Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Angin Segar Tegaknya Demokrasi

25/3/2024 20:00

SALAH satu kunci tegaknya demokrasi adalah kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat. Setiap orang di negara demokrasi memiliki kedudukan hukum yang sama. Mereka berhak berbicara demi perbaikan demokrasi sekaligus perbaikan negerinya.

Sayangnya, justru di soal yang substansial itulah kekuasaan amat sensitif. Telinga kekuasaan kerap tipis saban mendengar kritik dari publik. Bentuk yang sering terjadi ialah menggunakan aturan pasal karet untuk membungkam suara kritis.

Karena itu, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan sebagian uji materi yang diajukan pegiat HAM Haris Azhar dan Fatia Maulidyanti, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada putusan uji materiil Kamis (21/3), patut diapresiasi. Putusan MK itu memberi ruang hidup bagi kebebasan berpendapat, yang dalam beberapa era kerap berujung pada kriminalisasi.

MK mengabulkan gugatan Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang 1 Tahun 1946 dan Pasal 310 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP. Dalam pertimbangan hukumnya MK menyebutkan bahwa ketentuan norma Pasal 14 dan Pasal 15 UU 1/1946 serta Pasal 310 ayat (1) KUHP tidak memberikan pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil.

Selain kepastian hukum yang tak adil, kata hakim MK, pasal-pasal itu juga tidak memberikan perlakuan yang sama di hadapan hukum bagi setiap warga negara sebagaimana dijamin oleh UUD 1945.

Keberanian Hakim MK mengabulkan gugatan itu  merupakan langkah maju penegakan hukum yang berkeadilan. Selama ini, pasal 14 dan pasal 15 Undang-Undang 1 Tahun 1946 dan pasal 310 ayat 1 KUHP sudah banyak memakan korban, terutama para pengritik pemerintah. Aturan tersebut merupakan pasal karet yang tafsirnya amat lentur, tergantung siapa yang berkuasa.

Padahal, para pengkritik pemerintah itu melakukan aksi bukan karena kebencian personal, melainkan karena hendak mengoreksi kebijakan yang menyimpang. Di negara demokrasi, sejatinya rakyat yang berdaulat atas negeri.

Alhasil, suatu kewajaran bahkan keharusan apabila rakyat menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Namun, hantu pasal karet bagi pengkritik pemerintah belum benar-benar tumbang meski pemerintah dan DPR mengesahkan dan mengundangkan perubahan UU ITE yang baru.

Masih ada pasal karet di UU ITE yang sewaktu-waktu berpotensi menggiring kriminalisasi bagi mereka yang bersuara kritis. Maka, putusan MK itu seperti oase bagi kebebasan menyampaikan pendapat sebagai nyawa demokrasi akan menemukan jalannya kembali.

Ibarat obat, kritik yang konstruktif adalah nutrisi agar pengelolaan negara tetap sehat di atas rel demokrasi. Itulah yang kini dihidupkan lewat putusan MK.



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.