Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut sejauh ini dampak konflik AS-Venezuela terhadap rupiah masih bersifat sentimen jangka pendek, bukan guncangan fundamental. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menjelaskan, tekanan yang muncul atas kondisi Venezuela itu terutama datang dari meningkatnya global risk aversion.
Hal itu mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman, sehingga rupiah sempat tertekan secara terbatas.
"Namun, transmisi langsung konflik ini ke ekonomi Indonesia relatif kecil karena keterkaitan perdagangan Indonesia–Venezuela sangat minim, dan posisi Venezuela dalam pasokan minyak global saat ini juga tidak dominan," kata Rizal saat dihubungi, Selasa (6/1).
Menurutnya, selama konflik tidak meluas atau mengganggu stabilitas pasar energi global secara signifikan, pelemahan rupiah cenderung bersifat sementara dan volatilitasnya masih dalam batas yang dapat dikelola.
Rizal mengatakan hal yang perlu diantisipasi ke depan adalah eskalasi konflik yang memicu lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS lebih lanjut. Pasalnya ini bisa memperbesar tekanan inflasi impor dan mempersempit ruang stabilisasi nilai tukar.
Selain itu, risiko capital outflow jangka pendek tetap perlu diwaspadai jika ketidakpastian geopolitik global mendorong investor mengurangi eksposur ke pasar negara berkembang.
"Dalam konteks ini, konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia, kekuatan cadangan devisa, serta koordinasi fiskal–moneter menjadi kunci agar rupiah tetap stabil tanpa respons kebijakan yang berlebihan atau reaktif," pungkasnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencoba bangkit pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/1/2026). Mata uang Garuda dibuka menguat tipis sebesar 0,03% ke level Rp16.730 per dolar AS, setelah pada penutupan kemarin sempat tertekan di angka Rp16.740.
Pergerakan rupiah pagi ini dipengaruhi oleh sentimen global yang beragam ("mixed"). Di satu sisi, indeks dolar AS (DXY) terlihat sedikit melemah setelah rilis data manufaktur AS yang menunjukkan kontraksi, namun di sisi lain, pasar masih mewaspadai volatilitas geopolitik global. (H-3)
Risiko ke depan sangat bergantung pada kelancaran transisi politik di Venezuela serta dinamika geopolitik yang lebih luas.
PBB menyoroti pelanggaran hukum internasional terkait intervensi AS terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan peringatkan potensi instabilitas.
Pemerintah Indonesia menegaskan tidak akan mencampuri konflik politik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut pemerintah fokus pada urusan dalam negeri.
IHSG mencetak All Time High (ATH) baru di level 8.933,61. Lonjakan harga logam akibat tensi geopolitik AS-Venezuela dan insentif pajak pemerintah jadi pemicu utama.
IHSG diprediksi menguat ke level 8.884 seiring pasar mengabaikan tensi AS-Venezuela. Simak faktor pendorong dari insentif PPN DTP hingga harga emas.
Konflik AS-Venezuela tidak hanya mengguncang stabilitas internal Venezuela, tetapi juga memunculkan kekhawatiran luas terkait berbagai hal, termasuk keselamatan WNI di sana.
Nilai tukar mata uang Rupiah hari ini 20 Maret 2026 bergerak di zona merah, mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS akibat tekanan global.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini 19 Maret 2026 bergerak fluktuatif di level Rp16.900-an. Cek juga harga emas Antam yang menguat hari ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi fluktuatif pada 18 Maret 2026 usai BI menahan suku bunga di 4,75%. Cek harga kurs terbaru di sini.
Nilai tukar rupiah ditutup stagnan Rp16.997 per dolar AS hari ini (17/3). Cek hasil RDG Bank Indonesia terkait BI-Rate dan dampak pernyataan dovish Gubernur BI.
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
Kurs rupiah hari ini 17 Maret 2026 menguat ke Rp16.965 per dolar AS. Pasar menanti pengumuman BI Rate di tengah tensi geopolitik Timur Tengah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved