Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM dunia sains, kecepatan publikasi adalah mata uang utama. Namun, sebuah laporan terbaru mengungkapkan adanya hambatan sistemis bagi ilmuwan perempuan. Artikel penelitian yang ditulis perempuan di bidang biomedis dan ilmu hayati ditemukan menghabiskan waktu lebih lama dalam proses peer-review dibandingkan makalah serupa yang ditulis laki-laki.
Penelitian yang dilakukan tim dari University of Nevada, Reno (UNR) ini menganalisis jutaan makalah ilmiah. Temuan mereka menunjukkan keterlambatan ini terjadi tepat pada titik krusial di mana karya yang diterbitkan menentukan akses terhadap pekerjaan, pendanaan, dan kenaikan jabatan.
Tim UNR mengukur durasi antara pengiriman naskah (submission) hingga penerimaan (acceptance). Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten:
Dr. David Alvarez-Ponce, profesor di UNR, menyatakan temuan ini adalah bukti nyata adanya ketimpangan.
"Kami memberikan bukti mutlak bahwa artikel yang ditulis oleh perempuan cenderung menghabiskan waktu lebih lama dalam proses peninjauan dibandingkan artikel yang ditulis oleh laki-laki," tegas Dr. Alvarez-Ponce.
Meskipun selisih satu atau dua minggu terlihat kecil, dampaknya bersifat kumulatif. Bagi seorang peneliti yang menerbitkan 50 makalah sepanjang kariernya, akumulasi keterlambatan ini bisa mencapai 350 hingga 750 hari.
Penundaan ini menghambat produktivitas karena proyek baru sering kali bergantung pada hasil penelitian sebelumnya yang telah diterima agar bisa mendapatkan kucuran dana atau kolaborasi baru.
Menariknya, data dari 145 jurnal menunjukkan tingkat penolakan naskah tidak secara konsisten lebih keras terhadap perempuan. Hal ini menunjukkan adanya pola yang lebih halus. Makalah karya perempuan tetap diterima, namun mereka harus melewati proses yang lebih panjang untuk sampai ke sana.
Keterlambatan ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari editor yang lebih sulit mencari peninjau (reviewer) yang bersedia, hingga permintaan eksperimen tambahan yang menguras waktu dan sumber daya.
Selain gender, faktor ekonomi wilayah juga berpengaruh. Peneliti dari negara berpendapatan rendah menghadapi waktu tunggu median hingga 122 hari, menunjukkan hambatan ekonomi bisa memperparah hambatan gender yang sudah ada.
Meski demikian, ada harapan. Beberapa bidang seperti biofisika, biologi molekuler, dan genetika menunjukkan waktu tunggu yang lebih singkat bagi perempuan. Hal ini memberi sinyal adanya kebijakan tertentu di bidang tersebut yang layak dicontoh.
Beberapa solusi yang diusulkan antara lain penerapan double-blind peer review (menyembunyikan identitas penulis), transparansi timestamp pada setiap tahapan keputusan, hingga audit terhadap proses revisi. Dengan mengubah hambatan tersembunyi ini menjadi target yang terukur, dunia sains diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih adil bagi semua peneliti. Studi lengkap ini telah diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology. (Earth/Z-2)
Para astronom menjelaskan bahwa gerhana Matahari bukanlah peristiwa acak, melainkan fenomena yang dapat diprediksi secara ilmiah melalui perhitungan orbit Bulan dan Bumi.
Panduan Aman Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
Para ahli astronomi mengingatkan masyarakat untuk tidak melihat gerhana secara langsung dengan mata telanjang, karena dapat membahayakan kesehatan mata
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Setelah miliaran tahun, JADES-ID1 akan berevolusi dari protogugus menjadi gugus galaksi masif seperti yang kita lihat jauh lebih dekat dengan Bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved