Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Di Laut, Kita Dikepung Petaka

05/7/2025 05:00

LAGI dan lagi, publik terus saja dikagetkan oleh peristiwa kecelakaan kapal di laut. Hanya dalam sepekan, dua kapal tenggelam di perairan Nusantara. Terakhir, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7) malam. Hingga kemarin, petugas SAR gabungan masih mencari penumpang yang hilang di perairan Bali.

Celakanya, nama-nama korban, baik yang sudah ditemukan maupun yang masih dicari, banyak yang tak masuk manifes atau daftar penumpang. Dari data manifes, KMP Tunu Pratama Jaya mengangkut 53 penumpang, 12 kru kapal, dan 22 kendaraan. Namun, dari temuan tim SAR, beberapa korban meninggal justru tak terdaftar di manifes.

Sejumlah penumpang yang selamat melaporkan, sebelum kapal terbalik, tak ada pengumuman atau sirene peringatan bahaya berbunyi. Begitu kapal sudah miring, para penumpang berinisiatif melompat ke laut. Jaket penumpang yang berceceran, mereka gunakan sebagai pelampung. Ya, mereka berhasil selamat karena perjuangan mereka sendiri, tanpa bantuan awak kapal.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi persoalan, fakta itu jelas menunjukkan keamanan dan keselamatan masih bukan hal prioritas dalam transportasi laut. Keamanan dan keselamatan hanya digantungkan pada doa, bukan bagian dari harga mati prosedur operasi standar atau SOP pelayaran.

Keamanan dan keselamatan jelas terlanggar dari peristiwa kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya itu. Mulai dari manifes penumpang yang serampangan hingga tiadanya pengarahan awal kepada penumpang atas risiko-risiko yang bisa terjadi selama kapal berlayar.

Jatuhnya korban tentu dapat ditekan jika SOP pelayaran dipatuhi. Sebelum kapal berlayar, awak kapal mestinya memberi informasi lengkap kepada penumpang, seperti akses pada jaket pelampung, jalur keluar ketika terjadi kebocoran kapal, hingga akses ke sekoci.

Pengecekan terhadap kondisi fisik kapal pun mestinya menjadi syarat mutlak keselamatan. Dimulai dari pemeliharaan berkala sampai pengecekan terakhir kapal sebelum berlayar.

Zero mistake rasanya masih jauh dari profesionalitas industri pelayaran kita. Memandang sepele, itulah kesalahan fatal yang sudah terjadi sejak awal.

Kesalahan kian sempurna karena tak sedikit kapal yang dioperasikan ialah kapal-kapal tua. Kapal yang seharusnya sudah pensiun tetap saja dipaksa berlayar demi cuan. Jika sudah begini, tak ada lagi yang bisa diharapkan selain bergantung pada kekuatan doa.

Kecelakaan demi kecelakaan itu jelas merefleksikan buruknya tata kelola pelayaran di Tanah Air. Untuk apa negara ini punya kementerian teknis yang membidangi transportasi jika kecelakaan, baik di darat, laut, maupun udara, masih terus saja terjadi?

Kecelakaan demi kecelakaan itu jelas membuktikan negeri ini tak cakap dalam urusan keamanan dan keselamatan transportasi. Atau jangan-jangan, para pejabat transportasi juga lebih mengandalkan kekuatan doa ketimbang pemahaman akan keamanan dan keselamatan transportasi.

Peristiwa tenggelamnya KMP Tampomas II pada 1981 silam mestinya jadi pelajaran buat semua pihak. Dalam kecelakaan itu, sekitar 1.200 orang dinyatakan tewas. Tidak ada angka pasti yang dapat dijadikan acuan karena tim investigasi menemukan ratusan orang jadi penumpang gelap di kapal tersebut.

Kejadian itu menjadi bencana maritim terbesar di Indonesia. Berbagai fakta muncul sebagai penyebabnya, mulai dari masih digunakannya kapal berusia renta karena sudah lebih dari 25 tahun beroperasi hingga kesalahan manusia lantaran banyaknya ditemukan puntung rokok di kabin mesin.

Kita tentu bukan bangsa keledai, karena hanya keledai yang bisa jatuh di lubang yang sama dua kali. Sementara kita, sudah jatuh berkali-kali.

 



Berita Lainnya
  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.

  • Kembalikan Hak Sehat Rakyat

    10/2/2026 05:00

    SEBELAS juta jiwa tentu bukan angka yang kecil.

  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.