Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Ahli Ingatkan Risiko Makanan Instan bagi Kesehatan 

Akmal Fauzi
26/3/2026 18:47
Ahli Ingatkan Risiko Makanan Instan bagi Kesehatan 
ilustrasi(freepik)

DI sebuah sudut kota di Lamongan, sekelompok penggemar lari tampak melakukan pemanasan sebelum berolahraga. Salah satunya adalah Nana. Perempuan bernama lengkap Dahlina Rosyida ini tergabung dalam Sego Bo-RUN, salah satu komunitas lari terbesar di Lamongan.

Ibu dua anak tersebut tetap aktif berolahraga untuk menjaga kebugaran dan kesehatan setelah pensiun sebagai atlet balap sepeda pada 2016. Di sela aktivitasnya, ia juga rutin melakukan latihan beban di rumah.

Setiap pekan, Nana menempuh jarak lari hingga 50–60 kilometer—angka yang tergolong tinggi, terlebih ia juga berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Lamongan. Sementara itu, pada akhir pekan, ia menjalani long run hingga 21 kilometer.

Selama 17 tahun berkarier sebagai atlet, Nana terbiasa menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Untuk mendukung aktivitas tersebut, ia juga memperhatikan asupan makanan dengan gizi seimbang.

“Jika tidak diimbangi makanan bernutrisi, ancamannya cedera bisa mengakhiri olahraga,” kata Nana dalam keterangan yang diterima.

Ia mengawali hari dengan sarapan sayur segar, telur rebus, dan buah-buahan. Untuk makan utama, Nana mengonsumsi dua kali sehari, dengan waktu makan terakhir sekitar pukul 17.00 WIB. Pola hidup sehat ini telah ia terapkan sejak masih aktif sebagai atlet.

Namun demikian, Nana menegaskan bahwa menjaga kebugaran tidak harus dimulai dari menjadi atlet.

“Itu tergantung kemauan dan kesadaran. Pola ini juga aku tularkan kepada anak-anak,” tegas mantan pebalap Polygon Sweet Nice (Surabaya) dan Moving Ladies (Belanda) tersebut.

Menurutnya, pola hidup sehat sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, lingkungan pendidikan, serta pergaulan. Orang tua memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini.

“Edukasi gizi itu perlu diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki balita dan anak yang masuk tahap pertumbuhan,” kata dr. Andriyanto, Kepala BRIDA Jawa Timur, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/3).

Ia menekankan bahwa ibu merupakan garda terdepan dalam menjaga pola konsumsi makanan dan gaya hidup sehat keluarga. Hal ini menjadi penting di tengah berbagai persoalan kesehatan di Indonesia, seperti gizi buruk, stunting, dan obesitas.

Para ahli gizi juga menyoroti pola konsumsi masyarakat yang masih jauh dari ideal. Gorengan dengan minyak pekat, makanan olahan, makanan berpemanis buatan, hingga makanan instan masih kerap menjadi menu sehari-hari. Penggunaan penguat rasa secara berlebihan juga masih banyak ditemukan.

Jika dikonsumsi terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama pada anak-anak.

Andriyanto, yang juga mantan Ketua Umum Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI), mencontohkan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah positif pemerintah dalam menjaga asupan gizi anak.

“Harapan kami agar menu dalam MBG benar-benar memperhatikan aspek kesehatan. Ini program yang sangat bagus dari lingkungan pendidikan, yang seharusnya, bisa diimplementasikandi dalam rumah,” urainya.

Ia juga menegaskan bahwa masalah kesehatan tidak semata-mata disebabkan oleh makanan dan minuman kemasan atau berpemanis. Faktor aktivitas dan keturunan turut berperan.

Andriyanto menolak jika gorengan, makanan olahan, hingga minuman berpemanis dalam kemasan sepenuhnya disalahkan.

“Tinggal bagaimana porsi konsumsi dan intensitasnya. Jika terus menerus, pasti memicu masalah kesehatan,” ujar Andriyanto.

Sementara itu, budayawan Antonio Carlos menyoroti kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia yang masih lekat dengan gorengan. Menurutnya, kebiasaan ini telah berkembang sejak teknologi minyak goreng diperkenalkan dan terus mengakar hingga kini.

Ia menilai, perubahan menuju pola makan sehat tidak bisa terjadi secara instan, melainkan membutuhkan waktu dan proses lintas generasi.

“Coba perhatikan penjual makanan di tepi jalan, akan sangat mudah menjumpai gorengan, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Sangat sulit menjumpai makanan sehat di tepi jalan,” ujarnya.

Di sisi lain, sebagian masyarakat tetap mengonsumsi makanan atau minuman tertentu dalam batas wajar. Kristiono, seorang penggemar trail run asal Surabaya, mengaku masih sesekali mengonsumsi minuman berkarbonasi.

“Masih, sesekali saya masih mengonsumsi minuman berkarbonasi,” tegasnya.

Namun, ia menegaskan bahwa konsumsi tersebut tidak dilakukan secara rutin. Biasanya, minuman berkarbonasi dikonsumsi saat benar-benar membutuhkan tambahan energi, misalnya saat berolahraga di cuaca panas atau ketika jeda makan terlalu jauh.

“Itu juga belum tentu sebulan sekali,” tambahnya.

Kris, sapaan akrabnya, tetap menjaga pola hidup sehat di tengah rutinitasnya sebagai teknisi. Ia rutin jogging di Surabaya, serta sesekali melakukan trail running di Puthuk Siwur, Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Kabupaten Mojokerto, dengan jarak tempuh 20–25 kilometer dan elevasi sekitar 500 meter di atas permukaan laut.

Kesadaran hidup sehat sendiri meningkat sejak pandemi Covid-19 melanda. Pola makan sehat dan aktivitas fisik kini menjadi kebutuhan untuk menjaga daya tahan tubuh.

Di sisi lain, tren ini menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman kemasan. Tidak semua pelaku usaha dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan preferensi konsumen.

“Inilah tantangan kami sebagai pelaku industri,” tegas Dhedy Adi Nugroho, Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia.

Ia menjelaskan, industri saat ini tengah berupaya melakukan reformulasi produk, seperti mengurangi kadar gula dan bahan tertentu. Namun, proses ini membutuhkan riset yang tidak singkat serta biaya yang besar.

“Bisa-bisa pegawai tidak gajian,” kelakarnya. “Namun itu tetap kami lakukan, agar ada substitusi produk dan bisa diterima pasar,” lanjut alumnus University of Melbourne tersebut.

Selain itu, industri juga menerapkan strategi pengendalian porsi (portion control) serta aktif memberikan edukasi terkait komposisi produk kepada konsumen. Komunikasi dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari forum diskusi hingga media sosial.

Langkah lain yang ditempuh adalah menghadirkan produk dengan kandungan gula rendah (less sugar) hingga tanpa gula (zero sugar), yang kini mencapai sekitar 10–20 persen dari total produksi.

“Pada dasarnya lidah orang Indonesia masih suka manis untuk minuman dan asin untuk makanan. Ini tradisi,” ungkap Dhedy.

Meski demikian, ia optimistis generasi mendatang akan semakin sadar dan teredukasi dalam memilih produk yang lebih sehat.

“Ini hanya soal waktu,” tambahnya.

Dhedy juga menanggapi anggapan bahwa makanan dan minuman kemasan menjadi penyebab utama berbagai masalah kesehatan, seperti gizi buruk, stunting, dan obesitas.

“Dalam konteks asupan minuman manis terdiri dari tiga aspek,” jelas Dhedy.

Ia merinci, ketiga aspek tersebut meliputi minuman buatan sendiri, minuman siap saji (ready to drink), dan minuman kemasan berpemanis. Namun, hanya minuman kemasan dari pabrik yang memiliki informasi komposisi gula yang jelas karena wajib mencantumkan nilai gizi sesuai ketentuan BPOM.

Data Kementerian Kesehatan pada 2014 juga menunjukkan bahwa sumber asupan gula terbesar masih berasal dari gula pasir, disusul sirup, sementara minuman kemasan berada di posisi paling rendah.

Sejalan dengan itu, Andriyanto kembali menekankan pentingnya membangun komunikasi tentang pola makan sehat dari dalam keluarga.

Ia tidak menolak keberadaan makanan dan minuman kemasan, namun menekankan pentingnya keseimbangan dan edukasi sebagai kunci utama.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya