Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA perjalanan luar angkasa bergeser dari misi pemerintah yang langka menjadi rutinitas perjalanan komersial. Sebuah pertanyaan mulai mengemuka, bagaimana nasib kesehatan reproduksi manusia jauh dari Bumi?
Laporan terbaru dalam jurnal Reproductive BioMedicine Online menegaskan topik ini bukan lagi konsumsi fiksi ilmiah, melainkan sebuah kebutuhan praktis yang mendesak. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya warga sipil yang menghabiskan waktu lebih lama di orbit untuk bekerja maupun berwisata.
Ahli embriologi klinis, Giles Palmer, menyoroti adanya pertemuan dua tonggak sejarah besar manusia. "Lebih dari 50 tahun lalu, dua terobosan ilmiah mengubah apa yang dianggap mungkin secara biologis dan fisik, pendaratan pertama di Bulan dan bukti pertama fertilisasi in vitro (bayi tabung) pada manusia," ujarnya.
Kini, Palmer berpendapat kedua revolusi tersebut sedang bertabrakan. Luar angkasa kini menjadi destinasi sekaligus tempat kerja, sementara teknologi reproduksi bantuan telah menjadi sangat maju, otomatis, dan dapat diakses secara luas.
Fokus utama laporan ini bukanlah mendorong kehamilan di orbit, melainkan menyoroti minimnya data dan aturan yang jelas. Hingga saat ini, belum ada standar industri yang disepakati untuk mengelola risiko kesehatan reproduksi di antariksa.
Masalah yang membayangi meliputi risiko kehamilan dini yang tidak disengaja selama perjalanan, efek radiasi serta mikrogravitasi terhadap kesuburan, hingga batasan etika dalam penelitian. Luar angkasa tetaplah lingkungan yang "kejam" bagi biologi manusia karena paparan radiasi kosmik dan gangguan ritme sirkadian.
Meskipun data dari astronot perempuan era Shuttle menunjukkan tingkat kehamilan dan komplikasi yang serupa dengan perempuan di Bumi, data tersebut belum menjawab tantangan misi berdurasi panjang. Dampak radiasi kumulatif pada kesuburan pria pun masih menjadi "celah pengetahuan yang kritis."
Meskipun saat ini kehamilan menjadi larangan keras dalam penerbangan luar angkasa, kemajuan teknologi Assisted Reproductive Technologies (ART) mulai memungkinkan prosedur medis dilakukan di lingkungan ekstrem.
"Teknologi IVF di luar angkasa bukan lagi spekulasi murni. Ini adalah perpanjangan logis dari teknologi yang sudah ada," jelas Palmer. Ia menambahkan bahwa preservasi gamet, kultur embrio, dan skrining genetik kini sudah matang, portabel, dan semakin otomatis.
Para ahli memperingatkan teknologi cenderung masuk ke dunia nyata secara bertahap dan seringkali baru dibenarkan setelah praktiknya terjadi. Itulah sebabnya pagar pembatas hukum dan etika harus dibangun sekarang.
Dr. Fathi Karouia, ilmuwan riset NASA, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional. "Seiring dengan meluasnya kehadiran manusia di luar angkasa, kesehatan reproduksi tidak boleh lagi menjadi titik buta kebijakan. Kolaborasi internasional sangat mendesak untuk menutup celah pengetahuan dan menetapkan pedoman etika demi melindungi astronot profesional maupun pribadi," tegasnya.
Kesimpulannya, jika luar angkasa akan menjadi tempat kerja yang normal, maka kesehatan reproduksi memerlukan perencanaan, standar, dan etika yang setara dengan lingkungan kerja ekstrem lainnya di Bumi. (Earth/Z-2)
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
NASA laksanakan evakuasi medis pertama dalam sejarah ISS.
NASA merilis foto luar biasa kolaborasi James Webb dan Chandra. Dua galaksi, IC 2163 dan NGC 2207, tertangkap sedang memulai proses tabrakan dahsyat.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Sejumlah astronom menemukan cadangan air terbesar yang pernah diketahui di alam semesta. Lautan ini ditemukan di sebuah quasar raksasa yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Membedong kaki dengan tujuan meluruskan struktur tulang tidak memiliki dasar medis.
Pemilihan alas kaki seharusnya mengutamakan kenyamanan anak di atas fungsi korektif yang belum tentu diperlukan.
Seiring bertambahnya usia kehamilan, ukuran bayi yang semakin besar akan memberikan tekanan mekanis pada pembuluh darah di sekitar panggul.
Bidan menjadi garda terdepan yang memastikan perempuan mendapatkan layanan kesehatan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi dan balita.
Banyak yang mengira masa remaja adalah fase pertumbuhan tercepat manusia. Ternyata, bayi tumbuh jauh lebih pesat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved