Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ALAM semesta sering terlihat sederhana, berisi bintang, gas, debu, dan gravitasi yang mengikatnya. Namun penelitian terbaru menantang pandangan itu dan menyatakan bahwa apa yang kita yakini mungkin salah.
Selama puluhan tahun, pandangan umum percaya sebagian besar isi alam semesta adalah materi gelap dan energi gelap. Keduanya tak bisa dilihat, tetapi diyakini memengaruhi pergerakan galaksi dan mempercepat pelebaran alam semesta.
Astrofisikawan Universitas Ottawa, Prof. Rajendra Gupta, mengajukan model baru yang meniadakan peran materi gelap dan energi gelap di alam semesta.
Menurutnya, usia alam semesta bukan 13,8 miliar tahun seperti yang ada di buku teks. “Temuan penelitian ini mengonfirmasi “pengamatan alam semesta awal JWST dan kosmologi ?CDM” tentang usia alam semesta 26,7 miliar tahun, memungkinkan kami menemukan alam semesta tidak memerlukan materi gelap untuk eksis,” jelas Gupta.
Gupta menggabungkan dua ide penting, yakni Changing Coupling Constant (CCC) dan Tired Light (TL).
CCC adalah gagasan bahwa “konstanta alam” seperti kekuatan gravitasi atau kecepatan cahaya tidak selalu. Nilai-nilai ini bisa sedikit berubah seiring usia alam semesta atau tempat yang berbeda. Jika benar, maka perhitungan tentang usia, jarak, dan perkembangan alam semesta juga akan berubah.
TL adalah ide bahwa cahaya dari galaksi yang sangat jauh perlahan kehilangan energi selama perjalanannya. Energi yang hilang membuat cahaya bergeser ke merah, seolah-olah galaksi menjauh dari kita.
Dengan gabungan kedua cara ini, model CCC+TL berusaha menjelaskan sinyal-sinyal kosmik tanpa perlu melibatkan materi gelap atau energi gelap.
Astronom Fritz Zwicky menjadi orang pertama yang mengusulkan konsep materi gelap pada 1930-an. Ia menggunakannya untuk menjelaskan mengapa galaksi bergerak lebih cepat daripada yang seharusnya.
Sejak itu, dalam model standar, sekitar 27% isi alam semesta diperkirakan berupa materi gelap, sedangkan materi biasa yang bisa kita lihat hanya kurang dari 5%.
Gupta berpendapat bahwa kekuatan alam, termasuk gravitasi, melemah seiring waktu. Dengan demikian, data kosmik bisa dijelaskan tanpa perlu melibatkan materi gelap atau energi gelap.
“Bertentangan dengan teori kosmologi standar yang menyatakan bahwa percepatan perluasan alam semesta disebabkan oleh energi gelap, temuan kami menunjukkan bahwa perluasan ini disebabkan oleh melemahnya kekuatan alam, bukan energi gelap," lanjut Gupta.
Penelitian Gupta menawarkan cara baru melihat alam semesta tanpa materi gelap atau energi gelap. Dengan menggabungkan teori CCC dan TL, ia mengusulkan bahwa konstanta alam bisa berubah dan cahaya kehilangan energi dalam jarak jauh.
Namun, teori ini masih harus diuji dengan data teleskop, sampel supernova yang tepat, dan peta gelombang mikro beresolusi tinggi. Jika terbukti benar, pemahaman kita tentang asal-usul dan perkembangan alam semesta akan sepenuhnya berubah. (Earth/Z-2)
Astronom temukan Cloud 9, objek kosmik misterius tanpa bintang yang didominasi materi gelap.
Riset terbaru University of Sheffield menemukan bukti interaksi materi gelap dengan neutrino. Penemuan ini berpotensi mengubah teori standar kosmologi kita.
Peneliti menggunakan data Hubble untuk melacak partikel hipotetis Axion melalui suhu bintang kerdil putih. Meski belum ditemukan, batasan baru alam semesta terungkap.
NASA mengumumkan perakitan tahap akhir dilakukan pada 25 November di ruang bersih terbesar milik NASA, Goddard Space Flight Center, Maryland, Amerika Serikat.
Sinyal gelombang gravitasi langka dari LIGO-Virgo memicu dugaan adanya lubang hitam primordial yang terbentuk saat Big Bang. Namun, ilmuwan menilai peluang alarm palsu masih besar.
Materi gelap atau dark matter sendiri merupakan zat misterius yang diyakini menyusun sekitar 27% alam semesta.
Penelitian baru ungkap ekspansi alam semesta mungkin melambat dan energi gelap mulai melemah. Temuan ini bisa mengubah pandangan kosmologi.
Konsorsium Euclid ESA menciptakan simulasi alam semesta paling rinci, menampilkan 3,4 miliar galaksi dan 4 triliun partikel.
Ilmuwan mengusulkan hipotesis Cosmologically Coupled Black Hole (CCBH) yang menyebut lubang hitam mampu mengubah sisa bintang mati menjadi energi gelap.
Penelitian terbaru memicu dugaan energi gelap tak konstan. Alam semesta bisa berhenti mengembang dan runtuh dalam Big Crunch lebih cepat dari perkiraan.
Fisikawan Nikodem Poplawski mengajukan teori mengejutkan: alam semesta berputar, dan ini bisa menjelaskan melemahnya energi gelap.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved