Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Mengapa Kesehatan Reproduksi di Luar Angkasa Kini Jadi Isu Mendesak?

Thalatie K Yani
06/2/2026 10:17
Mengapa Kesehatan Reproduksi di Luar Angkasa Kini Jadi Isu Mendesak?
Seiring meningkatnya misi komersial ke luar angkasa, para ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan reproduksi yang terabaikan. Apakah manusia siap bereproduksi di orbit?(ational Aeronautics and Space Administration)

KETIKA perjalanan luar angkasa bergeser dari misi pemerintah yang langka menjadi rutinitas perjalanan komersial. Sebuah pertanyaan mulai mengemuka, bagaimana nasib kesehatan reproduksi manusia jauh dari Bumi?

Laporan terbaru dalam jurnal Reproductive BioMedicine Online menegaskan topik ini bukan lagi konsumsi fiksi ilmiah, melainkan sebuah kebutuhan praktis yang mendesak. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya warga sipil yang menghabiskan waktu lebih lama di orbit untuk bekerja maupun berwisata.

Dua Revolusi yang Bertabrakan

Ahli embriologi klinis, Giles Palmer, menyoroti adanya pertemuan dua tonggak sejarah besar manusia. "Lebih dari 50 tahun lalu, dua terobosan ilmiah mengubah apa yang dianggap mungkin secara biologis dan fisik, pendaratan pertama di Bulan dan bukti pertama fertilisasi in vitro (bayi tabung) pada manusia," ujarnya.

Kini, Palmer berpendapat kedua revolusi tersebut sedang bertabrakan. Luar angkasa kini menjadi destinasi sekaligus tempat kerja, sementara teknologi reproduksi bantuan telah menjadi sangat maju, otomatis, dan dapat diakses secara luas.

Kesenjangan Data dan Standar Etika

Fokus utama laporan ini bukanlah mendorong kehamilan di orbit, melainkan menyoroti minimnya data dan aturan yang jelas. Hingga saat ini, belum ada standar industri yang disepakati untuk mengelola risiko kesehatan reproduksi di antariksa.

Masalah yang membayangi meliputi risiko kehamilan dini yang tidak disengaja selama perjalanan, efek radiasi serta mikrogravitasi terhadap kesuburan, hingga batasan etika dalam penelitian. Luar angkasa tetaplah lingkungan yang "kejam" bagi biologi manusia karena paparan radiasi kosmik dan gangguan ritme sirkadian.

Meskipun data dari astronot perempuan era Shuttle menunjukkan tingkat kehamilan dan komplikasi yang serupa dengan perempuan di Bumi, data tersebut belum menjawab tantangan misi berdurasi panjang. Dampak radiasi kumulatif pada kesuburan pria pun masih menjadi "celah pengetahuan yang kritis."

Teknologi yang Melampaui Batas Bumi

Meskipun saat ini kehamilan menjadi larangan keras dalam penerbangan luar angkasa, kemajuan teknologi Assisted Reproductive Technologies (ART) mulai memungkinkan prosedur medis dilakukan di lingkungan ekstrem.

"Teknologi IVF di luar angkasa bukan lagi spekulasi murni. Ini adalah perpanjangan logis dari teknologi yang sudah ada," jelas Palmer. Ia menambahkan bahwa preservasi gamet, kultur embrio, dan skrining genetik kini sudah matang, portabel, dan semakin otomatis.

Mengakhiri "Titik Buta" Kebijakan

Para ahli memperingatkan teknologi cenderung masuk ke dunia nyata secara bertahap dan seringkali baru dibenarkan setelah praktiknya terjadi. Itulah sebabnya pagar pembatas hukum dan etika harus dibangun sekarang.

Dr. Fathi Karouia, ilmuwan riset NASA, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional. "Seiring dengan meluasnya kehadiran manusia di luar angkasa, kesehatan reproduksi tidak boleh lagi menjadi titik buta kebijakan. Kolaborasi internasional sangat mendesak untuk menutup celah pengetahuan dan menetapkan pedoman etika demi melindungi astronot profesional maupun pribadi," tegasnya.

Kesimpulannya, jika luar angkasa akan menjadi tempat kerja yang normal, maka kesehatan reproduksi memerlukan perencanaan, standar, dan etika yang setara dengan lingkungan kerja ekstrem lainnya di Bumi. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya