Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

5 Alasan IHSG Menguat di Tengah Konflik AS-Venezuela, Sektor Ini Jadi Primadona!

 Gana Buana
06/1/2026 14:36
5 Alasan IHSG Menguat di Tengah Konflik AS-Venezuela, Sektor Ini Jadi Primadona!
Faktor IHSG menguat hari ini.(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (6/1) dibuka di zona hijau, menguat 25,42 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.884,62. Penguatan ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela yang justru direspons dingin oleh pelaku pasar.

Dilansir dari Antara, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memproyeksikan IHSG akan bergerak menguat terbatas dengan rentang support dan resistance di level 8.730-8.920.

Berikut adalah lima faktor utama yang membuat IHSG tetap kokoh di tengah ketidakpastian global, sebagaimana dirangkum dari analisis pasar terkini:

1. Pasar "Kebal" Isu Geopolitik AS-Venezuela

Berbeda dengan konflik geopolitik sebelumnya, pelaku pasar global kali ini cenderung mengabaikan ketegangan antara Washington dan Caracas. Optimisme terhadap pemulihan ekonomi global lebih mendominasi sentimen investor dibandingkan ketakutan akan perang.

"Pelaku pasar cenderung tidak peduli dengan situasi dan kondisi yang tengah terjadi antara AS dan Venezuela, seiring optimisme terhadap pemulihan ekonomi," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta.

2. Stabilitas Harga Minyak Dunia

Salah satu indikator utama kepanikan pasar adalah harga minyak. Namun, dalam konflik kali ini, harga minyak dunia terpantau tidak mengalami gejolak yang berarti. Cadangan minyak global dinilai masih terjaga dengan baik, sehingga kekhawatiran akan gangguan pasokan energi tidak terjadi secara signifikan.

3. Lonjakan Harga Emas (Safe Haven)

Meski pasar saham tenang, tensi geopolitik tetap memicu kenaikan harga emas sebagai aset safe haven. Hal ini menjadi katalis positif bagi emiten pertambangan logam mulia di dalam negeri. Nico menyarankan investor untuk mulai mencermati saham-saham berbasis emas yang berpotensi mendulang cuan dari situasi ini.

4. Guyuran Insentif Properti (PPN DTP 2026)

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kebijakan fiskal pemerintah. Pemerintah resmi melanjutkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah tapak dan susun pada 2026. Kebijakan ini tertuang dalam PMK No. 90 Tahun 2025 yang berlaku mulai 1 Januari 2026.

Insentif 100 persen PPN DTP diberikan untuk rumah baru siap huni dengan harga maksimal Rp5 miliar (khusus untuk dasar pengenaan pajak hingga Rp2 miliar). Kebijakan ini diharapkan menjaga daya beli masyarakat dan mendongkrak kinerja emiten properti.

5. Data Makro Ekonomi Solid & Tren Bursa Global

Fundamental ekonomi Indonesia tercatat solid. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan sebesar 2,66 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi Desember 2025 terkendali di angka 0,64 persen (mtm) dan 2,92 persen (yoy).

Sentimen ini diperkuat oleh "efek menular" dari bursa global yang kompak menghijau. Wall Street ditutup menguat pada Senin (5/1), dengan Dow Jones naik 1,23 persen ke 48.977,49. Tren positif ini diikuti oleh bursa Asia pagi ini, di mana Nikkei Jepang naik 0,69 persen dan Hang Seng Hong Kong melonjak 1,45 persen.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik