Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Ilmuwan Perempuan Hadapi Waktu Peer-Review Lebih Lama

Thalatie K Yani
06/2/2026 09:24
Ilmuwan Perempuan Hadapi Waktu Peer-Review Lebih Lama
Ilustrasi(freepik)

DALAM dunia sains, kecepatan publikasi adalah mata uang utama. Namun, sebuah laporan terbaru mengungkapkan adanya hambatan sistemis bagi ilmuwan perempuan. Artikel penelitian yang ditulis perempuan di bidang biomedis dan ilmu hayati ditemukan menghabiskan waktu lebih lama dalam proses peer-review dibandingkan makalah serupa yang ditulis laki-laki.

Penelitian yang dilakukan tim dari University of Nevada, Reno (UNR) ini menganalisis jutaan makalah ilmiah. Temuan mereka menunjukkan keterlambatan ini terjadi tepat pada titik krusial di mana karya yang diterbitkan menentukan akses terhadap pekerjaan, pendanaan, dan kenaikan jabatan.

Kesenjangan Waktu yang Nyata

Tim UNR mengukur durasi antara pengiriman naskah (submission) hingga penerimaan (acceptance). Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten:

  • Penulis Pertama: Median waktu tinjauan meningkat dari 94 hari (laki-laki) menjadi 101 hari (perempuan).
  • Penulis Korespondensi: Selisihnya lebih lebar, yakni 102 hari untuk laki-laki berbanding 115 hari untuk perempuan, selisih hampir dua minggu.

Dr. David Alvarez-Ponce, profesor di UNR, menyatakan temuan ini adalah bukti nyata adanya ketimpangan.

"Kami memberikan bukti mutlak bahwa artikel yang ditulis oleh perempuan cenderung menghabiskan waktu lebih lama dalam proses peninjauan dibandingkan artikel yang ditulis oleh laki-laki," tegas Dr. Alvarez-Ponce.

Dampak Kumulatif Terhadap Karier

Meskipun selisih satu atau dua minggu terlihat kecil, dampaknya bersifat kumulatif. Bagi seorang peneliti yang menerbitkan 50 makalah sepanjang kariernya, akumulasi keterlambatan ini bisa mencapai 350 hingga 750 hari.

Penundaan ini menghambat produktivitas karena proyek baru sering kali bergantung pada hasil penelitian sebelumnya yang telah diterima agar bisa mendapatkan kucuran dana atau kolaborasi baru.

Di Mana Bias Terjadi?

Menariknya, data dari 145 jurnal menunjukkan tingkat penolakan naskah tidak secara konsisten lebih keras terhadap perempuan. Hal ini menunjukkan adanya pola yang lebih halus. Makalah karya perempuan tetap diterima, namun mereka harus melewati proses yang lebih panjang untuk sampai ke sana.

Keterlambatan ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari editor yang lebih sulit mencari peninjau (reviewer) yang bersedia, hingga permintaan eksperimen tambahan yang menguras waktu dan sumber daya.

Pengaruh Geografi dan Solusi Kedepan

Selain gender, faktor ekonomi wilayah juga berpengaruh. Peneliti dari negara berpendapatan rendah menghadapi waktu tunggu median hingga 122 hari, menunjukkan  hambatan ekonomi bisa memperparah hambatan gender yang sudah ada.

Meski demikian, ada harapan. Beberapa bidang seperti biofisika, biologi molekuler, dan genetika menunjukkan waktu tunggu yang lebih singkat bagi perempuan. Hal ini memberi sinyal adanya kebijakan tertentu di bidang tersebut yang layak dicontoh.

Beberapa solusi yang diusulkan antara lain penerapan double-blind peer review (menyembunyikan identitas penulis), transparansi timestamp pada setiap tahapan keputusan, hingga audit terhadap proses revisi. Dengan mengubah hambatan tersembunyi ini menjadi target yang terukur, dunia sains diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih adil bagi semua peneliti. Studi lengkap ini telah diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya