Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Langkah Gagap Stabilkan Harga Beras

21/2/2024 05:00

ADA ancaman sangat besar dari terus meroketnya harga kebutuhan pokok strategis. Jika saat ini pedagang dan rakyat yang menjerit, beberapa bulan lagi petani terancam jadi korban. Itulah yang terjadi bila kebijakan pangan, khususnya beras, terlalu mengandalkan impor. Masalah pokok yang tidak tertuntaskan, yang muncul justru masalah baru.

Segala keruwetan kenaikan harga beras saat ini memang diawali oleh datangnya El Nino. Iklim yang ekstrem membuat produksi pangan turun karena gagal panen. Ini terjadi di seluruh dunia. Dalam menghadapi El Nino tersebut, salah satu strategi utama Presiden Jokowi ialah impor beras.

Disebut utama karena nyatanya, sesuai angka Badan Pusat Statistik, impor beras yang diputuskan pemerintah mencapai 3,06 juta ton. Angka itu terbesar dalam lima tahun terakhir. Dengan angka sebesar itu, tak sedikit pihak yang menduga kebijakan itu tidak murni untuk pengamanan stok dan penstabilan harga, tapi juga strategi politik jelang pemilu.

Namun, apa pun niat dan tujuan impor itu, yang pasti strategi impor beras itu kemudian terkendala pada realisasinya yang lamban. Penyebab lambannya kedatangan beras impor itu ialah restriksi yang ditetapkan 22 negara. Mereka, negara-negara sumber impor itu juga khawatir akan keamanan cadangan pangan masing-masing. Maka wajar jika mereka lebih mengutamakan stabilitas domestik dengan pembatasan ekspor.

Apesnya bagi kita, jika tidak mau dibilang kurang cermat perhitungan, impor beras baru datang mendekati musim panen raya di dalam negeri, di saat harga beras sudah meroket. Sementara, di akhir Maret nanti petani justru bisa ikut menjadi korban karena harga gabah anjlok terpukul beras impor. Apalagi, produksi beras pada Maret diperkirakan lumayan besar, diprediksi akan ada suprlus 0,97 juta ton beras.

Namun, lagi-lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kebijakan impor gila-gilaan sudah diputuskan dan nyatanya tidak bisa menjadi obat di masa harga selangit sekarang ini. Dalam situasi seperti itu, pemerintah justru terlihat gagap menghadapinya. Sejak awal tahun hingga saat ini, pemerintah gagal mengendalikan harga beras.

Karena itu, tidak bisa tidak, pemerintah harus cepat melakukan langkah nyata menurunkan harga. Langkah solutif itu terutama mesti dilakukan dengan intervensi melalu beras program stabilisasi harga dan pasokan pangan (SPHP). Program ini sejak awal bertujuan untuk meredam laju kenaikan harga beras. Beras SPHP sebagian besar ialah beras impor, yang menurut Bulog setara dengan kualitas beras premium dalam negeri.

Celakanya, beras SPHP disebut pedagang-pedagang di pasar langka karena stoknya susah dan kerap langsung diserbu pembeli. Kelangkaan beras inilah yang ikut mengerek harga beras premium. BPS mencatat kenaikan harga beras terjadi di setidaknya 179 kabupaten/kota. Rata-rata harga beras kini menyentuh angka mencapai Rp14.380 per kilogram alias naik 2,92% dibandingkan Januari lalu. Di pasar, harganya bahkan sudah menyentuh Rp17.000 per kilogram.

Perum Bulog menyatakan saat ini total beras yang dikuasai sekitar 1,2 juta ton. Artinya, secara stok sebetulnya masih cukup aman. Dengan begitu, langkah nyata penstabilan harga beras semestinya dilakukan dengan pemaksimalan distribusi cadangan beras Bulog.

Tentu saja distribusi ini harus dilakukan dengan tepat dan diawasi ketat. Permainan kotor mafia beras dalam penyaluran beras premium/ SPHP Bulog harus diberantas. Jangan sampai praktik culas itu justru membuat jeritan rakyat makin kencang di saat Bulog dan pemerintah terus mengatakan bahwa stok beras aman.

Tidak hanya beras, pemerintah juga harus memiliki langkah nyata menstabilkan beragam komoditas pokok lainnya, termasuk cabai, daging ayam, dan telur. Serupa dengan beras, di saat musim panen masih menunggu beberapa bulan lagi, pemerintah harus benar-benar memastikan jalur distribusi petani ke pedagang lancar dan nihil permainan mafia.

Untuk langkah jangka panjangnya, jelas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian/perkebunan dan peternakan harus digenjot. Infrastruktur, sarana-sarana produksi, hingga penelitian bibit unggul harus menjadi prioritas ketimbang terus-terusan bergantung pada impor.

 



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.