Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
LEBARAN telah berlalu. Perayaan hari kemenangan Idul Fitri 1441 H sudah usai. Kemenangan Lebaran semestinya bisa kita maksimalkan sebagai bekal untuk meraih kemenangan-kemenangan berikutnya. Yang utama ialah kemenangan dalam peperangan menghadapi pandemi virus covid-19 yang kini masih menjadi ancaman terbesar bangsa ini.
Selepas Lebaran bukan berarti kita boleh melepas ikatan pengetatan, pun tak boleh mengendurkan tali kedisiplinan. Dari sisi mana pun, tidak ada alasan untuk kendur. Malah semestinya makin dikencangkan jika kita ingin sebaran wabah ini segera berakhir. Kedisplinan juga menjadi syarat mutlak untuk sebuah kehidupan new normal yang kita idam-idamkan pascapandemi.
Fakta bahwa di hari-hari menjelang Idul Fitri, tempo hari, telah terjadi pengenduran pengawasan dan ketidakdisiplinan memang tak bisa dimungkiri. Larangan mudik diakali, protokol kesehatan dilanggar, aturan untuk menghindari kerumunan dan selalu menjaga jarak ditabrak. Akibatnya, di hari-hari terakhir Ramadan lalu kita seperti sedang menonton drama memiriskan tentang ketidakacuhan masyarakat akan bahaya korona.
Selain fakta lapangan, data menunjukkan pola yang sama. Dalam 10 hari terakhir kenaikan kasus melesat cepat. Rekornya terjadi pada Kamis (21/5) dengan angka kenaikan harian positif covid-19 sebanyak 973 kasus. Meski demikian, dalam dua hari terakhir, terjadi penurunan kasus konfirmasi positif covid-19. Pada Senin (25/5), pasien terinfeksi virus korona hanya sebesar 479 orang.
Penyebaran coivid-19 pun semakin tak berpusat di Jakarta dan sekitarnya. Ditengarai, salah satu pemicunya ialah banyaknya pemudik yang sudah mencuri start dan menyebarkan virus itu ke daerah asal.
Jika sajian fakta dan data sudah dengan terang menunjukkan data belum stabil, masihkah kita bisa berkata ketidakdisiplinan tak lagi diperlukan? Masihkah kita menginginkan pelonggaran ketika justru si virus masih asyik berkeliaran?
Lebaran harus menjadi titik tumpu untuk membalikkan lagi kesadaran kita berdisiplin. Presiden Joko Widodo, pekan lalu, sudah dengan tegas menyatakan belum ada rencana pelonggaran dari sisi pemerintah. Itu semestinya menjadi pegangan bagi semua perangkat pemerintah, baik di pusat maupun daerah, untuk disiplin tidak memberi celah sekecil apa pun dalam aturan-aturan turunannya.
Di sisi yang lain, masyarakat pun mesti patuh. Terlalu naif bila pengalaman tentang buruknya kedisiplinan menjelang Lebaran lalu, dan semua akibat yang menyertainya, tak membuat kita sadar. Ikuti semua petunjuk petugas di lapangan, jangan sekali-kali melawan. Petugas jangan tunduk kepada kehendak pribadi orang per orang apa pun identitas yang disandangnya.
Jangan menunggu kita terpapar, baru kita percaya virus itu amatlah berbahaya dan kemudian menyesal kenapa tidak sedari awal berdisiplin.
Hentikan pula kebiasaan kita selalu menyalahkan pemerintah, sementara kita sebetulnya tak memiliki kesadaran untuk teguh menegakkan disiplin diri. Ibarat Indonesia sebuah kapal besar, masyarakat ialah penumpang dan pemerintah nakhodanya. Demi melewati gelombang besar bernama pandemi covid-19, semua mesti kompak, patuh, dan disiplin pada peran masing-masing.
Sekali lagi, pasca-Lebaran bukanlah saat untuk mengendurkan disiplin karena sesungguhnya virus korona tak kenal Hari Lebaran. Justru spirit kemenangan Lebaran akan semakin lengkap bila kita mampu mengekang nafsu ketidakdiplinan sehingga bangsa ini dapat mengenyahkan sebaran virus ini sesegera mungkin.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved