Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKELOMPOK astronom memicu perdebatan besar di dunia sains setelah menemukan bukti alam semesta mungkin tidak lagi mengembang dengan cepat, seperti yang diyakini selama hampir tiga dekade. Sebaliknya, hasil riset terbaru ini menunjukkan ekspansi alam semesta justru mulai melambat, menggugat teori pemenang Hadiah Nobel Fisika 2011 yang menyatakan perluasan alam semesta terus berakselerasi.
Jika temuan ini benar, konsekuensinya luar biasa. Alam semesta tidak akan mengembang selamanya, melainkan dapat berbalik arah menuju kehancuran total dalam skenario yang dikenal sebagai “Big Crunch”, kebalikan dari peristiwa Big Bang.
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Young-Wook Lee dari Yonsei University, Korea Selatan, yang menyatakan bahwa hasil pengamatannya menunjukkan energi gelap, kekuatan misterius yang selama ini diyakini mendorong percepatan ekspansi alam semesta, tampaknya melemah seiring waktu.
“Studi kami menunjukkan bahwa alam semesta telah memasuki fase perlambatan ekspansi pada masa kini dan bahwa energi gelap berevolusi jauh lebih cepat dari yang diperkirakan,” kata Lee. “Jika hasil ini dikonfirmasi, ini akan menjadi perubahan besar dalam paradigma kosmologi sejak penemuan energi gelap 27 tahun lalu.”
Penemuan ini mungkin akan disambut dengan skeptisisme, namun menariknya, konsorsium DESI, kelompok penelitian kosmologi berpengaruh, juga melaporkan kesimpulan serupa awal tahun ini. Hal ini membuka kembali perdebatan besar tentang asal-usul energi gelap dan takdir akhir alam semesta.
Penelitian Lee dan timnya menyoroti kelemahan asumsi dasar dari pengamatan supernova tipe 1a. Ledakan bintang yang digunakan pada 1990-an untuk mengukur kecepatan perluasan alam semesta dan menjadi dasar penghargaan Nobel Fisika 2011.
Menurut Lee, “Ada asumsi kunci yang ternyata keliru. Ini seperti mengancingkan baju dari kancing pertama yang salah.”
Sebelum 1990-an, para ilmuwan percaya bahwa gravitasi akan memperlambat ekspansi alam semesta. Namun, ketika supernova jauh tampak lebih redup dari yang diperkirakan, ilmuwan menyimpulkan bahwa alam semesta justru mengembang lebih cepat.
Kini, Lee dan timnya menawarkan penjelasan lain: bintang-bintang di masa awal alam semesta mungkin memiliki sifat berbeda, menghasilkan supernova yang secara alami lebih redup. Setelah memperhitungkan variasi tersebut, hasilnya menunjukkan alam semesta masih mengembang, namun tidak lagi secepat dulu dan energi gelap mulai melemah.
Jika energi gelap terus berkurang hingga bernilai negatif, para ilmuwan memperkirakan alam semesta akan kolaps kembali dalam Big Crunch.
Prof. Carlos Frenk dari University of Durham menilai hasil ini “sangat menarik dan provokatif.” Ia menambahkan, “Mungkin saja hasilnya salah, tetapi ini tidak bisa diabaikan. Mereka menyajikan temuan yang menggugah dengan implikasi yang sangat dalam.” (The Guardian/Z-2)
Konsorsium Euclid ESA menciptakan simulasi alam semesta paling rinci, menampilkan 3,4 miliar galaksi dan 4 triliun partikel.
Penelitian terbaru dari Prof. Rajendra Gupta menyatakan alam semesta tidak memerlukan materi gelap maupun energi gelap untuk eksis.
Ilmuwan mengusulkan hipotesis Cosmologically Coupled Black Hole (CCBH) yang menyebut lubang hitam mampu mengubah sisa bintang mati menjadi energi gelap.
Penelitian terbaru memicu dugaan energi gelap tak konstan. Alam semesta bisa berhenti mengembang dan runtuh dalam Big Crunch lebih cepat dari perkiraan.
Fisikawan Nikodem Poplawski mengajukan teori mengejutkan: alam semesta berputar, dan ini bisa menjelaskan melemahnya energi gelap.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved