Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Indef: Dampak Konflik AS-Venezuela terhadap Rupiah Masih Sentimen Jangka Pendek

Ihfa Firdausya
06/1/2026 13:53
Indef: Dampak Konflik AS-Venezuela terhadap Rupiah Masih Sentimen Jangka Pendek
Petugas menunjukkan uang rupiah.(Dok. Antara)

INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut sejauh ini dampak konflik AS-Venezuela terhadap rupiah masih bersifat sentimen jangka pendek, bukan guncangan fundamental. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menjelaskan, tekanan yang muncul atas kondisi Venezuela itu terutama datang dari meningkatnya global risk aversion.

Hal itu mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman, sehingga rupiah sempat tertekan secara terbatas.

"Namun, transmisi langsung konflik ini ke ekonomi Indonesia relatif kecil karena keterkaitan perdagangan Indonesia–Venezuela sangat minim, dan posisi Venezuela dalam pasokan minyak global saat ini juga tidak dominan," kata Rizal saat dihubungi, Selasa (6/1).

Menurutnya, selama konflik tidak meluas atau mengganggu stabilitas pasar energi global secara signifikan, pelemahan rupiah cenderung bersifat sementara dan volatilitasnya masih dalam batas yang dapat dikelola.

Rizal mengatakan hal yang perlu diantisipasi ke depan adalah eskalasi konflik yang memicu lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS lebih lanjut. Pasalnya ini bisa memperbesar tekanan inflasi impor dan mempersempit ruang stabilisasi nilai tukar.

Selain itu, risiko capital outflow jangka pendek tetap perlu diwaspadai jika ketidakpastian geopolitik global mendorong investor mengurangi eksposur ke pasar negara berkembang.

"Dalam konteks ini, konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia, kekuatan cadangan devisa, serta koordinasi fiskal–moneter menjadi kunci agar rupiah tetap stabil tanpa respons kebijakan yang berlebihan atau reaktif," pungkasnya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencoba bangkit pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/1/2026). Mata uang Garuda dibuka menguat tipis sebesar 0,03% ke level Rp16.730 per dolar AS, setelah pada penutupan kemarin sempat tertekan di angka Rp16.740.

Pergerakan rupiah pagi ini dipengaruhi oleh sentimen global yang beragam ("mixed"). Di satu sisi, indeks dolar AS (DXY) terlihat sedikit melemah setelah rilis data manufaktur AS yang menunjukkan kontraksi, namun di sisi lain, pasar masih mewaspadai volatilitas geopolitik global. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik