Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Teladan Demokrasi dari Jakarta

09/12/2024 05:00

SETELAH tahapan pilkada dibuka dengan pengumuman pendaftaran pasangan calon pada akhir Agustus lalu, akhirnya warga Jakarta mengetahui siapa yang akan menjadi pemimpin baru mereka. Pramono Anung-Rano 'Doel' Karno telah resmi keluar sebagai pemenang.

Kepastian itu datang setelah KPU DKI Jakarta menggelar rapat pleno penetapan hasil Pemilihan Gubernur Jakarta 2024, kemarin. Persentase kemenangan 50,07% suara yang diraih Pram-Doel membuat syarat Pilkada Jakarta digelar dalam satu putaran menjadi terpenuhi, meskipun penetapan soal itu masih menunggu apakah terjadi perselisihan hasil pilkada atau tidak.

Pasangan calon nomor urut 3 tersebut meraup 2.183.239 suara, diikuti pasangan calon nomor urut 1 Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) dengan 1.718.160 suara dan terakhir pasangan calon nomor urut 2, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, yang meraih 459.230 suara.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Pilkada Jakarta 2024 ini. Meningkatnya warga yang tidak menggunakan hak suara alias golput, yakni mencapai 3.489.614 orang atau setara dengan 42,48%, tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Ini harus menjadi bahan evaluasi alias PR besar bagi KPUD.

Namun, di luar itu, Pilkada Jakarta kiranya bisa menjadi contoh baik praktik demokrasi. Di Pilkada Jakarta, penyelenggara pilkada, para pemilih, juga aparat sipil negara bisa menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan taat asas dan baik.

Dari sisi strategi kampanye, Pram-Doel juga layak diapresiasi karena mampu menggunakan ruang dan waktu yang terbilang cukup pendek. Padahal, keduanya turun ke gelanggang pilkada dengan elektabilitas teramat rendah, kontras dengan Ridwan Kamil-Suswono.

Publik juga gembira karena ketiga pasangan calon tidak menggunakan kampanye hitam dan berbau SARA demi menjadi pemenang. Polarisasi di masyarakat yang sempat terjadi tujuh tahun silam, bahkan sampai menyisakan residu, tidak terulang di Pilkada Jakarta 2024. Hal itu sudah sepatutnya terjadi mengingat Pilkada Jakarta adalah barometer demokrasi. Praktik-praktik yang mencederai demokrasi, seperti politik uang, bagi-bagi sembako, dan ketidaknetralan aparat, bisa dicegah bahkan dinihilkan.

Penyelenggara pemilihan, baik KPU maupun Bawaslu Jakarta, juga menjalankan tugas secara transparan dan penuh tanggung jawab. Para pemilih pun nyaris tidak terpengaruh oleh rupa-rupa iming-iming uang maupun sembako. Inilah teladan dan praktik terbaik dari demokrasi di pilkada kali ini.

Kita juga mesti menghormati kabar akan adanya gugatan yang diajukan pasangan calon Ridwan-Suswono ke Mahkamah Konstitusi (MK). Biar bagaimanapun, itu hak setiap pasangan calon yang tidak puas dengan hasil rekapitulasi untuk menempuh jalan konstitusi. Proses tersebut dijamin oleh undang-undang dan merupakan bagian dari mekanisme demokrasi untuk menjaga transparansi hasil pilkada. Dengan menempuh jalur hukum, pasangan calon nomor urut 1 itu menunjukkan komitmen dalam menyelesaikan sengketa secara damai.

Kendati demikian, kita juga harus mengingatkan bahwa beban pembuktian ada di pihak penggugat. Ridwan-Suswono beserta tim harus bisa menghadirkan bukti yang kuat tentang dugaan adanya kecurangan. Jika tidak, semua energi hanya terbuang percuma, mubazir, sia-sia belaka. Sia-sia karena sebenarnya ada banyak pekerjaan besar agar bangsa ini segera melangkah ke fase berikutnya.

Presiden Prabowo Subianto telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 151 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta atau DKJ. Pengesahan undang-undang itu sekaligus menjadi landasan baru bagi Jakarta setelah tidak lagi menyandang status sebagai daerah khusus ibu kota (DKI). Mengarahkan energi ke arah tersebut juga tidak kalah penting sehingga upaya menggugat ke MK betul-betul harus dipikirkan masak-masak, bukan karena emosi semata.

Jakarta membutuhkan stabilitas dalam menapaki fase transformasi di bawah kerangka hukum dengan status Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Stabilitas ini tidak membutuhkan waktu lama manakala pihak yang kalah berani mengucapkan selamat kepada pemenang, dan pemenang bisa segera merangkul yang kalah untuk kemudian sama-sama membenahi Jakarta.

 



Berita Lainnya
  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.

  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.

  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.