Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Korupsi nan tak Kunjung Usai

19/12/2025 05:00

OPERASI tangkap tangan (OTT) yang kembali dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di penghujung tahun 2025 menjadi penegasan pahit bahwa praktik korupsi belum juga surut. Provinsi Banten tercatat sebagai sasaran OTT kesembilan sepanjang tahun ini. Fakta tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin rapuhnya tata kelola pemerintahan dan lemahnya integritas sebagian penyelenggara negara. Di tengah berbagai slogan reformasi birokrasi, korupsi tetap menemukan celah untuk hidup dan berkembang.

Benar bahwa sepanjang tahun ini KPK melakukan sembilan OTT, lebih banyak daripada operasi serupa yang dilakukan lembaga antirasuah itu pada tahun lalu. Tentu, ikhtiar tersebut tetap layak mendapatkan apresiasi.

Namun, berulangnya OTT menunjukkan dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, KPK masih bekerja dan menjalankan fungsinya sebagai benteng terakhir pemberantasan korupsi. Di sisi lain, hal itu sekaligus mengindikasikan bahwa efek jera belum sepenuhnya terwujud.

Peningkatan OTT belum berarti peningkatan kinerja KPK secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, tingginya kasus korupsi menunjukkan belum ampuhnya efek penjeraan, apalagi dampaknya pada pencegahan korupsi.

Sepanjang tahun 2025, KPK menyidik sekitar 50 kasus. Sementara itu, tahun lalu, jumlahnya tiga kali lipat. Padahal, hingga Juni 2025 saja KPK telah menerima 2.273 laporan. Dari jumlah itu, 2.019 aduan terverifikasi, yang artinya pula korupsi masih sangat merajalela di Indonesia.

Baik dari kasus OTT maupun penangkapan terencana, institusi biang korupsi pun belum berubah, yakni kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, baik eksekutif maupun legislatif.

Fakta itu harus dipahami bahwa bukan hanya pemberantasan korupsi yang patut mendapatkan atensi. Strategi pencegahan korupsi pun harus dibangun lebih keras lagi. Hal seperti itu mutlak dilakukan jika kita ingin membuat perubahan besar dalam perang melawan korupsi di tahun-tahun selanjutnya.

Bicara soal praktik korupsi di pemerintahan daerah, fakta-fakta mengindikasikan bahwa musabab korupsi bukan semata lantaran kebiasaan yang sudah bobrok di institusi itu. Kebiasaan korupsi juga terus langgeng akibat tingginya biaya politik di pilkada.

Kondisi tersebut masih ditambah dengan hukuman yang dijatuhkan sangat ringan, sistem pengawasan yang longgar, serta budaya permisif terhadap penyalahgunaan wewenang, yang membuat korupsi seolah menjadi risiko yang 'layak diambil' oleh sebagian pejabat. Selama sistem tidak cukup keras dan konsisten, praktik ini akan terus berulang dengan pola yang sama.

Oleh karena itu, negara tidak bisa lagi hanya mengandalkan penindakan setelah kejahatan terjadi. Yang lebih mendesak ialah membangun sistem pencegahan yang kuat, transparan, dan menutup ruang kompromi.

Digitalisasi layanan publik, penguatan pengawasan internal, serta sanksi tegas yang benar-benar menjerakan harus diterapkan tanpa pandang bulu. Penegakan hukum juga mesti dibarengi dengan keteladanan pemimpin, sebab integritas tidak bisa ditanamkan hanya lewat aturan, tetapi juga melalui contoh nyata.

OTT di Banten seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Korupsi tidak akan berhenti dengan sendirinya jika negara setengah hati dalam melawannya. Tanpa sistem yang tegas dan konsisten, pemberantasan korupsi hanya akan menjadi rutinitas penangkapan, bukan solusi yang menyembuhkan akar persoalan.

 



Berita Lainnya
  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.