Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Memahami Gumoh pada Bayi: Kapan Orangtua Harus Mulai Waspada?

Basuki Eka Purnama
05/2/2026 22:18
Memahami Gumoh pada Bayi: Kapan Orangtua Harus Mulai Waspada?
Ilustrasi(Pexels)

FENOMENA gumoh atau regurgitasi pada bayi sering kali menjadi sumber kecemasan bagi orangtua, terutama jika terjadi secara berulang. 

Namun, secara medis, kondisi ini umumnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang bayi pada enam bulan pertama kehidupan. Hal ini menjadi bahasan utama dalam Media Gathering & Health Talk yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro di Jakarta, Rabu (4/2).

Fenomena Happy Spitter

Secara klinis, regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) adalah kondisi fisiologis yang wajar. 

Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan. 

Seiring bertambahnya usia, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya hingga bayi berusia satu tahun.

Bayi dalam kategori normal ini sering disebut sebagai happy spitter. 

"Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang," jelas Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K). 

Selama bayi tetap ceria, menyusu dengan baik, dan berat badannya naik sesuai usia, gumoh tidak memerlukan pengobatan khusus.

Mengenal Tanda Bahaya 

Orangtua perlu membedakan gumoh biasa dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yang prevalensinya hanya sekitar 3%–8% namun memerlukan penanganan serius. 

GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan terlalu sering sehingga memicu peradangan (esofagitis).

Prof. Badriul menekankan pentingnya mendeteksi tanda bahaya. 

"GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, regurgitasi bercampur darah, nyeri hebat, atau gangguan neurologis," tegasnya. 

Jika tidak ditangani, GERD dapat menyebabkan komplikasi seperti anemia hingga gangguan kualitas hidup anak.

Langkah Penanganan Awal

Menariknya, penanganan awal untuk gumoh normal tidak langsung menggunakan obat-obatan. Langkah yang direkomendasikan bersifat nonfarmakologis, meliputi:

  • Melanjutkan pemberian ASI eksklusif.
  • Menghindari pemberian susu berlebihan (*overfeeding*).
  • Mengatur posisi bayi secara tepat setelah menyusu.
  • Melakukan evaluasi cermat untuk menyingkirkan kemungkinan lain, seperti alergi protein susu sapi.

Chief Executive Officer RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari, MARS, menyatakan bahwa edukasi berbasis bukti ilmiah sangat penting agar orangtua tidak terjebak dalam kecemasan berlebihan. 

Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan orang tua dapat lebih bijak dalam menyikapi kondisi sang buah hati. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik