Pantang Ciut Lawan Teror

Penulis: Media Indonesia Pada: Sabtu 12 Oktober 2019, 05:05 WIB Editorial MI

BANGSA ini tidak boleh gentar terhadap aksi terorisme meskipun pelaku teror telah menjangkau pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas politik, hukum, dan keamanan di Indonesia. Tujuan aksi terorisme memang untuk menciutkan nyali, membungkam rasa berani.

Itulah pesan yang tersirat dari pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa dirinya akan tetap melayani swafoto dengan rakyat saat blusukan meskipun ancaman teror tengah mengintai. Bukan Presiden menantang teroris, melainkan meneguhkan bahwa bangsa ini tidak boleh kalah melawan kebiadaban.

Seiring dengan sikap pantang kalah melawan terorisme, tentu diharapkan ada evaluasi keamanan bagi pejabat negara. Tanpa bermaksud menjauhkan dari rakyat, kewaspadaan tetap perlu. Dari kronologi penusukan yang beredar, tampak jelas pelaku bisa mendekat tanpa ada deteksi dini dari aparat terkait.

Pelaku teror telah mengubah strategi. Jika sebelumnya melakukan teror bom, kini menyerang langsung pejabat tinggi negara. Inilah peringatan bagi semua pihak agar tidak kehilangan kewaspadaan, lebih menguatkan keamanan dan pertahanan negara dari sekecil apa pun ancaman terorisme.

Polri mengungkap aksi penusukan terhadap Wiranto digerakkan motif dan inisiatif sendiri, tanpa garis komando, tanpa doktrinasi kolektif yang sistematis. Hanya karena merasa terancam akan tertangkap, pasalnya Pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi, Abu Zee, sebagai perekrutnya telah ditangkap.

Amaliah Abu Rara sifatnya spontan. Bahkan, sporadis karena sasaran amaliah dia ialah thogut, lembaga pemerintah atau aparat kepolisian. Abu Rara sebenarnya tidak mengetahui pejabat yang datang ialah Wiranto, yang penting targetnya pejabat pemerintah.

Senyatanya terorisme yang dilakukan secara individual itu ada dan sudah banyak terjadi di depan mata. Boleh jadi pergerakannya malah lebih berbahaya karena tidak gampang terdeteksi. Bahkan, karena gerakannya yang di luar struktur, dia mungkin sama sekali tidak terendus.

Hal itu tentu membutuhkan tingkat kewaspadaan dan kesigapan level tinggi dari seluruh elemen, terutama Polri sebagai ujung tombak pemberantasan terorisme. Kelengahan hanya akan berujung petaka, sesuai dengan tujuan para pelaku teror, yakni menebar malapetaka bagi bangsa ini.

Negara harus bertindak tegas dan mengambil langkah drastis atas aksi teroris ini. Perlu meneguhkan kembali perlawanan terhadap bibit-bibit terorisme, seperti intoleransi dan radikalisme. Jangan lagi hanya menyasar pelaku di lapangan.

Orang-orang yang mendukung terbuka dan tertutup harus diungkap serta diseret ke ranah hukum. Begitu juga mereka yang memprovokasi dan berlindung di balik kegiatan agama.

Agama mana pun pasti mengutuk perbuatan seperti itu. Celakanya, para pelaku mengatasnamakan agama untuk melancarkan aksi itu. Para pelaku merasa membela agama ketika melancarkan aksi mereka. Padahal, jelas aksi semacam itu justru menistakan agama.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More