Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Lalai Mencegah Bencana

26/1/2026 05:00

NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal. Mengungsi karena rumah terendam berhari-hari? Normal. Yang mengerikan ketika sampai pada pertanyaan, 'yang meninggal puluhan?', kemudian dapat dijawab pula dengan kata 'normal!'.

Banjir, tanah longsor, pohon tumbang, seolah sudah menjadi ritual tahunan. Malah bukan hanya sekali, bisa berkali-kali terjadi dalam setahun. Begitu hujan deras turun, buntutnya kita menyaksikan narasi yang sama diputar ulang, yakni permukiman terendam, kemacetan panjang, perekonomian masyarakat lumpuh, dan nyawa melayang sia-sia.

Jangankan di daerah-daerah, Jakarta yang masih merupakan ibu kota negara pun terus saja dilanda banjir. Padahal, alarm tanda bahaya sudah berdenging kencang jauh-jauh hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini yang disampaikan lewat berbagai kanal, termasuk yang langsung terhubung ke pemerintah. Peringatannya selalu sama, berupa waspada cuaca ekstrem hujan lebat, angin kencang, juga gelombang tinggi.

Ada keterputusan yang fatal antara informasi saintifik yang disuplai BMKG dan respons kebijakan. Pemerintah, khususnya pemerintah daerah, masih gagap atau bahkan abai, dalam menerjemahkan peringatan dini menjadi aksi pencegahan jangka panjang.

Selama ini, pola penanganan bencana kita masih terjebak pada paradigma pemadam kebakaran. Negara baru terlihat sibuk luar biasa ketika bencana sudah melanda. Pejabat ramai-ramai meninjau lokasi, memberi bantuan, mendirikan dapur umum, dan tidak lupa menggendong balita korban bencana. Lalu, sebagai penutup, menyerahkan santunan dukacita.

Dalam konteks tanggap darurat, hal tersebut memang harus dilakukan. Akan tetapi, apabila kesibukan itu yang terus-menerus menonjol setiap tahun, sesungguhnya kita sedang memelihara kebebalan kolektif.

Alarm cuaca ekstrem harusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan secara struktural. Tata ruang yang kacau dipastikan terjadi di daerah yang diterjang bencana banjir dan tanah longsor.

Bukan semata oleh kegiatan ilegal, abrasi daya dukung lingkungan lewat tata ruang yang buruk justru yang banyak terjadi. Berbagai perusakan direstui oleh stempel perizinan. Kawasan resapan air disulap menjadi vila beton, hutan lindung dibajak menjadi perkebunan monokultur, dan bantaran sungai dipadati hunian.

Infrastruktur pengendali air bukan hanya tidak ditingkatkan, melainkan juga minim pemeliharaan. Padahal, sistem-sistem drainase sudah tidak relevan dengan curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim.

Proyek normalisasi dan naturalisasi sungai sering kali mangkrak, tersandera oleh ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan masalah sosial pembebasan lahan. Rencana induk penanggulangan banjir tertumpuk berdebu di meja birokrasi tanpa eksekusi nyata.

UUD 1945 Pasal 28 H ayat (1) telah memandatkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, serta mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Membiarkan rakyat tinggal dalam ancaman longsor atau langganan banjir tanpa upaya solutif adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat konstitusi itu.

Tanpa pembenahan struktural dan kultural, alarm BMKG hanya akan menjadi lonceng kematian. Kita pun tidak ingin tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya, editorial muncul lagi dengan lagu yang serupa; meratapi korban jiwa dan mengutuk kelalaian yang sama.

Sudahi retorika mitigasi yang hanya tampak seru untuk pertunjukan rapat koordinasi. Tegakkan aturan tata ruang dan terapkan pencegahan bencana yang benar-benar efektif. Jangan sampai rakyat terus menderita dan mati konyol hanya karena negara lalai mengurus bumi yang kita pijak.

 



Berita Lainnya
  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.