Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
MISI gabungan European Space Agency (ESA) dan NASA berhasil melacak aliran elektron berkecepatan tinggi. Temuan ini didapatkan melalui wahana antariksa Solar Orbiter.
Penelitian ini menemukan elektron-elektron tersebut dikenal sebagai Solar Energetic Electrons (SEEs). SEEs berasal dari dua jenis ledakan matahari yang berbeda.
Solar Orbiter mendeteksi SEEs di luar angkasa setelah mereka dipercepat. Diketahui mencapai energi yang sangat tinggi. Melalui pengamatan ini, peneliti berhasil menelusuri sumbernya.
Didapatkan dua kelompok utama elektron supercepat dengan asal-usul berbeda. Kelompok pertama berhubungan dengan ledakan kecil pada permukaan Matahari. Ini dikenal sebagai solar flare. Kedua, berasal dari letusan plasma besar yang disebut coronal mass ejections (CMEs).
Meskipun para ilmuwan sudah lama mengetahui adanya dua kelompok utama SEEs. Pengamatan dari Solar Orbiter untuk pertama kalinya memungkinkan untuk memastikan perbedaan asal-usulnya.
Menurut Alexander Warmuth, peneliti dari Leibniz Institute for Astrophysics Postdam (AIP) sekaligus pemimpin penelitian ini mengatakan, “Dengan mendekat ke Matahari, kami bisa mengukur partikel-partikel ini dalam kondisi awal yang masih ‘murni’, sehingga waktu dan lokasi pelepasan mereka dapat ditentukan dengan sangat akurat,” katanya.
Pengamatan Solar Orbiter mengatakan, sering kali ada jeda waktu antara ledakan solar flare atau CME. Hal ini terdeteksi dari SEEs yang berada di luar angkasa.
Menurut Laura Rodriguez-García, peneliti ESA, jeda ini setidaknya disebabkan oleh cara elektron bergerak melewati antariksa. “Kadang-kadang keterlambatan itu berasal dari proses pelepasan, tapi bisa juga karena proses deteksi,” jelasnya.
Selain itu, perjalanan elektron juga dipengaruhi angin matahari. Aliran partikel bermuatan keluar terus-menerus dari Matahari dan membawa medan magnetiknya. Karena SEEs merupakan partikel bermuatan, jalur pergerakannya dibelokkan. Dan juga tersebar oleh medan magnet, serta interaksi dengan angin matahari.
Hasil penelitian ini menunjukkan revolusionernya misi Solar Orbiter dalam mempelajari Matahari dan lingkungannya. Serta memberikan wawasan penting tentang cuaca antariksa dan dampak terhadap teknologi di Bumi.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional. Keberhasilan ini dicapai berkat kolaborasi erat antara para ilmuwan Eropa, tim instrumen dari berbagai negara anggota ESA, serta kolega dari Amerika Serikat.
Untuk kedepannya, pemahaman tentang fenomena ini akan berkembang dengan peluncuran misi baru. Termasuk misi SMILE 2026, yang bertujuan mempelajari interaksi angin matahari dengan magnetosfer Bumi.
Selain itu, pada 2031, ESA juga akan meluncurkan misi Vigil. Guna memantau sisi Matahari yang menghadap jauh dari Bumi. Diluncurkan untuk mendeteksi potensi ledakan besar sebelum arahnya berbalik menuju Bumi.
Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1 September di jurnal Astronomy & Astrophysics. Diperkirakan akan menjadi salah satu referensi penting dalam memahami proses kompleks. Melihat apa yang terjadi di Matahari serta dampaknya terhadap lingkungan antariksa di Bumi. (Space/Z-2)
Satelit Copernicus Sentinel-2 menangkap pemandangan indah pegunungan Alpen dan lokasi venue Olimpiade Milano-Cortina 2026 dari ruang angkasa.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Tim riset Eropa kembangkan sistem tiga robot otonom untuk memetakan terowongan lava di Bulan dan Mars sebagai perlindungan alami bagi penjelajah manusia.
Ilmuwan gunakan AI 'AnomalyMatch' untuk menyisir 1.7 juta foto teleskop Hubble. Hasilnya, ditemukan ribuan anomali galaksi unik mirip ubur-ubur hingga hamburger.
Astronom berhasil mengungkap pemicu ledakan dahsyat di Matahari melalui misi Solar Orbiter. Ternyata, solar flare dipicu oleh rangkaian gangguan magnetik kecil.
Astronom memprediksi hujan meteor dahsyat di Venus pada Juli mendatang. Berasal dari pecahan asteroid misterius, mungkinkah terlihat dari Bumi?
Melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Ilmuwan temukan cara melacak jalur jatuh sampah antariksa menggunakan sensor seismik monitor gempa. Metode ini diklaim lebih akurat dibanding radar tradisional.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved