Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Mewaspadai Pelemahan Rupiah

22/1/2026 05:00

PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat. Data menunjukkan tren negatif, yakni rupiah sempat menyentuh level Rp16.997 per dolar AS, sebuah titik yang menjadi rekor terendah dalam sejarah.

Pelemahan ini tercatat hampir 2% hanya dalam satu bulan, mengikuti tekanan yang sudah berlangsung sepanjang 2025 dengan penurunan sekitar 3,5%. Di pasar domestik, volatilitas rupiah juga jelas terlihat sepanjang 2025.

Pelemahan rupiah terjadi dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Kondisi tersebut dipicu aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Menurut data Bank Indonesia (BI), selama 19 hari tahun 2026 ini, terjadi net outflow US$1,6 miliar.

Faktor domestik, yakni persepsi pasar terhadap kondisi fiskal, dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur BI, turut andil membuat penunurunan nilai tukar rupiah berlanjut.

Defisit anggaran menjadi salah satu titik krusial. Ketika belanja negara membengkak, sementara penerimaan tidak tumbuh sepadan, pembiayaan utang menjadi jalan yang tak terelakkan.

Dalam situasi global yang ditandai suku bunga tinggi, ketergantungan pada pembiayaan utang, terutama yang berbasis valuta asing, akan meningkatkan kerentanan nilai tukar. Rupiah pun menjadi lebih mudah terombang-ambing oleh sentimen global.

Selain itu, konsistensi kebijakan makroekonomi juga patut mendapat sorotan. Pasar tidak hanya membaca angka, tetapi juga arah dan kredibilitas kebijakan. Ketika kebijakan fiskal dan moneter tidak berjalan selaras, atau ketika sinyal yang dikirim pemerintah berubah-ubah, kepercayaan investor dapat terkikis.

Dalam kondisi demikian, tekanan terhadap rupiah bisa datang bukan lantaran data ekonomi yang buruk, melainkan karena persepsi ketidakpastian.

Ditambah lagi soal isu independensi bank sentral yang tak bisa dipandang remeh. Bank sentral yang dipersepsikan tidak sepenuhnya independen akan kesulitan menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Ramainya pemberitaan proses pencalonan Deputi Gubernur BI yang menjadikan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai kandidat juga memengaruhi tertekannya nilai tukar rupiah.

Pasar membutuhkan keyakinan bahwa kebijakan suku bunga, intervensi pasar, dan pengelolaan likuiditas semata-mata didasarkan pada stabilitas ekonomi, bukan pada kepentingan jangka pendek. Sekecil apa pun keraguan terhadap independensi ini, dampaknya bisa tecermin langsung pada pelemahan nilai tukar.

Pemerintah dan bank sentral tidak boleh menutup mata terhadap faktor-faktor domestik yang turut menentukan daya tahan rupiah itu. Dalam situasi global yang rapuh, fondasi ekonomi dalam negeri justru menjadi penentu utama apakah tekanan eksternal akan berdampak sementara atau berkembang menjadi risiko yang lebih serius.

Sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi krusial agar respons terhadap tekanan eksternal tidak saling meniadakan. Langkah-langkah stimulus yang terlalu agresif, tanpa mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan inflasi, justru berpotensi memperbesar volatilitas. Stabilitas makro bukan sekadar jargon, melainkan prasyarat bagi kepercayaan pasar.

Tak kalah penting, isu independensi bank sentral harus dijaga secara konsisten, tidak hanya pada teks regulasi, tetapi juga dalam praktik dan persepsi publik. Bank sentral yang dipersepsikan berada di bawah tekanan kepentingan jangka pendek, terutama kepentingan fiskal, akan kehilangan kredibilitas. Padahal, kepercayaan terhadap otoritas moneter merupakan salah satu benteng utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah guncangan global.

Pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan reaksi defensif. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menunjukkan kewaspadaan, koordinasi yang solid, serta komitmen pada prinsip-prinsip tata kelola ekonomi yang sehat. Mengabaikan faktor internal sama artinya dengan membiarkan risiko menumpuk di bawah permukaan.

Stabilitas rupiah bukan tujuan semata, melainkan cerminan dari kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Di tengah dunia yang kian tidak pasti, kewaspadaan dan konsistensi kebijakan adalah harga yang tak bisa ditawar.

 



Berita Lainnya
  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik