Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBERIKAN variasi makanan sehat kepada anak sejak kecil merupakan investasi berharga karena akan bermanfaat hingga seumur hidup. Hal itu dikatakan Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia Ray Wagiu Basrowi, dikutip Minggu (6/11).
"Makanan bervariasi yang dibiasakan dari kecil jadi modal awal seorang anak, setelah balita dia punya preferensi dalam memilih makanan yang lebih bergizi di kemudian hari," jelas Ray.
Memberikan makanan yang sehat dan bergizi secara bervariasi penting dilakukan orangtua sebab itu akan berhubungan dengan keputusan memilih makanan sehat saat anak beranjak dewasa.
Baca juga: Kiat Menjaga Daya Tahan Tubuh di Musim Hujan
Ray mengatakan memberikan makanan kepada anak bukan sekadar menyodorkan makanan dan mengisi perut buah hati. Aktivitas tersebut dapat diperkaya dengan aspek edukasi lain, seperti bonding lewat kontak fisik, kontak mata, juga mengajari nilai-nilai baik dengan menyelipkan pesan-pesan positif yang disebutnya akan direkam dan diimplementasikan oleh anak.
Orangtua diminta menerapkan pedoman prinsip Isi Piringku, yang mengandung gizi seimbang. Pedoman Isi Piringku mengacu pada konsumsi pembagian piring makan menjadi setengah piring dibagi menjadi 2/3 makanan pokok, sementara setengahnya dibagi menjadi 1/3 lauk pauk, 1/3 sayur, dan 1/3 buah.
Pemenuhan bahan baku pangan dengan pedoman Isi Piringku juga bisa dilakukan dengan diversifikasi pangan yakni konsumsi pangan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar. Eksplorasi bahan makanan lokal, termasuk cara pengolahan, untuk akses yang berkesinambungan dapat dilakukan.
Pakar ekonomi kesehatan dari Ikatan Ekonomi Kesehatan Indonesia, Mutia A Sayekti mengatakan setiap daerah memiliki pangan lokal yang berbeda-beda, namun karena ketidaktahuan, masyarakat jarang memanfaatkannya.
Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) dapat menjadi salah satu referensi dalam memaksimalkan pemanfaatan pangan lokal, yaitu dengan mencari alternatif pangan yang mengandung nutrisi yang kurang lebih sama dengan pangan yang biasa dikonsumsi. (Ant/OL-1)
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Lansia yang paling disiplin menjalankan diet MIND mengalami perubahan otak yang setara dengan penundaan penuaan selama 2,5 tahun dibandingkan mereka yang tidak.
Studi terbaru ungkap diet MIND bisa memperlambat penuaan otak hingga 2,5 tahun. Tapi benarkah efeknya sebesar itu? Simak faktanya.
Brain fog merupakan gambaran umum dari penurunan kemampuan kognitif yang kerap dipicu oleh stres, perubahan hormon, hingga efek pascainfeksi.
Makanan instan dan gorengan masih mendominasi pola konsumsi masyarakat. Ahli menekankan pentingnya edukasi gizi dan peran keluarga dalam menjaga kesehatan.
Guru Besar Gizi UI Prof Sandra Fikawati peringatkan risiko porsi makan tak terkontrol saat Lebaran yang picu lonjakan gula darah dan kolesterol.
Pemenuhan gizi tidak bisa disamaratakan bagi setiap orang. Strategi nutrisi yang efektif harus menyesuaikan dengan profil fisik dan usia individu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved