Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
ALAM semesta bukanlah sekumpulan bintang dan gas yang tersebar acak, melainkan sebuah jaringan raksasa yang tertata rapi layaknya jaring laba-laba. Baru-baru ini, tim ilmuwan berhasil melacak salah satu "benang" penyusun jaringan tersebut di Ursa Major Supergroup, sebuah penemuan yang mengungkap jalur tersembunyi tempat galaksi lahir dan berevolusi.
Dalam makalah pracetak yang dipublikasikan melalui repositori arXiv, para peneliti mengidentifikasi sekelompok galaksi yang membentang dalam garis lurus sepanjang hampir empat tahun cahaya. Temuan ini merupakan bukti langsung dari keberadaan filamen tipis, jalur kosmik yang didominasi oleh materi gelap (dark matter), yang selama ini sulit dideteksi.
Para astronom telah lama memahami alam semesta memiliki kerangka fundamental yang disebut sebagai Cosmic Web (Jejaring Kosmik). Struktur ini terdiri dari simpul-simpul padat berisi ribuan galaksi, untaian panjang yang menghubungkannya, serta ruang hampa yang sangat luas.
Materi gelap memegang peranan kunci sebagai perancah gravitasi yang membentuk arsitektur ini. Meski tidak berinteraksi dengan cahaya dan tidak dapat dilihat, gravitasinya menarik materi di sekitarnya. Filamen-filamen materi gelap ini berfungsi seperti "jalan tol kosmik" yang memandu aliran gas untuk memberi makan generasi baru bintang dan galaksi.
Penemuan ini berhasil dilakukan berkat sensitivitas luar biasa dari teleskop FAST (Five-hundred-meter Aperture Spherical radio Telescope) milik Tiongkok. Instrumen raksasa ini memungkinkan para astronom mengintip wilayah yang sebelumnya dianggap terlalu redup atau samar.
Menggunakan observasi FAST HI, tim mengidentifikasi sekelompok galaksi dengan distribusi linear dari timur laut ke barat daya. Temuan ini memberikan bukti nyata bagi komponen jejaring kosmik yang selama ini hanya ada dalam ranah teoretis. Penemuan seutas benang tipis di tengah permadani debu angkasa yang luas ini membuktikan betapa rumitnya desain alam semesta.
Keberadaan garis galaksi ini bukanlah sebuah kebetulan. Tarikan gravitasi materi gelap di dalam filamen bertindak seperti corong kosmik, menyedot gas dan debu sebagai bahan baku penciptaan bintang.
Filamen yang baru diidentifikasi ini berfungsi sebagai contoh utama dari "pembibitan kosmik", tempat galaksi menyatu dan memulai perjalanan evolusinya. Pengamatan ini menunjukkan bagaimana arsitektur kosmik yang paling halus sekalipun mampu mengatur pembentukan, interaksi, dan takdir galaksi selama miliaran tahun.
Melalui penemuan ini, manusia semakin memahami bagaimana alam semesta menyusun dirinya sendiri. Satu demi satu benang halus yang tak terlihat, namun menentukan segalanya. (Space/Z-2)
Penemuan neutrino berenergi tinggi pada 2023 diduga berasal dari ledakan lubang hitam purba. Ilmuwan klaim ini bisa mengungkap misteri materi gelap (dark matter).
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Materi gelap masih belum terungkap. Dari James Webb hingga teknologi kuantum, ilmuwan menempuh jalur baru untuk membongkar misteri kosmik.
Penelitian terbaru menunjukkan materi gelap mungkin lahir dalam kondisi panas luar biasa sebelum mendingin. Temuan ini berpotensi mengubah teori evolusi alam semesta.
Astronom temukan Cloud 9, objek kosmik misterius tanpa bintang yang didominasi materi gelap.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved