Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI unjuk rasa besar-besaran di berbagai daerah belakangan ini memaksa para elite politik dan pemerintah membuat perbaikan. Memang baru sedikit dari daftar panjang tuntutan publik yang ditindaklanjuti, tetapi setidaknya ada yang sudah dipenuhi.
Partai-partai politik menonaktifkan perwakilan mereka di parlemen yang dianggap turut memicu kemarahan rakyat lewat ucapan dan tingkah laku. Pun, pemerintah sepakat dengan DPR RI untuk menyetop tunjangan rumah sebesar Rp50 juta per bulan bagi para anggota DPR RI.
Apakah sudah cukup? Tentu belum. Jangan lupa, daftar tuntutannya panjang. Bahkan, baru dari sisi yang menyangkut keadilan fiskal saja masih banyak yang harus dibenahi.
Rakyat yang tertekan oleh beban ekonomi tetap harus membayar berbagai pungutan pajak yang tarifnya malah terus naik.
Sebaliknya, para wakil rakyat dan pejabat negara begitu dimanjakan dengan berbagai tunjangan yang dibayar oleh negara dengan uang pajak.
Bukan itu saja, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 80 Tahun 2010, pajak penghasilan para pejabat negara ditanggung oleh negara.
Semestinya, para pejabat negara justru yang paling depan memberikan contoh kepada masyarakat untuk taat membayar pajak. Jadi, ketika pemerintah menaikkan tarif pajak, pejabat yang terhormat juga bisa merasakan. Dari situ baru bisa muncul rasa empati, tidak perlu harus didemo dulu.
Belum lagi masalah minimnya transparansi. Penghasilan pengemban amanat rakyat yang dibayarkan oleh negara, misalnya, disebut tembus Rp200 juta per bulan. Angka itu setara lebih dari 30 kali lipat upah minimum regional (UMR) di DKI Jakarta, yang pada 2025 sebesar Rp5,4 juta. Mantan anggota DPR RI, Mahfud MD, bahkan mengaku total penghasilan wakil rakyat bisa menyentuh miliar rupiah per bulan.
Angka-angka itu dibantah pihak DPR yang menyatakan, setelah dikurangi tunjangan perumahan Rp50 juta, penghasilan anggota parlemen tidak sampai Rp100 juta per bulan. Angka yang simpang siur justru menguatkan tuntutan agar penghasilan anggota DPR dibuka ke publik karena rakyat berhak tahu pemanfaatan tiap rupiah anggaran negara.
Tunjangan dengan nilai yang fantastis mematikan kepekaan pejabat negara terhadap beban ekonomi rakyat. Tidak mengherankan jika pejabat kemudian dengan entengnya <i>flexing<p> atau memamerkan gaya hidup mewah, sama sekali tidak peka terhadap kondisi rakyat.
Reformasi untuk menegakkan keadilan fiskal sudah sangat mendesak. Pemerintah dan DPR mesti menggodok ulang gaji, tunjangan, dan berbagai komponen pendapatan pejabat negara hingga daerah, apalagi di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang terimpit. Tidak berlebihan kiranya jika UMR setempat dijadikan salah satu faktor untuk menghitung besaran gaji pejabat.
Keadilan fiskal seyogianya menyentuh pula pembayaran pensiun pejabat negara. Sungguh nyata ketidakadilan ketika seorang 'pensiunan' wakil rakyat hingga menteri mendapatkan uang pensiun seumur hidup dan dapat diwariskan kepada tanggungan.
Padahal, masa kerjanya hanya 5 atau 10 tahun.
Akan lebih adil ketika pejabat negara hanya berhak mendapat uang penghargaan dengan nilai yang wajar sesuai masa pengabdian.
Setop memberikan alasan pejabat harus dibayar negara dengan penghasilan tinggi agar tidak tergoda rasuah. Faktanya, penghasilan sudah dinaikkan, tapi masih juga ada korupsi.
Yang diperlukan bukan memperbesar penghasilan pejabat. Tekan nafsu keserakahan pejabat dengan undang-undang perampasan aset yang memuat aturan pembuktian terbalik harta penyelenggara negara. Sudahi hak-hak istimewa pejabat yang hanya membebani keuangan negara. Dengan begitu, sakit hati rakyat mudah-mudahan akan terobati.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved