Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Menang EE Rising Star di BAFTA, Robert Aramayo Suarakan Edukasi Sindrom Tourette

Basuki Eka Purnama
24/2/2026 03:44
Menang EE Rising Star di BAFTA, Robert Aramayo Suarakan Edukasi Sindrom Tourette
Aktor Robert Aramayo memamerkan piala BAFTA yang dimenangkannya lewat film I Swear(AFP/JUSTIN TALLIS)

AJANG penghargaan film bergengsi British Academy of Film and Television Arts (BAFTA), Senin (23/2) WIB, menjadi panggung penting bagi aktor Robert Aramayo

Bintang film I Swear ini berhasil meraih penghargaan EE Rising Star Award, menyisihkan sejumlah nomine kuat lainnya seperti Timothee Chalamet dan Leonardo DiCaprio.

Namun, di balik gemerlap kemenangan tersebut, Aramayo justru menggunakan momentum pidatonya untuk membawa pesan kemanusiaan yang lebih dalam: meningkatkan kesadaran publik mengenai sindrom Tourette.

Dalam pidatonya, Aramayo memberikan penghormatan khusus kepada John Davidson, seorang aktivis sindrom Tourette yang menjadi inspirasi di balik pembuatan film I Swear. 

Bagi Aramayo, sosok Davidson meninggalkan kesan mendalam selama proses produksi.

"Dia sangat terbuka dalam hal edukasi dan dia percaya masih banyak hal yang perlu kita pelajari tentang sindrom Tourette," ujar Aramayo di hadapan para hadirin.

Ia pun menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menanggapi mereka yang hidup dengan kondisi tersebut. 

"Bagi orang-orang yang hidup dengan sindrom Tourette," lanjutnya, "Kitalah orang-orang di sekitar mereka yang membantu mereka mendefinisikan pengalaman mereka. Jadi, seperti yang dikatakan dalam film, mereka membutuhkan dukungan dan pengertian."

Sindrom Tourette sendiri merupakan kondisi neurobiologis yang ditandai dengan gerakan atau suara tiba-tiba, tidak disengaja, dan berulang, yang secara medis dikenal sebagai tik (tics). Salah satu gejala yang kerap disalahpahami oleh masyarakat awam adalah ledakan suara berupa umpatan keras.

Dalam acara tersebut, pembawa acara Alan Cumming turut memberikan klarifikasi untuk meluruskan persepsi penonton. 

Ia menjelaskan bahwa sindrom Tourette adalah sebuah disabilitas, dan tik yang muncul di acara itu murni bersifat tidak disengaja. 

"Berarti orang yang memiliki sindrom Tourette tidak memiliki kendali atas bahasanya," tegas Cumming.

Pernyataan serupa juga diperkuat oleh laporan BBC yang meninjau peristiwa tersebut. 

Pihak BBC mengonfirmasi bahwa perilaku verbal yang muncul dari penyandang sindrom Tourette merupakan kebiasaan yang tidak disengaja dan di luar kendali pemilik kondisi tersebut.

Meskipun banyak pihak menilai kondisi ini bersifat debilitating atau melemahkan penderitanya, pesan utama yang ingin dibawa Aramayo tetaplah edukasi. 

Dengan mendorong masyarakat untuk lebih memahami dan membantu penyandang sindrom Tourette mendefinisikan pengalaman mereka sendiri, diharapkan stigma dan kesalahpahaman yang selama ini melekat dapat diminimalisir, sehingga ruang yang lebih inklusif dapat tercipta. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya