Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pengamat: Konflik AS-Venezuela tak Ubah Jalur Perdagangan Minyak Dunia

Insi Nantika Jelita
06/1/2026 13:47
Pengamat: Konflik AS-Venezuela tak Ubah Jalur Perdagangan Minyak Dunia
Kilang minyak tangguh.(Dok. Antara)

PRAKTISI minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo menilai konflik politik yang terjadi di Venezuela tidak akan mengubah jalur perdagangan minyak dunia maupun mendorong kenaikan harga minyak global. Menurutnya, eskalasi konflik AS-Venezuela justru cenderung mengarah pada perundingan politik.

Hadi memprediksi akan muncul pemerintahan transisi di Venezuela dengan peran besar Amerika Serikat (AS) dalam mengembalikan sistem pemerintahan ke arah demokrasi serta membuka kembali iklim bisnis internasional. 

Ia mengingatkan pada 2007 Venezuela sempat menasionalisasi perusahaan minyak dan gas milik AS, yang kemudian berujung pada putusan pengadilan internasional agar Venezuela membayar kompensasi sekitar US$8 miliar. Hingga kini, kewajiban tersebut belum diselesaikan dan nilainya diperkirakan hampir dua kali lipat.

"Pertanyaan apakah akan mengubah jalur perdagangan minyak dunia? Jawaban saya tidak. Produksi minyak Venezuela relatif kecil dibandingkan total produksi global,” ujarnya kepada Media Indonesia, Selasa (6/1).

Ia menjelaskan, produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 800 ribu barel per hari (bopd), sedikit di atas produksi Indonesia yang berada di kisaran 600 ribu bopd. Angka tersebut jauh dibandingkan dengan total produksi minyak dunia yang hampir mencapai 100 juta bopd. 

Dengan porsi yang terbatas itu, gangguan di Venezuela dinilai tidak akan mempengaruhi harga minyak secara global, meskipun negara tersebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekitar 300 miliar barel.

Selain itu, secara geografis Venezuela bukan merupakan jalur vital atau choke point perdagangan minyak dunia seperti Selat Hormuz. 

"Dengan kondisi geografis yang terbuka, arus distribusi minyak tetap dapat dialihkan melalui jalur lain apabila konflik meningkat," jelas Hadi.

Sejalan dengan itu, pergerakan harga minyak dunia justru menunjukkan tren penurunan, setelah operasi Amerika Serikat (AS) untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Pada hari ini, Selasa (6/1), Harga minyak mentah Brent berjangka tercatat turun 1,4% menjadi US$59,88 per barel, sementara harga minyak WTI melemah 1,5% ke level US$56,43 per barel.

"Konflik Venezuela tidak memengaruhi harga minyak dunia yang justru cenderung menurun saat ini," pungkas Hadi.  (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik