Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Hukum Tuntas Penjahat Hutan

08/10/2019 05:00

KINI babak kedua dari perang melawan para penjahat hutan dan kemanusiaan telah dimulai lagi. Setelah kerja panjang, dan bahkan merenggut nyawa petugas pemadam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta kepolisian telah menetapkan tersangka pelaku kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepolisian menangani 196 kasus karhutla dan telah menetapkan 325 tersangka perorangan dan 11 tersangka korporasi di sejumlah wilayah. Adapun KLHK telah menyegel 64 perusahaan, baik luar negeri maupun lokal.

Sebanyak 20 di antaranya ialah perusahaan asing asal Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Ke-64 perusahaan itu berasal dari 47 unit perkebunan sawit, 13 unit hutan tanaman, 1 unit restorasi ekosistem, dan 3 unit hutan alam dengan luas total area yang terbakar mencapai 14.343 hektare.

Pada babak kedua inilah ketajaman hukum kita berikut kekuatan dalam menjalankan putusan wajib terwujud. Pengalaman kita yang lalu menunjukkan masih keoknya pengadilan dalam menghadapi para korporasi bejat.

Berdasarkan data KLHK, dari 17 gugatan perdata penegakan hukum karhutla, 9 di antaranya telah berkekuatan hukum tetap, dengan nilai gugatan mencapai Rp3,15 triliun. Namun, rasa kemenangan itu pupus seketika jika berkaca pada jumlah denda yang dibayarkan. Baru Rp79 miliar!

Realisasi sisanya pun makin membuat kita malu dan hilang harapan. Padanya kenyataannya, pengadilan seperti tidak punya kekuatan untuk menagih. Parahnya, ketika proses itu mandek, negara juga seperti tidak punya ketegasan untuk mendorong pemailitan perusahaan-perusahaan tersebut.

Babak kedua yang memalukan inilah yang tidak boleh terjadi lagi. Pengadilan tidak hanya harus menjatuhkan denda semaksimal mungkin, tetapi juga mampu menagihkan. Lalu, begitu gelagat buruk muncul dari perusahaan, pemailitan harus dilakukan.

Negara harus benar-benar sadar bahwa tidak boleh ada toleransi sedikit pun terhadap sederet korporasi itu. Justru, penindakan setengah hati hanya memberi mereka waktu untuk membuat petaka lebih besar.

Presiden sudah menugasi 32 kementerian dan lembaga serta gubernur sampai bupati di bawah supervisi langsung dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) untuk menanggulangi karhutla.

Penugasan itu tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Salah satu poin pentingnya ialah meningkatkan penegakan hukum dan memberikan sanksi yang tegas terhadap perorangan atau badan hukum yang terlibat karhutla.

Harus jujur diakui bahwa penegakan hukum yang dilakukan selama ini baru menunjukkan efek kejut saja, belum pada efek jera jangka panjang.

Perlu ada inovasi dan terobosan untuk memperkuat efek jera, antara lain dengan melibatkan pemerintah daerah dari gubernur hingga bupati atau wali kota. Mereka yang memberi izin kepada perusahaan, dan mestinya mereka pula yang bisa menggunakan wewenang dalam penegakan hukum melalui penghentian kegiatan, pembekuan, ataupun pencabutan izin.

Perangkat hukum untuk menjerat penjahat kehutanan dan kemanusiaan lebih dari memadai, dari UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 41/1999 tentang Kehutanan, UU 39/2014 tentang Perkebunan, hingga UU 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Para penjahat hendaknya tidak hanya dijerat dengan hukuman badan. Perusahaan pun bisa dimiskinan. Pasal 119 UU 32/2009 menyebutkan, terhadap badan usaha dapat dikenakan pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana, penutupan seluruh atau sebagian tempat usaha perusahaan.

Bisa beroperasinya lagi perusahaan yang sudah terjerat kasus sama ataupun kasus lahan lainnya juga menunjukkan dosa para pemimpin daerah sebab pada gubernur, bupati, atau wali kota itulah gerbang izin usaha berada. 

Tentunya sama sekali bukan pekerjaan sulit untuk memeriksa rekam jejak perusahaan-perusahaan sebelum memberikan izin perkebunan. Sebab itu, pantas pula para kepala daerah tersebut menjadi target utama kepolisian dan juga Komisi Pemberantasan Korupsi.
 



Berita Lainnya
  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.

  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.

  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.