Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SERATUS hari memang bukan ukuran. Apalagi untuk menilai kinerja sebuah pemerintahan yang memiliki periode usia lima tahun atau kurang lebih sekitar 1.825 hari. Akan tetapi, dalam konteks evaluasi, 100 hari tetap penting. Jangankan 100 hari, satu minggu pun perlu dilakukan evaluasi karena evaluasi ialah cara yang sehat untuk mengukur.
Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan News Research Center (NRC) Media Group News, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin sejatinya mencatat kinerja 100 hari yang tak bagus-bagus amat. Tidak kinclong, begitu resume NRC menyebutnya. Secara keseluruhan, nilainya masih berada di level C+ (6,84).
Namun, sekali lagi, 100 hari bukanlah penentu baik atau buruk kinerja hingga lima tahun ke depan. Di negara-negara Barat yang 'menciptakan' kultur evaluasi 100 hari pun, hampir tidak ada pemerintahan yang langsung dapat mencetak rapor bagus di start awal. Artinya, tidak terlalu masalah bila nilainya cukup atau bahkan jelek, yang terpenting dalam waktu yang pendek itu pemerintah harus mampu mengakumulasi modal optimisme publik.
Dari sisi itu, menurut jajak pendapat NRC, duet Jokowi-Amin boleh dikatakan berhasil. Sebanyak 73% mengatakan optimistis dan hanya 27% pesimistis Jokowi dapat menakhodai Indonesia hingga akhir periodenya. Itu tentu saja modal amat berharga yang tidak boleh disia-siakan, pun tak boleh membuat terlena.
Yang namanya modal hendaknya didayagunakan dengan tepat dan cepat. Optimisme publik yang diwakili oleh optimisme narasumber jajak pendapat tersebut utamanya tumbuh dari sejumlah sektor yang memang memiliki prestasi nyata. Sepatutnya optimisme itu membuat Presiden semakin cepat mengayuh pedal kabinetnya demi menggapai prestasi dan pencapaian lain.
Optimisme mesti dirawat, apalagi di tengah optimisme itu menyeruak sejumlah sektor yang mungkin saja akan menjadi handycap pemerintahan Jokowi bila persoalan-persoalan di dalamnya tak segera dibereskan. Faktanya memang tak semua sektor atau kementerian di kabinet Jokowi punya kinerja yang membuat publik optimistis. Beberapa, menurut NRC, bahkan berapor merah.
Sektor hukum mungkin akan menjadi pekerjaan besar tersendiri buat pemerintah saat ini. Oleh pemerintah Jokowi-Amin saat ini, hukum seolah dilihat hanya sebatas regulasi. Terutama regulasi untuk memuluskan visi-misi pemerintah terkait dengan masalah investasi dan pembangunan infrastruktur.
Pada saat yang sama, penegakan hukum justru masih tertatih, makin terasa nuansa pengabaian terhadap masalah HAM, juga pemilihan orang-orang yang kurang tepat untuk mengisi jabatan di sektor hukum. Alasan-alasan itu sedikit banyak telah membuat publik menilai kepemimpinan Jokowi di bidang hukum masih jauh dari maksimal.
Pun di sektor yang lain. Kelautan, misalnya. Di periode sebelumnya, sektor kelautan direspons sangat optimistis. Namun, kini malah sebaliknya, optimisme publik anjlok karena ada sejumlah kebijakan yang dinilai kontroversial.
Dengan berbagai catatan merah itu, terjaganya optimisme publik akan menjadi bekal penting bagi Jokowi-Amin menaikkan nilai dalam rapor kinerja mereka di masa-masa mendatang. Ibarat tumbuhan, optimisme mesti dirawat, disiram, dan dipupuk agar terus bertumbuh. Sekali lupa menyiram, boleh jadi tumbuhan optimisme itu akan berubah menjadi hama pesimisme.
Cukuplah di 100 hari pertama saja mereka mendapatkan nilai C+. Selanjutnya, dengan modal optimisme publik yang menyokong mereka, tak ada alasan lagi untuk tidak 'naik kelas' dengan nilai B atau bahkan A.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved