan: Lubang hitam ternyata menyerap kembali sebagian radiasi mereka sendiri, yang menghambat proses penguapan dibandingkan objek tanpa permukaan.

Jika bahkan bintang katai putih dan lubang hitam pada akhirnya lenyap menjadi ketiadaan, apa artinya itu bagi kita? Mungkin ini menunjukkan bahwa makna kehidupan tidak ditemukan dalam keabadian fisik, tetapi dalam kecemerlangan sesaat dari kemampuan manusia mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar selagi bintang-bintang masih bersinar di langit malam. (Space/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya