Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
RUTINITAS pengobatan membuat hak anak pejuang kanker untuk bermain menjadi berkurang bahkan tidak terpenuhi karena harus berjuang melawan kanker yang diidapnya. Diperlukan pendampingan psikososial. Salah satu perhatiannya adalah hak untuk anak bermain dan belajar.
"Jadi kita coba memberikan pengalaman untuk tetap bisa bermain karena mereka tuh sehari-hari boleh dibilang kalau masih intens mendapatkan treatment Mereka hanya kegiatannya pulang-pergi, rumah sakit dan rumah. Sementara untuk bermain atau untuk kembali ke sekolah itu sangat terbatas," kata Ketua Pita Kuning Tyas Amalia Yahya kepada Media Indonesia di Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis (4/7).
"Jadi kita ingin tetap hak mereka untuk bermain bisa terpenuhi Makanya kita membuat kegiatan rutin namanya piknik edukatif anak," tambahnya.
Baca juga : 3 Rekomendasi Wisata Murah di Jakarta, Cocok untuk Liburan dengan Keluarga
Secara umum, terdapat dua kelompok kanker pada anak, yakni cair dan padat. Kanker cair atau kanker darah (leukemia), merupakan jenis kanker yang paling sering diidap anak, yakni sebanyak 3.880 (34,8%) dari jumlah kasus. Gejala awal dari leukimia perlu diwaspadai oleh orang tua karena bentuknya menyerupai penyakit biasanya, yakni pucat, demam, pendarahan, mimisan, gusi berdarah, hingga nyeri saat berjalan. Sedangkan untuk gejala dari kanker padat mayoritas dapat dilihat secara kasat mata, dengan memperhatikan jika adanya benjolan pada tubuh anak.
Bagi anak pejuang kanker, perawatan holistik perlu diberikan agar mereka memiliki kekuatan secara fisik dan psikologis untuk melawan kanker. Oleh karena itu, selain perawatan medis, pendampingan psikososial juga perlu diperhatikan dalam pemberian dukungan untuk anak dengan kanker.
Tyas menyebutkan penyakit kanker harus menjalani pengobatan yang lama sehingga harus mengorbankan waktu bermain, belajar, interaksi sosial, hingga komunikasinya yang juga ikut terbatas.
Baca juga : Bermain Sambil Belajar Bisa Bentuk Perilaku Bersih Anak
Sehingga tantangannya adalah untuk bisa memenuhi hak-hak dari bermain dan belajar itu dalam keterbatasan yang mereka miliki. Kemudian mungkin masih adanya stigma di dalam masyarakat bahwa penyakit kanker menular padahal tidak menular.
Tyas menyebut kurangnya bermain pada pejuang kanker membuat anak mudah untuk hilang mood karena usia 0-9 tahun sangat membutuhkan teman. Para penyintas kanker pun menjadi tidak memiliki sarana untuk bercerita, bermain bersama, mengasah skill sosialnya juga untuk bersosialisasi juga jadi terbatas.
"Anak juga lebih cenderung tertutup. Sementara itu mungkin kebutuhan-kebutuhannya yang memang wajar di usia perkembangan anak itu mereka untuk bermain, untuk mengenal teman untuk bersosialisasi," ungkapnya.
Baca juga : FM7 Resort Hotel Hadirkan Kid’s Challenges untuk Anak-Anak
Wow Day berisikan aktivitas bermain bersama untuk membawa keceriaan dan semangat kepada anak-anak yang menghadapi perjuangan melawan kanker. Salah satu kegiatan utama yang diselenggarakan adalah pesta kemenangan dan rasa syukur dimana 22 Anak Pita Kuning menulis cita-cita sebagai wujud peningkatan emosi positif dan menambahkan inspirasi serta harapan.
Di dalamnya juga ada penampilan, hiburan, serta penerimaan kado sebagai penghargaan atas kekuatan yang dimiliki anak-anak atas perjuangan selama ini. Selain itu, bagi orang tua dari anak-anak di Pita Kuning, juga mendapatkan sesi penguatan dan berbagi kisah dalam support group.
"Kami yakin bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perawatan holistik yang tidak hanya meliputi aspek medis tetapi juga psikososial dengan dukungan dari Kibar LP-182, kami dapat menyediakan layanan-layanan program pendukung emosional berupa bermain bersama dan penguatan anak serta orang tua yang membantu anak-anak dan keluarga mereka menghadapi tantangan ini dengan lebih baik." jelasnya.
Baca juga : Cegah Delay Pengobatan Leukimia pada Anak
Ketua Pelaksana dari Wow Day dan perwakilan KIBAR LP-182 Cheryll Yudakusuma menyatakan untuk terus mendukung anak-anak pejuang kanker dengan cara yang menyenangkan dan mendidik.
"Kami percaya bahwa pengalaman positif ini akan menambah semangat dan membangun mental anak-anak. Kolaborasi antara Pita Kuning dan Kibar LP-182 menunjukkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memenuhi kebutuhan psikososial anak-anak dengan kanker," kata Cherlly.
"Mereka mengundang masyarakat dan pihak lain yang tertarik untuk bergabung dalam upaya ini untuk memberikan dampak positif yang lebih besar bagi anak-anak yang memerlukan dukungan kita," pungkasnya. (Iam/Z-7)
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
MENURUT Konvensi Hak Anak PBB tahun 1989, ada 10 hak dasar anak yang perlu dijamin oleh negara dan masyarakat, salah satunya adalah hak untuk bermain dan berekreasi.
Anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik perlu selalu didampingi saat bermain sendiri maupun bersama teman-temannya.
Sebelum anak dilepas bermain di luar, orangtua diminta memulai dengan pengawasan hingga pemantauan di awal.
Tidak hanya menyenangkan, bermain juga diakui sebagai sarana penting untuk menumbuhkan berbagai keterampilan hidup yang esensial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved