Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Fenomena Langka: Komet Tiba-tiba Balik Arah setelah Mendekati Matahari

Abi Rama
21/2/2026 11:30
Fenomena Langka: Komet Tiba-tiba Balik Arah setelah Mendekati Matahari
Ilustrasi.(freepik)

SEBUAH komet yang melintasi Tata Surya mengejutkan para astronom setelah menunjukkan perilaku yang belum pernah diamati sebelumnya. Komet bernama 41P/Tuttle-Giacobini-Kresak dilaporkan mengalami perlambatan rotasi ekstrem hingga diduga berhenti total, sebelum akhirnya berbalik arah setelah mendekati Matahari.

Fenomena ini terjadi saat komet tersebut mencapai titik terdekatnya dengan Matahari pada tahun 2017. 41P sendiri memiliki periode orbit sekitar 5,4 tahun.

Melambat Drastis dalam Hitungan Minggu

Pengamatan pada Maret 2017 menunjukkan bahwa komet ini berotasi setiap sekitar 20 jam. Namun, hanya dalam dua bulan, tepatnya pada Mei 2025, periode rotasinya melambat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 53 jam untuk satu putaran.

Perubahan ini dinilai sangat ekstrem. Sebagai perbandingan, komet 103P/Hartley 2 hanya melambat dari 17 jam menjadi 19 jam dalam kurun 90 hari.

“Sebaliknya, 41P melambat lebih dari 10 kali lipat dalam waktu hanya 60 hari. Baik besarnya perubahan maupun kecepatannya adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” ujar astronom Dennis Bodewits dari University of Maryland, Amerika Serikat pada 2018.

Sempat Berhenti, Lalu Berbalik Arah

Pada Desember 2017, periode rotasi komet justru tercatat memendek menjadi 14,4 jam.

Menurut astronom David Jewitt dari University of California, Los Angeles, satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa rotasi komet sempat melambat hingga nol sekitar Juni 2017, lalu kembali berputar dalam arah sebaliknya.

Kesimpulan tersebut diperoleh dengan menganalisis kurva cahaya (_light curve_) komet serta menggabungkannya dengan estimasi ukuran terbaru berdasarkan data arsip dari Hubble Space Telescope. Model perhitungan hanya bisa cocok jika diasumsikan bahwa rotasinya benar-benar berhenti sebelum berbalik arah.

Meski demikian, pengukuran kurva cahaya hanya dapat menunjukkan kecepatan rotasi, bukan arah putarannya secara langsung.

Secara teori, perubahan ini sebenarnya dapat dijelaskan. Komet adalah gumpalan rapuh yang tersusun dari es dan batuan. Saat mendekati Matahari, es di permukaannya mengalami sublimasi atau berubah langsung dari padat menjadi gas. Gas yang menyembur keluar dalam bentuk jet dan geyser ini menghasilkan torsi atau gaya puntir pada inti komet.

Jika semburan tersebut terjadi tidak merata, maka gaya yang dihasilkan bisa memperlambat, mempercepat, bahkan membalikkan arah rotasi komet.

Ukuran 41P yang hanya sekitar satu kilometer atau setara panjang 10 lapangan sepak bola membuatnya sangat rentan terhadap efek ini. Inti yang kecil lebih mudah terdorong oleh semburan gas dibandingkan komet berukuran besar.

“Perubahan cepat yang teramati merupakan konsekuensi alami dari torsi akibat gas yang menguap dan bekerja pada inti yang sangat kecil,” tulis Jewitt dalam makalah pra-publikasinya.

Hancur dalam Beberapa Dekade

Jewitt juga memperkirakan, jika perubahan rotasi ini terus berlanjut seperti yang terjadi pada 2017, 41P berpotensi berputar terlalu cepat hingga akhirnya terpecah dalam beberapa dekade mendatang.

Komet sendiri merupakan sisa-sisa pembentukan awal Tata Surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Meski rapuh dan terus mengalami perubahan akibat interaksi dengan Matahari, benda-benda ini tetap bertahan hingga sekarang.

Perubahan drastis yang dialami 41P dalam beberapa dekade terakhir memunculkan dugaan bahwa ia mungkin hanyalah fragmen dari komet yang jauh lebih besar. Seiring waktu, paparan panas Matahari perlahan mengikis massanya, menyisakan inti kecil yang kini semakin tidak stabil. (Science Alert/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya