Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PULAU Dewata, yang selama ini dikenal dunia sebagai surga wisata, berubah menjadi lautan air bah. Bali tak luput dari bencana banjir bandang. Sejauh ini, total korban meninggal dunia yang sudah ditemukan berjumlah 14 jiwa dan yang masih dalam pencarian sebanyak 2 orang.
Tak cuma banjir, tanah longsor ikut mengganas. Ada 18 titik longsor di Gianyar, Karangasem, dan Badung. Sebanyak 16 bangunan jebol diterjang air bah. Denpasar, yang merupakan jantungnya Bali, luluh lantak. Terdapat 81 titik banjir tercatat di kota itu.
Tak hanya Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) pun Ikut diterjang banjir bandang. Infrastruktur lumpuh dan lima warga tewas akibat bencana ganas itu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo, NTT, mencatat 5 orang meninggal dunia, 3 hilang, 3 luka-luka, serta 30 warga lainnya mengungsi untuk sementara akibat banjir bandang.
Kita berduka amat dalam atas bencana yang nyaris tiada jeda itu. Kita semua prihatin dan terus bertanya, mengapa bencana tak kunjung sirna? Banjir di dua pulau itu tidak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan terganggunya aktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi alarm keras akan persoalan lingkungan dan tata ruang yang semakin mengkhawatirkan.
Cuaca ekstrem memang menjadi pemicu utama banjir. Hujan lebat dalam intensitas tinggi pada waktu singkat bisa dengan mudah membuat saluran air meluap, sungai-sungai meluber, dan kawasan rendah tergenang. Namun, menyalahkan hujan atau perubahan iklim semata justru bisa mengaburkan akar persoalan yang sebenarnya.
Keparahan banjir di Bali dan daerah lainnya sangat mungkin lebih dipengaruhi oleh faktor buatan manusia, seperti tata ruang yang serampangan, alih fungsi lahan yang tak terkendali, serta buruknya sistem drainase di kawasan perkotaan.
Di Bali, pembangunan hotel, vila, dan infrastruktur pariwisata yang masif sering kali mengorbankan sawah, hutan, dan daerah resapan air. Lahan-lahan hijau yang dulunya menjadi penyangga alami air hujan, kini disulap menjadi beton-beton tak ramah lingkungan. Tak mengherankan jika air hujan tidak lagi meresap, tetapi langsung mengalir deras, menghantam permukiman, jalan raya, dan fasilitas umum.
Ironisnya, banyak dari pembangunan itu justru terjadi dengan dalih semata demi kemajuan ekonomi dan pariwisata. Padahal, pembangunan yang tidak berkelanjutan pada akhirnya akan menjadi bumerang. Alih-alih membawa kesejahteraan, ia justru menciptakan risiko bencana baru yang lebih besar.
Banjir bukan lagi sekadar isu musiman atau persoalan teknis drainase. Ini adalah refleksi dari cara kita memperlakukan ruang hidup kita. Maka dari itu, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan respons darurat saat hujan deras turun. Yang lebih krusial ialah pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola ruang dan lingkungan.
Pemerintah daerah dan pusat perlu meninjau ulang rencana tata ruang wilayah (RTRW) dengan perspektif keberlanjutan. Evaluasi terhadap izin-izin pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan harus dilakukan secara tegas.
Rehabilitasi lahan kritis, perlindungan kawasan hijau, serta revitalisasi sistem drainase juga harus menjadi prioritas. Banjir kali ini menjadi titik pijak evaluasi besar-besaran terhadap arah pembangunan di Bali dan daerah lain yang dinilai semakin mengabaikan daya dukung lingkungan.
Alih fungsi lahan dalam beberapa tahun terakhir dianggap memperkecil daya serap air sehingga hujan ekstrem langsung menyebabkan banjir di berbagai titik.
Banjir besar di Bali dan daerah lain adalah peringatan bahwa pembangunan tanpa kendali akan membawa bencana. Kita tak hanya dituntut siap menghadapi cuaca ekstrem, tetapi juga wajib membenahi fondasi tata ruang agar lebih berpihak kepada alam.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved