Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BERBICARA tentang planet bercincin, yang terlintas di benak kita ialah planet Saturnus. Ternyata Saturnus bukan satu-satunya planet di tata surya yang memiliki cincin. Jadi, planet mana sajakah di tata surya yang memiliki cincin?
Ternyata ada empat planet yang memiliki cincin, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Selain itu, ada planet kerdil Haumea dan asteroid Chariklo. Namun, apakah kita bisa melihat cincin-cincin ini dari Bumi tergantung pada bahan pembentuknya.
Dari kejauhan, cincin planet mungkin tampak kokoh dan padat. Namun sebenarnya cincin-cincin ini terdiri dari potongan kecil es dan batuan yang mengorbit planet.
"Cincin sebagian besar terbuat dari es dan batu kecil," kata William Saunders, ilmuwan planet di NASA Langley Research Center. "Cincin Saturnus sebagian besar terbuat dari es, cincin Jupiter sebagian besar dari debu, sedangkan cincin Uranus dan Neptunus terdiri dari keduanya."
Cincin yang terbuat dari debu tampak jauh lebih redup dibanding cincin es, sehingga lebih sulit untuk dilihat dari Bumi.
Bahan pembentuk cincin juga sebagian bergantung pada letak planet di tata surya. Di bagian luar tata surya, suhu cukup dingin untuk memungkinkan es terbentuk. Tapi jika misalnya Bumi memiliki cincin, maka cincin itu tidak akan terbuat dari es, karena Bumi terlalu dekat dengan Matahari dan es tidak akan bertahan dalam bentuk beku di angkasa.
Bulan-bulan suatu planet juga dapat memengaruhi sistem cincin. Misalnya, Jupiter memang memiliki cincin seperti raksasa gas lainnya, tetapi cincin Jupiter lebih kecil dan lebih redup dibandingkan cincin Saturnus. Hal ini karena kehadiran beberapa bulan besar Jupiter (terutama satelit Galilea: Io, Europa, Ganymede, dan Callisto) mengganggu stabilitas cincin besar dengan gaya gravitasinya.
Ada beberapa cara sebuah planet bisa mendapatkan cincin. Salah satunya, jika suatu objek besar menabrak sebuah planet, tabrakan tersebut bisa menghancurkan sebagian planet dan benda penabrak, lalu serpihannya, karena pengaruh gravitasi, tidak langsung terbang menjauh ke luar angkasa, melainkan mengorbit planet dan membentuk cincin.
Alternatif lain, sebuah planet bisa “melahap” bulan miliknya untuk membentuk cincin. Jika bulan terlalu dekat dengan planet induknya, gravitasi planet bisa menghancurkan bulan tersebut, dan sisa-sisanya menjadi cincin.
Cincin juga bisa terbentuk saat planet menangkap objek yang melintas dekat, seperti asteroid yang masuk ke dalam pengaruh gravitasi planet tersebut.
Para astronom masih memiliki banyak pertanyaan tentang cincin-cincin planet. Kita belum tahu secara pasti dari mana asal cincin Saturnus, dan mengapa setiap planet memiliki sistem cincin yang sangat berbeda. Cincin Uranus, khususnya, menyimpan teka-teki menarik.
"Kami berpikir bahwa cincin Uranus akan tidak stabil tanpa adanya bulan-bulan kecil penggembala (shepherd moons), tetapi bulan-bulan itu belum kita temukan," kata Saunders. "Itulah salah satu alasan mengapa kita perlu mengirim pengorbit ke Uranus!"
Berbeda dari cincin berlian, cincin planet tidak bertahan selamanya. Para ilmuwan memperkirakan cincin Saturnus suatu hari akan menghilang, karena serpihan penyusunnya akan jatuh ke atmosfer Saturnus. Namun, peristiwa itu masih lama terjadi.
"Kita masih punya ratusan juta tahun untuk menikmati keindahannya," kata Saunders. "Tapi hal itu membuat saya merasa betapa beruntungnya kita hidup di masa ketika Saturnus memiliki cincin yang indah, beku, dan terlihat jelas." (Live Science/Z-2)
Ternyata NASA dan sejumlah mitra internasional memberikan petunjuk tentang bagaimana cincin Saturnus bisa terbentuk.
Studi terbaru NASA mengungkap Bulan Titan milik Saturnus kemungkinan menyimpan "es berlumpur" yang bisa menjadi habitat mikro bagi kehidupan.
Ilmuwan menemukan aliran panas berlebih di kutub utara Enceladus, bulan Saturnus.
Fenomena Supermoon akan terlihat Rabu, 5 November 2025. Planetarium Jakarta ajak warga menikmati piknik malam dan pengamatan Bulan serta Saturnus gratis di TIM.
Penelitian laboratorium terbaru menunjukkan bahwa sebagian molekul organik di semburan es Saturnus, Enceladus, mungkin terbentuk akibat radiasi alami.
Ilmuwan menemukan senyawa baru di bulan Saturnus, Titan, yang melanggar aturan dasar kimia.
Penelitian baru mengungkapkan bahwa kita sebenarnya hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi di dalam planet-planet ini, sehingga para peneliti mengusulkan agar Uranus dan Neptunus
Penelitian terbaru menantang pandangan lama tentang Uranus dan Neptunus sebagai “raksasa es”.
Objek trans-Neptunian 2020 VN40 ditemukan bergerak selaras dengan Neptunus dalam pola orbit yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Para astronom menemukan titik inframerah yang dicurigai sebagai kandidat Planet Sembilan di luar orbit Neptunus.
Penelitian terbaru mengungkap hujan berlian di Uranus dan Neptunus terbentuk pada kedalaman yang lebih dangkal dari dugaan sebelumnya dan berperan pembentukan medan magnet planet.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved