Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH sekian lama tiarap, teroris kembali memamerkan aksi biadabnya. Manusia sesat itu kemarin meledakkan bom di depan pintu gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan.
Aksi teror tersebut diduga merupakan bom bunuh diri. Pelakunya diperkirakan berjumlah dua orang yang ditengarai anggota organisasi teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) atau Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Seperti yang kerap terjadi dalam aksi-aksi serupa sebelumnya, pelaku tewas bersama bom yang dia ledakkan.
Seperti aksi-aksi serupa sebelumnya, pelaku menyasar tempat ibadah yang tengah menggelar ibadah atau kantor polisi. Beruntung, kali ini pelaku salah perhitungan. Bom yang disandang keburu meledak sebelum keduanya memasuki kawasan gereja karena ditahan petugas keamanan.
Ketika bom meledak sekitar pukul 10.28 Wita, ibadah juga telah usai dan jemaat sudah pulang. Untungnya pula, pelaku tak menunda beberapa menit aksinya itu karena pada pukul 11.00 pihak gereja kembali menghelat misa lanjutan.
Karena itulah, tak ada ada korban jiwa kecuali pelaku yang tubuhnya hancur. Namun, beberapa orang mengalami luka-luka dan kita menyampaikan simpati kepada mereka.
Seperti aksi-aksi terdahulu, kita mengecam keras, sangat keras, terhadap pelaku dan jaringannya yang menghadirkan teror kali ini. Siapa pun pelakunya, mereka patut dikutuk. Dari mana pun asalnya, mereka ialah musuh kemanusiaan.
Aksi terorisme ialah tindakan keji yang mustahil dilakukan manusia berhati manusia. Hanya manusia berhati iblis atau iblis berwujud manusia yang tega menebar teror dengan menyasar sesama manusia yang sedang bersujud di hadapan Tuhan. Apalagi mereka masih saja membajak nilai-nilai suci agama sebagai pembenaran atas kesesatan yang dilakukan.
Teror di Makassar menyadarkan kepada kita semua bahwa teroris belum mati di negeri ini. Meski upaya gencar terus dilakukan aparat untuk membasmi mereka, para teroris nyata-nyata masih ada. Mereka, bahkan sangat dekat di sekitar kita, berbaur dengan kita, dan setiap saat bisa menghabisi kita.
Teror di Makassar ialah penegasan bahwa kita, terutama aparat keamanan dan lebih khusus lagi pihak intelijen, pantang lengah. Memang, sudah hampir dua tahun bangsa ini tak terusik ulah teroris sejak bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumatra Utara, pada 2019.
Namun, di balik ketenangan itu tersimpan ancaman yang menakutkan. Ancaman yang sewaktu-sewaktu dapat meledak menjadi teror yang mematikan. Teroris tahu betul kapan mesti beraksi. Mereka tidak peduli kendati bangsa ini sedang mati-matian berjuang melawan pandemi covid-19. Bagi mereka, yang penting tujuan sesat akibat ajaran dan doktrin sesat tercapai.
Pelaku dan dalang bom bunuh diri Makassar bisa jadi merasa berhasil memberikan pesan kepada kita bahwa jaringan teroris masih eksis. Bisa jadi mereka merasa sukses membalas dendam setelah puluhan anggota teroris dibekuk belakangan ini. Namun, kita tidak boleh takut.
Bom Makassar justru menjadi pengingat bahwa kendati energi bangsa ini tercurah guna mengatasi pandemi, bukan berarti kita boleh melupakan musuh besar lainnya, yakni terorisme. Pelaku bom bunuh diri Makassar boleh saja tewas, tetapi tugas aparat untuk mengungkap tuntas teror itu belum lunas.
Membongkar jaringan yang mengendalikan pelaku ialah keharusan. Jika dibiarkan, mereka akan terus memproduksi pengantin-pengantin baru untuk melakukan bom bunuh diri di kemudian hari.
Mencerabut akar terorisme juga menjadi keniscayaan. Intoleransi ialah bibit bagi radikalisme dan radikalisme merupakan cikal bakal terorisme. Jangan beri tempat sejengkal pun bagi keduanya tumbuh di Republik ini. Jangan biarkan pula ketidakadilan dan kemiskinan terus menjadi penyubur, agar terorisme tak lagi beregenerasi.
Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.
PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.
PERTENGAHAN minggu ini, satu lagi kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai berlaku. Mulai 21 Januari, Trump menghentikan proses visa dari 75 negara.
PASAR keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal bahaya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak pergantian tahun.
SECERCAH harapan tentang akan hadirnya undang-undang tentang perampasan aset kembali datang.
TATANAN dunia yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan antarnegara kini berada dalam ujian terberat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
POINT of no return, alias maju terus meski tantangan dan risiko yang akan dihadapi sangat besar.
KEBEBASAN berekspresi yang dilindungi oleh konstitusi menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini.
BELUM dua pekan menjalani 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah dua kali unjuk taring.
KABAR yang dinanti-nanti dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang penetapan tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 akhirnya datang juga.
HAKIM karier dan hakim ad hoc secara esensial memiliki beban dan tanggung jawab yang sama.
Meski berdalih memberikan rasa aman kepada jaksa, kehadiran tiga personel TNI itu justru membawa vibes intimidasi bagi masyarakat sipil di ruang sidang tersebut.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela bukan sekadar eskalasi konflik bilateral atau episode baru dari drama panjang Amerika Latin.
DI awal tahun ini, komitmen wakil rakyat dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi sejatinya dapat diukur dengan satu hal konkret
DALAM sebuah negara yang mengeklaim dirinya demokratis, perbedaan pendapat sesungguhnya merupakan keniscayaan.
REKONSTRUKSI dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara kembali menempatkan negara pada ujian penting.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved