Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Akhiri Biaya Politik Tinggi

21/1/2026 05:00

PENANGKAPAN Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam satu hari yang sama kembali menegaskan satu kenyataan pahit bahwa korupsi kepala daerah bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.

Kasus yang menjerat Wali Kota Madiun terkait dengan dugaan fee proyek dan penyimpangan dana corporate social responsibility (CSR), serta Bupati Pati dalam dugaan suap pengisian jabatan di Kabupaten Pati, menunjukkan pola yang sama dan berulang. Jabatan publik dijadikan alat transaksi. Kewenangan berubah menjadi komoditas. Negara, pada akhirnya, menjadi pihak yang dirugikan.

Rentetan operasi tangkap tangan ini juga menjadi tamparan keras bagi otonomi daerah. Para kepala daerah semestinya tidak menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri. Namun, persoalannya hal ini tidak berhenti pada moral individu, tapi pada sistem yang terus memproduksi godaan dan tekanan untuk berbuat korup.

Misalnya, dana CSR dan proyek pembangunan kerap menjadi ladang basah bagi pejabat daerah. Relasi tidak sehat antara pemerintah dan dunia usaha, lemahnya pengawasan, serta besarnya kekuasaan di tangan kepala daerah membuka ruang penyalahgunaan wewenang. Dana yang seharusnya kembali ke masyarakat justru dibelokkan untuk kepentingan pribadi dan politik.

Tepat belaka analisis peneliti Pukat UGM, Zaenur Rohman, yang menyebut politik berbiaya tinggi sebagai sumber penyakit. Untuk menjadi kepala daerah, seseorang harus mengeluarkan biaya besar sejak proses pencalonan, kampanye, hingga konsolidasi kekuasaan. Ketika terpilih, tekanan untuk balik modal hampir tak terelakkan. Dalam situasi ini, proyek, jabatan, dan anggaran publik menjadi sasaran empuk.

Sistem pengadaan yang telah didigitalisasi, pembentukan unit independen, hingga aturan berlapis ternyata belum mampu menutup celah. Selama relasi antara penyedia dan pejabat masih memungkinkan kompromi di balik layar, praktik korupsi akan terus menemukan jalannya. Penangkapan demi penangkapan hanya menjadi pengingat bahwa penindakan belum menyentuh jantung masalah.

Wacana mengembalikan pemilihan kepala daerah ke DPRD kerap muncul sebagai jalan pintas. Namun, solusi ini menyimpan logika rapuh. Langkah tersebut hanya akan memindahkan lokasi korupsi, bukan menghilangkannya. Politik uang bisa berpindah dari pemilih ke elite parlemen daerah. Masalahnya tetap sama, yakni biaya politik yang mahal dan minim akuntabilitas.

Selama keduanya masih berjalan, korupsi kepala daerah tidak bisa diberantas. Kita juga tidak bisa hanya mengandalkan KPK dan aparat penegak hukum lain. Penindakan penting, tetapi bersifat kuratif. Yang dibutuhkan ialah terapi struktural.

Pertama, pembenahan sistem pendanaan politik harus menjadi agenda serius. Negara perlu memperkuat skema pendanaan partai politik yang transparan dan akuntabel agar partai tidak menggantungkan hidup pada iuran kandidat atau donatur bermasalah. Dengan demikian, tekanan finansial kepada calon kepala daerah bisa dikurangi.

Kedua, pembatasan dan pengawasan ketat terhadap biaya kampanye harus ditegakkan, bukan sekadar aturan di atas kertas. Pelaporan dana kampanye harus dibuka ke publik secara real-time dan mudah diakses, disertai sanksi tegas bagi pelanggaran.

Ketiga, kewenangan kepala daerah dalam pengelolaan proyek dan jabatan perlu diberi mekanisme kontrol yang lebih kuat. Proses pengisian jabatan harus benar-benar berbasis merit, diawasi lembaga independen, dan transparan.

Keempat, peran masyarakat sipil dan media harus diperkuat sebagai pengawas kekuasaan. Korupsi tumbuh subur dalam ruang gelap dan senyap.

Penangkapan di Madiun dan Pati seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Selama biaya politik tetap mahal, selama jabatan masih dipandang sebagai investasi, maka korupsi akan terus berulang. Negara harus berani menyentuh akar masalah, bukan sekadar memotong rantingnya.

 

 



Berita Lainnya
  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.

  • Mewaspadai Pelemahan Rupiah

    22/1/2026 05:00

    PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.

  • Cermat dan Cepat di RUU Perampasan Aset

    20/1/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.