Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Merayakan Keberagaman

25/1/2020 05:05

Bangsa Indonesia harus berterima kasih kepada Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid. Presiden Gus Dur, lewat Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, mengakui Konghucu sebagai agama.

Sejak saat itu, Konghucu menjadi agama resmi keenam setelah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Kebijakan itu makin mengukuhkan Gus Dur sebagai bapak pluralisme Indonesia.

Presiden ke-5 Megawati Soekarno Putri meneguhkan kebijakan pendahulunya dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Berkat kedua tokoh bangsa itu,kaum Tionghoa di Indonesia kini bebas mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka.

Keberagaman di negara yang punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika ini kian semarak.

Kini, sudah dua dekade Imlek bisa dirayakan dengan bebas di tempat terbuka. Pengekangan merayakan Imlek yang terjadi di era Orde Baru pun sudah lama sirna.

Sudah 20 tahun keberagaman benar-benar mendapatkan tempat mulai di bumi tercinta ini. Bukan cuma kalangan Tionghoa, kita yang bukan beretnis Tionghoa atau beragama Konghucu ternyata juga ikut merayakan keberagaman itu.

Warga dari berbagai etnis dan agama terlibat dalam penyelenggaraan perayaan Imlek. Di sejumlah daerah, warga dari lintas etnis maupun lintas agama terlibat aktif dalam perayaan Imlek. Mereka dengan sadar membantu saudara-saudara sebangsa dari etnis TIonghoa merayakan tahun baru.

Itu semua terang benderang menggambarkan betapa perayaan Imlek membuat kita semua melek, tidak buta, akan keberagaman bangsa ini. Kita mesti pandai mengelola dan merawatnya. Keberhasilan mengelola dan merawat keberagaman menjadikan kita bangsa yang sanggup melembagakan kemajemukan sebagai sumber untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain, bukan sebagai sumber pertikaian.

Bukan cuma merawat dan mengelola, kita bahkan semestinya terus meningkatkan keberagaman kita.
Harus kita katakan, keberagaman yang seharusnya menjadi berkah terkadang masih menjadi sumber masalah.

Belum semua anak bangsa menyadari bahwa negeri ini dibangun dari kemajemukan. Belum semua anak bangsa yang memahami bahwa kebhinekaan adalah suratan takdir yag harus diterima dan dijadikan bekal membangun kekuatan bangsa.

Teramat sering kita menyuarakan pentingnya keberagaman sebagai modal bagi Republik ini untuk menjadi bangsa yang besar. Tapi, tak jarang pula ada elemen yang tetap saja hendak menafikan keberagaman itu.

Tidak mudah memang membuat semua anak bangsa menjunjung tinggi kemajemukan. Tetapi, kita pantang menyerah untuk terus memantik kesadaran itu.

Perayakan Imlek kali pun harus kita jadikan momentum untuk terus menegaskan bahwa keberagaman adalah keniscayaan yang mustahil kita ingkari. Selamat merayakan Imlek, selamat merayakan keberagaman.



Berita Lainnya
  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik